
"Pelit sekali si Erlon itu," desis Erlan sambil menoleh ke arah Aldo. "Aku cuma melihat wajah Ana, sampai segitunya si songong." Erlan terlihat kesal karena ia merasa Erlon tidak mengerti perasaannya yang saat ini sedang merindukan almarhum pujaan hatinya. Karena baginya melihat wajah Ana itu sudah bisa mengobati sedikit rasa rindunya yang selama ini menumpuk di dalam hatinya. "Menurutmu apa Erlon terlalu berlebihan?"
Aldo menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar sebelum mulai menjawab, "Tuan, wajar saja tuan Erlon begitu karena Anda menatap nyonya Ana sampai segitunya." Aldo tidak habis pikir dengan Erlan yang mengatakan kalau Erlon pelit.
"Aku hanya melihatnya Aldo tidak lebih!" gerutu Erlan. "Jika kamu berada di posisiku maka kamu pasti akan melakukan hal yang sama," sambungnya lagi.
"Begini saja, jika Anda ingin puas melihat nyonya Ana, pastikan tuan Erlon tidak ada di mansion." Aldo mengangkat kedua alisnya. "Dan saya menyatakan, tidak akan sanggup berada di posisi Anda. Karena ditinggalkan oleh orang yang kita sayang itu suatu hal yang sangat berat."
"Apa katamu?" tanya Erlan tiba-tiba. ternyata dari tadi ia tidak menghiraukan ucapan Aldo. Dikarenakan ia melihat Alra sedang duduk berduaan dengan laki-laki yang tidak bisa ia lihat wajahnya dengan jelas.
"Tuan, apa Anda tidak mendengar kata-kata saya yang panjang kali lebar tadi?" Aldo melambaikan tangannya beberapa kali ke wajah Erlan. Sehingga membuat Erlan menepis tangannya secara kasar. "Aduh, tangan Anda membuat tangan saya sekali tuan." Aldo memegang tangannya karena tadi Erlan menepisnya cukup kasar.
"Diamlah, aku sedang melihat Alra entah sama siapa dia." Erlan terus saja melihat ke arah Alra. "Bukankah tadi Danesh bilang kalau Alra ada di mansion, tapi kenapa kita malah ketemu Alra di sini."
"Nona Alra dimana? Kenapa saya tidak melihatnya?" Aldo celingak celinguk mencari keberadaan Alra.
"Meja dengan nomor 20, tempat paling ujung," jawab Erlan sambil menahan kepala Aldo agar berhenti celingak celinguk. "Jangan menoleh sekarang, karena posisi Alra sedang menghadap sini. Jangan sampai dia tahu kalau kita sedang memperhatikannya."
"Kalau begitu, bagaimana saya bisa tau tuan? Kalau memang benar itu nona Alra." Saat itu juga Aldo mendapat jitakan dari Erlan. "Aduh, ada apa lagi tuan? Apa saya salah bicara?"
"Itu memang benar Alra," kata Erlan yang berdiri berniat ingin menghampiri Alra. Namun, tiba-tiba saja seorang pelayan yang membawa minuman menabraknya dari belakang.
Carang … . gelas itu jatuh dan langsung pecah, seketika tatapan semua pengunjung mengarah pada Erlan dan pelayan itu.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya tidak sengaja," ucap pelayan itu menunduk sambil membersihkan jas Erlan menggunakan tangannya. "Sekali lagi maaf tu—"
"Singkirkan tangan kotormu dari jas mahalku," potong Erlan cepat.
Pelayan itu mundur beberapa langkah setelah mendengar ucapan Erlan. "Tuan, saya benar-benar tidak sengaja."
Tangan kekar Erlan mendorong bahu pelayan itu sampai jatuh dan berkata, "Alena Khanza, anak dari laki-laki terkutuk itu!" Sorot mata Erlan yang tadi begitu teduh kini berubah menjadi merah menyala. "Pasti sifatmu tidak jauh beda dengan si brengsek itu."
Iya, ternyata itu Alena gadis yang terpaksa menjadi pelayan dadakan di sana akibat ia tidak bisa membayar makanan yang telah ia makan dikarenakan ia lupa membawa dompet.
"Apa maksud Anda tuan?" Alena berdiri dan langsung menunjuk wajah Erlan. "Aku sudah meminta maaf secara baik-baik, tapi kenapa Anda malah berkata begitu?"
Erlan hampir saja mencekik leher Alena jika saja Aldo tidak cepat menahan tangannya. "Mari tuan, kita pulang saja. Dan buat Anda maaf nona. Tuan saya saat ini sedang sakit."
"Lepaskan tanganku Aldo!" Erlan terlihat semakin marah.
Alena melongo sambil menurunkan tangannya yang menunjuk Erlan tadi. "Lain kali, kalau bos Anda sakit." Alena menggaris alisnya secara miring. "Jangan ajak makan di keramaian seperti ini, kurung saja bos Anda jika tidak ingin kejadian yang sama terjadi."
Tangan Erlan terkepal kuat di bawah sana mendengar mulut lancang Alena. "Kamu yang gila, dasar keluarga pembawa sial!" geram Erlan yang langsung pergi dari sana.
Sedangkan Alra ternyata sudah pergi dari tadi, karena ia mengira kalau yang ada di cafe itu adalah Erlon.
*
__ADS_1
*
"Kenapa kamu menghalangiku membunuhnya Aldo?" Erlan membanting apa saja yang ia temukan di dalam kamar.
"Bermainlah secara cantik tuan, jangan pernah kotori tangan Anda dengan darah dari anak musuh Anda." Aldo mencoba menenangkan Erlan. Supaya Erlan tidak menghancurkan semua yang ada di kamar itu.
"Tidak bisa Aldo, aku harus membunuhnya supaya si brengsek itu tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang!" Suara Erlan melengking. "Tapi kamu malah menghalangiku." Erlan mengambil vas bunga untuk melempar Aldo. Tapi tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya menaruh kembali vas bunga itu.
"Kak Erlan, apa kakak baik-baik saja?" tanya Ana dari luar kamar Erlan. Ia tidak tahu kalau di dalam ada Aldo. "Kak Erlan, tolong buka pintunya." Ana terus saja menggedor pintu itu sambil memamanggil nama Erlan. Ia benar-benar takut kalau sesuatu terjadi pada Erlan.
Erlan mengatur nafasnya sebelum membuka pintu, Entah mengapa hanya dengan mendengar Ana memanggil namanya ia merasa suasana hatinya yang tadi dongkol kini secepat kilat moodnya kembali lagi. ia juga merasa senang saat mendengar nada suara Ana yang mengkhawatirkan dirinya.
"Kak Er—"
Pintu terbuka bersamaan dengan kalimat Ana yang menggantung. "Kakak baik-baik saja." Erlan tersenyum.
Ana bernafas lega setelah mendengar jawaban Erlan, dan melihat wajah cerianya. "Apa kakak benar baik-baik saja?"
"Iya, seperti yang Ana lihat saat ini." Erlan meraih tangan Ana. Dan meletakkannya di dadanya. "Raga kakak baik-baik saja, tapi hati ini sedang dalam masalah besar."
Ana menarik tangannya, ia takut Erlon melihatnya. Bisa-bisa ia akan mendapat hukuman lebih dari yang semalam. "Maaf kak, tolong kakak jangan asal pegang tangan Ana."
"Tidakkah kamu kasihan melihat kakak." Erlan menunduk sendu. "Pria yang depresi selama 19 tahun." Erlan meraih tangan Ana lagi. "Hanya dengan melihat wajahmu rasa rinduku pada Aurora sedikit terobati."
__ADS_1
Sudut mata Ana mulai berair, ia jadi tidak tega menepis tangan Erlan lagi. "Kak, Ana cuma takut anak-anak dan Erlon menjadi salah pah—"
"Apa-apaan ini, kenapa kalian terlihat seperti pasangan kekasih?" tanya Erlon yang baru datang dan raut wajah yang terlihat marah.