Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Pagi Yang Panas


__ADS_3

Erlan dengan buru-buru menutup laptop dan bergegas menuju kamar karena mendengar Aurora berteriak histeris, ia takut ada sesuatu yang terjadi.


Kebetulan ruang kerja Erlan bersebelahan dengan kamarnya jadi ia tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kamar. "Aurora apa yang terjadi?" tanya Erlan yang melihat Aurora sedang duduk di lantai sambil menangis. "Aurora ada apa?" Erlan bertanya sekali lagi dengan suara yang lembut.


"A-aku, hanya mimpi buruk Erlan," jawab Aurora yang melihat sekeliling untuk memastikan apakah Morgan ada di sana atau sudah pergi. Tapi lagi-lagi Morgan menghilang, seperti di rumah sakit waktu itu.


"Mimpi buruk? Lalu kenapa kamu bisa berada di lantai, yang jaraknya dua meter dari ranjang?" Erlan menunggu jawaban Aurora untuk pertanyaannya yang ini.


"Aku, jatuh dari ranjang karena ada yang menarik kakiku."


Erlan menghela nafas, di usapnya rambut Aurora. Ia mengangkat tubuh Aurora yang sangat ringan. Merebahkan Aurora ke atas kasur tak lupa ia mencium kening Aurora.


"Apa kamu sedang berhalusinasi?" Erlan melihat Aurora menggeleng. "Lalu, siapa yang sudah menarik kakimu?" Erlan ingin tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi. "Apa kamu tidak mau berterus terang?" Erlan merebahkan diri di sebelah Aurora.


"Tidurlah, aku tidak akan pernah lagi membiarkanmu tidur sendirian." Hembusan nafas Erlan hangat, ia menyembunyikan tubuh Aurora di dalam selimut. "Aku ada disini Aurora." Erlan menarik Aurora dalam dekapan.


"Erlan, mungkin penunggu rumah ini yang melakukan itu, apa kamu percaya kepadaku?" Setelah lama diam akhirnya Aurora membuka suara, "Kamu percaya hal mistis?"


Erlan hanya menghela nafas dan tersenyum kecut. "Ya, aku percaya. Apapun yang keluar dari mulutmu, meski itu terdengar sedikit aneh," suara lembut Erlan berusaha percaya dengan apa yang dikatakan Aurora.


Aurora mendesis. "Kamu terdengar mengejekku Erlan, aku serius tadi ada yang me—"


"Aku percaya," potong Erlan cepat. "Mungkin setanya ingin bermain-main denganmu." Sudut bibir Erlan tertarik sedikit. Ia mengusap bibir Aurora dengan jempolnya. "Supaya setannya tidak mengganggumu lagi sini aku transfer kekuatan." Erlan mengangkat kepala dan mengubah posisi jadi setengah duduk.


"Erlan, kamu mau apa?"


"Ingin nengok dedek bayi, apa itu tidak boleh?" Erlan memajukan wajah dan memiringkan kepala, tepat saat satu centi bibirnya hendak mendarat di bibir Aurora.


Aurora segera memalingkan wajahnya ke samping. "Aku belum siap Erlan, jangan sentuh aku dulu," rengek Aurora.


Erlan memundurkan wajah. "Baiklah, aku tunggu sampai kamu siap menerimaku." Wajah Erlan terlihat berubah murung.

__ADS_1


"Erlan, maksudku bukan begitu." Aurora merasa bersalah.


Maaf Erlan, tidak mungkin aku memberitahumu kalau Morgan telah menyadap CCTV yang ada di rumah ini.


Erlan dengan santai membalikan tubuhnya membekangai Aurora setelah mendapat penolakan. "Maaf … ."


"Erlan, hadap sini." Mata bulat Aurora berkaca-kaca, giginya bergemeletuk sambil memeluk selimut di dadanya.


Erlan masih betah dengan posisi berbaring membelakangi Aurora. "Hem … ."


Aurora menggeser posisinya sehingga tubuhnya menempel sempurna di punggung Erlan. Dengan malu-malu ia melingkarkan tangan ke perut sang suami. "Tuan Erlan yang baik hati," bisiknya ke telinga Erlan. "Aku mau kita honeymoon ke negara A, apa kamu tidak keberatan?"


Erlan menjawab, "Kita berangkat besok pagi." Diluar dugaan Erlan menuruti permintaan Aurora tanpa banyak bicara.


*


*


Aurora yang masih sangat ngantuk menarik selimut. "Erlan, sepertinya ini masih terlalu pagi," suara Aurora serak. "Jangan marah, nanti wajahmu jadi keriput."


"Aurora, apa kamu lupa dengan janjimu yang semalam?" tanya Erlan yang melihat jam di pergelangan tangannya. "Sudah jam 05:25, ayolah Aurora apa kamu tidak kasihan sama adik kecilku?"


Perkataan Erlan membuat mata Aurora terbuka lebar, rasa ngantuk yang tadi langsung hilang begitu saja. Tangannya mencengkram selimut dengan gusar. "Apa maksudmu dengan adik kecil?" Aurora berpura-pura tidak tahu.


Bukannya menjawab jemari Erlan malah menyingkap piyama dress yang dikenakan Aurora, membuat wajah Aurora memerah.


"Sekarang, aku mau itu. Sudah terlalu lama aku menunggu momen ini," suara Erlan paru karena menahan sesuatu, Erlan mulai membenamkan wajah di kedua benda kenyal Aurora sebelum itu, ia tadi melepas BH Aurora dengan sangat mudah tanpa hambatan padahal Aurora adalah wanita pertama yang ia sentuh.


Jemari Aurora mencengkram rambut Erlan yang tengah menelusuri bagian dada, Erlan menyeringai kala menyadari ekspresi Aurora yang seakan meminta diperlakukan lebih.


Namun, secara tiba-tiba Erlan menghentikan segalanya saat Aurora sudah merasa melayang ke angkasa. Seketika Aurora tersadar. "Apa begini saja kemampuanmu?" Aurora tanpa sadar mengatakan itu.

__ADS_1


"Sudahlah Aurora, bukankah cara ku memaksa sangat tidak enak?" Erlan menutup kembali dua benda kenyal milik Aurora, yang tadi sempat ia buka. "Maaf tadi aku begitu lancang."


Tangan Aurora yang nakal malah meraba di balik celana Erlan. "Aku sudah siap."


Sepasang mata Erlan terpejam menahan sensasi dari sentuhan yang diberikan Aurora.


Sedangkan Aurora seolah lupa dengan apa yang dikatakan Morgan, ia menganggap omongan Morgan hanya menggeretaknya saja. "Lakukan tugasmu." Aurora menghisap jari telunjuknya. "Aku serahkan tubuhku ini mulai dari rambut hingga ujung kaki."


Erlan yang merasa mendapat lampu hijau, melakukan aksinya, dan pagi itu pun menjadi pagi terpanas bagi sejoli yang di mabuk cinta.


*


*


Di negara Italia, pria dengan topeng besi sedang duduk sambil meneguk sebotol anggur merah. Ia menyalakan layar tipis di ruangan pribadinya, cuplikan di monitor tersebut berganti-ganti dari kamar yang terekam seisi rumah Erlan, halaman depan lalu berganti-ganti setiap tempat mencari keberadaan sang pujaan hati yang ia tinggalkan sendiri di tengah-tengah kerumunan orang-orang jahat.


Tak lama ia menghela nafas, di dekatnya


bibir ke mic kecil yang tergenggam di tangannya. "Ledakan salah satu mobil yang ada di kediaman Pak Erwin." Satu perintah di sebutkan saat itu juga terdengar suara ledakan yang amat dahsyat dari benda kecil yang menempel di telinganya. "Luar biasa, kerja bagus." Ia tersenyum kecil. "Bawa si cacat itu masuk!" serunya.


Tubuh Firman dihempaskan ke bawah kaki tuan bertopeng besi. "Firman Edward, putra dari Erwin?" tanyanya.


Firman menggeleng dia rupanya ingin membohongi pria bertopeng besi ini. "Bukan!"


"Satu kali kebohongan, maka kamu harus menerima dua kali hantaman."


Tubuh Firman si cacat kembali dibanting, punggungnya kelu ia meringis kesakitan. "Siapa kau? Yang berani memperlakukan aku seperti ini? Kau tau papa ku akan sangat mur—" Firman terdiam karena kepalanya dibenturkan ke lantai.


"Kenalkan aku Almer, yang bertugas membuat umurmu lebih pendek." Ia mengambil sebuah alat yang akan digunakan untuk menanam peledak di dalam tubuh Firman.


"Almer? Nama itu sepertinya tidak asing di telingaku." Firman berpikir. "Erlon!!" serunya, setelah berhasil mengingat nama panjang Erlon.

__ADS_1


Apa ada yang kangen dengan sosok psycopathnya?


__ADS_2