
Saat Aurora sedang berdiri untuk melihat pemandangan dari kaca jendela, tiba-tiba sebuah tangan kekar menutup matanya. Ia diam beberapa saat untuk menghirup aroma parfum yang sepertinya wanginya tidak asing di indra penciumannya. Hingga empat detik, tepat di detik kelima Aurora berbalik dan menyingkirkan tangan yang menutup matanya.
"Hai sayang, gimana kabar anak kita?" tanya laki-laki itu sambil tersenyum.
Aurora tidak percaya melihat Morgan berdiri di depannya. "Dasar bajingan!" pekik Aurora bersamaan dengan tangannya yang terangkat ingin menampar Morgan tapi dengan siaga Morgan menangkap tangannya. "Brengsek, pergi kamu dari hadapanku, aku muak melihat wajah menyebalkan mu itu. Bedebah!!" Aurora terlihat sangat marah.
"Jangan marah-marah sayang, apa kamu lupa saat ini anak yang kamu kandung adalah darah dagingku." Morgan mengambil buket bunga yang tadi ia bawa di atas bad.
"Keluar!! Anak yang kukandung bukan anakmu, melainkan anak Erlan!" pekik Aurora.
"Siapa yang ingin kamu bohongi Araku sayang, aku yang menanam benih kenapa malah si cupu itu yang kamu akui sebagai ayah dari calon anak kita." Morgan berlutut memberikan Aurora buket bunga itu. "Bercerilah dengannya, dan mari kita besarkan anak kita sama-sama."
Aurora semakin meradang mendengar ucapan Morgan, ia lalu mendorongnya.
"Aku bilang keluar! Laki-laki biadab!" Aurora berjalan ke arah pintu ia bermaksud ingin meminta bantuan. Membiarkan Morgan yang masih berlutut.
"Kembali Ara sayang, sebelum kesabaranku habis." Morgan kembali berdiri. "Aku datang dengan baik-baik, ingin melihat keadaanmu dan bayi kita. Kenapa kamu sangat egois." Morgan mendekati Aurora lagi.
"Siapapun di luar, tolong buka pintunya!" Aurora menggedor pintu. "Buka! Buka … ." Aurora beralih menggedor jendela yang memiliki tralis itu.
"Buang-buang tenaga, percuma sayang. Tidak akan ada yang mendengarmu." Morgan meraih kedua tangan Aurora, supaya berhenti untuk mengebor kaca dan jendela. "Bersikaplah baik kepadaku, karena keselamatan adikmu Ana ada pada ku."
"Aku tidak mudah percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut busukmu Morgan." Aurora melihat Morgan menyunggingkan senyum. "Aku minta berhenti mengusik hidupku, biarkan aku bahagia dengan Erlan. Apa belum puas kamu nyakitin aku."
__ADS_1
Morgan menyentuh perut Aurora. "Sayang sekali. Nak, Aunty kamu harus menderita gara-gara sifat keras kepala Mama kamu." Morgan mundur beberapa langkah karena Aurora mendorongnya. "Bagaimana bisa aku melupakanmu sayang, di saat aku sudah berhasil membuatmu hamil." Morgan memperlihatkan rekaman di benda pipihnya di mana Ana sedang menangis tersedu-sedu ingin keluar dari kamar Morgan. "Masih belum percaya?"
Aurora ingin merebut ponsel Morgan ia ingin memastikan bahwa itu benar-benar Ana atau bukan. "Jangan coba-coba menipuku Morgan, Ana saat ini sedang bulan madu bersama Erlon di Bali." Aurora berhasil merebut ponsel itu, ia bisa melihat Ana dengan jelas.
"Itu CCTV di kamar kita sayang, lihatlah dengan kedua bola mata indahmu." Morgan memeluk Aurora dari belakang lalu meletakkan dagunya di pundak. "Ya, begini. Kita berdua seperti pasangan romantis di luar sana."
Aurora membeku setelah melihat kalau itu benar-benar Ana, sehingga ia membiarkan Morgan memeluk dan bersandar di pundaknya. "Jangan sakiti adikku, Morgan!"
"Hanya dengan satu cara, biarkan aku berperan sebagai kekasih gelapmu meski itu hanya di belakang," lirih Morgan.
Ketukan pintu membuat Aurora dan Morgan menoleh. "Erlan, tol–" Morgan menutup mulut Aurora. "Aku juga bisa membunuh si cupu itu dengan mudah, turuti keinginanku supaya orang-orang yang kamu sayangi baik-baik saja." Morgan berlari ke arah kamar mandi.
Tak lama pintu itu terbuka terlihat Erlan datang dengan membawa buket bunga yang sama seperti Morgan tadi. "Sore, calon Mama muda," seloroh Erlan yang baru datang. "Kenapa diam, apa ada yang terjadi." Erlan melihat Aurora hanya menatap kamar mandi. "Apa ada orang di sana?
Erlan mencubit pipi Aurora. "Baiklah tuan Putriku." Erlan lalu menggandeng tangan Aurora. "Apa sudah tidak mual lagi?" tanyanya.
Aurora mengangguk. "Ayo kita pulang." Saat ini ia memikirkan tentang Ana. "Hm, kapan Erlon dan Ana akan pulang bulan madu?"
"Aku kurang tahu, karena kemarin Erlon mengirim pesan, memintaku untuk jangan menghubunginya lagi, katanya mau berduaan tanpa ada yang menganggu." Erlan tidak tahu kalau yang mengirim pesan itu adalah Morgan bukan Erlon. "Maklumlah, pengantin lama. Kamu kayak enggak tau saja."
"Owh, gitu. Tapi apa kamu yakin yang kirim pesan itu Erlon?" Aurora melihat Erlan menyipitkan mata. "Ma-maksudku, apa Erlon yang mengirim pesan atau Ana?"
"Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikan tulisannya." Erlan melangkah ingin masuk ke kamar mandi. "Aku cuci tangan dulu, kamu tunggu sebentar."
__ADS_1
"Erlan, aku sangat lapar, nanti saja cuci tangannya. Kebetulan aku ingin sekali makan bakso." Aurora menarik tangan Erlan, supaya tidak masuk ke kamar mandi.
"Sebentar saja, oke." Erlan sebenarnya curiga dari tadi, karena Aurora terus saja melihat ke arah kamar mandi, makanya ia mencari alasan supaya bisa masuk ke sana. Untuk memastikan bahwa di sana tidak ada siapa-siapa.
"Erlan, disana ada bekas muntahanku tadi, nanti kamu merasa jijik." Aurora tidak mau Erlan sampai menemukan Morgan. Bisa-bisa Ana akan semakin dalam bahaya karena ia tahu gimana liciknya seorang Morgan.
"Tidak apa-apa, biar nanti aku yang bersihkan." Erlan tetap berjalan meski tangan Aurora masih memengang tangannya. Erlan sudah siap akan membuka pintu kamar mandi.
"Erlan … ." Aurora mememanggil Erlan, tapi ia memejamkan matanya. "Mataku kelilipan, ah … perih sekali."
Erlan tetap membuka pintu kamar mandi, tapi ia tidak menemukan apa-apa di sana. "Sini masuk, cuci mukamu supaya depu yang masuk ke matamu ke—."
"Sudah tidak apa-apa Erlan, sepertinya debu yang masuk tadi sudah tidak ada," potong Aurora cepat. Ia lalu bernafas lega ketika melihat Morgan sudah tidak ada di sana lagi.
Pergi kemana bedebah itu, kenapa dia bisa menghilang. Secepat itu, gumam Aurora.
Erlan mencuci tangannya di temani Aurora sambil celingak celinguk. "Aurora, kamu dari tadi terlihat gelisah apa ada sesuatu yang aku tidak tahu?"
"Aku, sedang memikirkan Ana. Entah mengapa aku tiba-tiba saja sangat merindukan sodara kembarku itu," kata Aurora yang benar apa adanya.
"Apa kamu mau kita susul mereka?" Erlan mengajak Aurora untuk pergi ke Bali. "Biar aku urus keberangkatan kita hari ini."
"Tidak usah Erlan, kita tunggu saja samapai mereka pulang. Lagi pula mereka sudah bilangkan tidak ingin di ganggu dulu." Tepat setelah Aurora mengatkan itu terdengar suara kaca pecah.
__ADS_1
Craangg … .