Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Erlan Menerima Aurora Apa Adanya


__ADS_3

Erlan langsung saja bertanya, setelah melihat Aurora sudah sadar. "Bagaimana bisa kamu hamil anak orang? Erlan berusaha mengatur nafasnya yang kini sedang naik turun.


"Maafkan aku Erlan." Aurora meremas selimut yang saat ini menutupi setengah tubuhnya. Dan ternyata ia sudah tahu bahwa dirinya sedang mengandung sejak satu minggu yang lalu.


"Kenapa kamu tega melakukan ini pada ku Aurora." Erlan menatap tajam Aurora yang saat ini sedang menangis. "Apa kamu tidak memikirkan perasaan ku, bukankah selama ini kamu terus saja menjaga jarak dariku. Lalu kenapa kamu bisa hamil!"


Aurora hanya bisa menangis, karena ia tidak bisa membela dirinya.


"Kenapa kamu malah melakukan ini dibelakangku, Aurora jawab aku siapa ayah dari anak itu?" Erlan semakin mendekati ranjang Aurora. "Jawab aku, apa kamu tidak mendengarku? Katakan siapa laki-laki brengsek itu?"


"Apa yang Anda lakukan Tuan, istri Anda ketakutan apa Anda tidak melihatnya menangis," ucapan suster yang baru datang itu tidak di hiraukan Erlan.


"Aku mohon, gugurkan saja bayi ini!" teriak Aurora yang membuat Erlan begitu terkejut.


"Ah, shitt!!" umpat Erlan.


"Aku tidak menginginkan bayi ini, lenyapkan saja dia." Aurora memukul-mukul perutnya beberapa kali.


"Aku sangat kecewa, padamu Aurora. Kenapa ini semua harus terjadi." Erlan berbalik ingin pergi meninggalkan Aurora. "Sepertinya alam semesta, tidak ingin melihat kita bersama lagi."


"Jangan tinggalkan aku Erlan, aku mohon … ." Aurora masih saja memukul perutnya.


"Erlan, bantu aku untuk melenyapkan anak ini." Aurora tahu kalau anak yang dikandungnya itu adalah anak Morgan karena satu minggu yang lalu juga, Morgan mengirim Video waktu dirinya pingsan di dekat Erlan saat itu pula Morgan melakukan aksi bejatnya. Sehingga bisa membuat Aurora hamil.


"Kamu keluar!!" teriak Erlan menunjuk suster itu, yang diam saja di sana. "Keluar, jangan membuatku menghabisimu disini," ancam Erlan.

__ADS_1


Suster itu, ketakutan karena yang ia tahu Erlan terkenal sangat baik dan kalem. Tapi saat ini Erlan terlihat berbeda. "Ba-baik, sa-saya permisi." Suster itu keluar tanpa berani menatap wajah Erlan lagi.


"Aurora, tahukah kamu aku sangat mencintaimu sangat mencintaimu." Erlan mengambil sebuah kalung dari saku jasnya. "Itu yang akan aku ucapkan, ketika aku berhasil mengajak kamu jalan-jalan ke luar Negeri, tapi sekarang itu cuma khayalan." Erlan berbalik dan memberi Aurora kalung itu. "Aku harap kamu akan bahagia." Erlan mencium kening Aurora. "Tolong jaga dan rawat bayi ini, dia tidak berdosa. Jangan lampiaskan kemarahanmu padanya."


Aurora menggeleng, ia baru menyadari kalau Erlan ternyata benar-benar laki-laki yang baik. "Erlan, jika kamu meninggalkan aku, maka aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga." Aurora melepas kabel oksigen dan juga infusnya.


"Apa yang kamu lakukan Aurora." Erlan yang merasa Aurora hanya menggeretaknya saja membiarkan Aurora melakukan itu.


"Untuk apa aku hidup, jika orang yang aku cintai akan pergi meninggalkan aku sendiri," ucap Aurora yang merasa tujuan hidupnya sudah tidak ada. "Aku tidak sanggup jika harus berpisah darimu Erlan." Aurora naik ke atas jendela. "Maaf, aku tidak bisa menjadi istri yang baik." Saat Aurora akan melompat Erlan dengan cepat memeluk pinggang Aurora. "Biarkan aku mati Erlan, sudah cukup aku menderita." Aurora memukul tangan Erlan.


"Aurora, jangan lakukan ini. Bagaimana dengan Ana jika dia tahu kalau kamu ingin mengakhiri hidupmu, apa kamu tidak kasihan melihatnya." Erlan berusaha membujuk Aurora agar turun. "Jika kita tidak bersama lagi, setidaknya kita bisa menjadi teman."


"Tidak!! Erlan." Aurora memberontak. Ia semakin ingin mengakhiri hidupnya. Di saat Erlan mengatakan mereka bisa jadi teman. "Biarkan aku mati, sungguh aku tidak sanggup melihatmu bahagia bersama wanita lain."


"Kita bicarakan ini baik-baik, kamu turun dulu." Erlan akan mencoba menerima anak yang ada dalam kandungan Aurora meskipun itu bukan darah dagingnya sendiri. "Aurora! Darah … ." Erlan kembali melihat darah yang mengalir di kaki Aurora.


"Mari kita besarkan anak ini sama-sama." Erlan mengatakan itu karena ia tidak tega melihat Aurora menyakiti dirinya sendiri. "Aku serius, aku akan menganggap dia seperti anakku sendiri." Erlan melihat Aurora sudah tidak memberontak lagi dengan sangat hati-hati ia menurunkan Aurora.


Tepat setelah turun, tubuh Aurora kembali lemas dan ia jatuh pingsan tepat di dada bidang Erlan.


*


*


Dua hari berlalu begitu cepat, Aurora saat ini sedang duduk di kursi roda. Didorong oleh Erlan seperti dulu saat pertama kali mereka bertemu. Namun, saat ini berbeda jika dulu keduanya saling membenci sekarang mereka terlihat saling menyayangi satu sama lain. Setelah kejadian dua hari yang lalu ketika Erlan mengatakan ia akan menerima Aurora dengan bayi yang dikandung. Aurora merasa Erlan memang laki-laki yang tepat dikirim untuknya sebagai calon ayah dari anak-anaknya.

__ADS_1


"Disini saja, di sana terlalu banyak orang," kata Erlan.


Aurora tersenyum, sungguh ia tidak menyangka Erlan akan mau menerimanya meski saat ini ia sedang berbadan dua. "Apa kamu gak ke kantor?" tanya Aurora yang melihat Erlan tidak memakai jas.


"Nanti siang, sekarang aku ingin nemenin kamu dulu di sini." Erlan mengambil ikat rambut di pergelangan tangan Aurora. "Apa anak kita baik-baik saja di dalam?" Erlan lalu mengikat rambut Aurora. "Kasihan dia pasti lapar, kamu mulai sekarang makan yang banyak. Ya, supaya perutmu ini cepat besar." Erlan tidak tahu saja, ucapannya membuat Aurora menangis. "Kenapa jadi cengeng begini, apa si dedek nyakitin kamu di dalam sini?" Erlan menunjuk perut datar Aurora.


Air mata Aurora semakin deras mengalir. "Maaf … ." Lagi-lagi hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.


"Sttt … cukup, aku sudah memaafkan kamu. Sekarang tugas kamu cuma jaga calon anak kita, sampai dia lahir nanti. Oke." Erlan tahu saat ini mood Aurora mudah berubah-ubah, seperti kemarin Aurora memarahi Erlan karena membeli banyak sekali baju bayi malah dia yang menangis sampai matanya sembab.


"Erlan, aku janji tidak akan membuatmu kecewa untuk yang kedua kalinya." Aurora mencium tangan Erlan. "Aku janji."


Erlan mengelus rambut Aurora. "Bahagiamu adalah bahagiaku." Erlan menunduk lalu mencium kening Aurora. "Namun, sedihmu adalah sedihku juga," sambungnya.


"Erlan, aku sayang kamu." Setelah mengatakan itu Aurora menunduk malu.


Erlan pura-pura tidak mendengarnya. "Coba ulangi sekali lagi, aku tidak mendengarnya," kata Erlan sambil mendekatkan telinganya ke bibir Aurora. "Ayolah, aku tidak mendengarnya tadi. Ulangi satu kali lagi," pinta Erlan.


"I miss you," bisik Aurora yang membuat darahnya berdesir, begitupun jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


"Aurora, sepertinya aku terkena serangan jantung. Karena jantungku tidak biasanya berdetak seheboh ini," ucapan Erlan membuat Aurora yang tadi malu-malu kini berani menatap wajah Erlan. "Kenapa pipimu merah Aurora, apa kamu demam?"


"Aku demam cinta," jawab Aurora sambil tertawa kencang.


Cie … jangan baper ya, maklumi dua sejoli ini sedang mabuk cinta.😉

__ADS_1


Ayuza mau kasih tahu, kalau mulai hari ini bakal up dua bab sekaligus. Maka dari itu Ayuza minta dukungannya ya … .


__ADS_2