Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Sebuah Kejutan


__ADS_3

Mata Ana berbinar-binar, karena saat pertama kali membuka mata ia melihat lukisan fotonya dan Bimo sewaktu kecil sedang tertawa bersama. Tapi senyum manisnya memudar di saat melihat sebuah tangan kekar dan berotot memegang tangannya. Ia mengira itu Morgan kemudian dengan cepat ia menarik tangannya. Dan berkata, "Siapa kamu?"


Bimo tersenyum melihat Ana yang ternyata tidak bisa mengenali dirinya. "Aku Bimo, Ana. Apa kamu tidak bisa mengenali kakak?" Bimo ingin meraih tangan Ana. Tapi Ana mengibaskan tangan. "Kenapa, ini kakak Ana, lihat wajah kakak baik-baik adik manis."


Ana duduk sambil memeluk luututnya. "Kak Bimo yang ku kenal, tubuhnya gemoy dan memakai kacamata." Ana menunjuk foto di dinding. "Seperti di foto itu, kamu jangan mengaku-ngaku sebagai kak Bimo." Ana menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Lihat aku Ana," pinta Bimo dengan suara lirihnya. "Aku merubah penampilanku demi kamu." Bimo menunduk lesu. "Supaya aku pantas bersanding dengan kamu, tapi apa yang aku dapat malah kenyataan yang pahit. Ternyata kamu sudah menikah."


Ana menggeleng kuat. "Menjauh dariku!" seru Ana yang melihat Bimo semakin mendekatinya. "Kamu bukan kak Bimo."


"Aku yang telah menyelamatkan mu dari si gila Morgan, apa kamu tidak mau hanya sekedar berterima kasih kepadaku?" Tiba-tiba sorot mata gelap Bimo menjadi tajam. "Sudah sejak lama aku menaruh rasa padamu." Kulit wajah Bimo yang putih menajdi merah. "Namun, beginikah balasanmu Ana, sungguh aku sangat kecewa."


"Menjauh!!" teriak Ana, akan tetapi Bimo malah semakin mendekatinya.


Bimo yang geram akan melayangkan kepalan tangannya ke arah Ana, saat itu juga kampu di kamarnya menjadi mati.


Ana memejamkan mata, bersiap akan menerima hantaman itu. Dengan setengah menunduk. Saat dirinya akan membuka mata seseorang membekap mulutnya di tengah-tengah ruangan yang gelap gulita.


"Samuel!" Bimo setengah berteriak memanggil asistennya. "Kenapa lampu di kamarku mati."


Bip … . Lampu kamar itu menyala lagi tapi Ana sudah tidak ada di sana. "Kurang ajar! Dimana Ana, dimana adik manisku." Bimo mengacak rambutnya gusar. "Samuel, dimana Morgan, jangan katakan ini semua ulahnya. Suruh bawa kembali Briana ku."


Samuel terlihat bingung, posisinya berada di ambang pintu memperhatikan Bimo yang mengacak-acak kamar.


"Cari adik manisku sekarang juga!" seru Bimo yang melempar apa saja yang ia temukan. "Samuel, jangan diam saja."

__ADS_1


"Bukannya Nona Ana tadi ada di si–" Kalimat Samuel terputus di saat mendapat tatapan tajam dari Bimo. "Baik Tuan, akan saya cari segera. Tapi kemana," gumam Bimo.


"Kemana saja Samuel, asal kamu membawanya kembali ke sini."


*


*


Mata Ana memanas saat melihat laki-laki dengan topeng besi, ia pikir ini musuh baru Erlon sehingga memakai topeng. "Kenapa hidupku seperti ini, bebas dari macam malah bertemu dengan singa!" Ana marah-marah karena ia tidak sanggup lagi di oper kesana kemari. "Kapan aku akan bahagia, kapan!!" Ana heran karena laki-laki bertopeng besi itu hanya diam saja. "Hai, apa Anda tuli Tuan, atau Anda bisu?"


"Berisik!"


Satu kalimat yang keluar dari mulut pria bertopeng itu membuat Ana langsung diam, ia sepertinya menyadari sesuatu. "Tu-tuan Erlon," panggilnya, bersamaan dengan keluarnya lelehan air mata yang membanjiri pipi. "Tuan benarkah itu Anda?" Tanpa pikir panjang Ana menubruk tubuh pria bertopeng yang ia anggap Erlon. Memeluk tubuh gagah perkasa itu dengan erat tangisnya pecah. "Anda tega Tuan, membiarkan saya seperti bola di oper kesana kemari. Kemana saja Anda." Ana menangis tersedu-sedu.


Ana seolah tidak percaya di saat melihat Zizi dan Kenzo berdiri begitu juga opa dan opa. Mereka semua bertepuk tangan dengan sangat keras. Antara senang dan sedih semua bercampur menjadi satu. Beberapa kali Ana mencubit dirinya ia mengira ini semua hanya mimpi.


"Ana sayang, sini sama Mommy, apa Ana tidak merindukan kami?"


"Maaf kita berdua terlambat, karena di jalan macet." Aurora yang baru datang tersenyum. "Malah bengong, ini bukan mimpi melainkan kenyataan."


"Tidak mungkin, seseorang tolong bangunkan aku. Karena mimpi kali terlalu terasa nyata." Kaki Ana terasa berat saat dirinya akan mencoba melangkah. "Bangunkan aku … ." Pandangan Ana berubah menjadi gelap. Semua yang ada di sana meneriaki namanya.


"Ana!!" Erlon lah yang paling terlihat panik. Niatnya memberikan kejutan malah membuat sang istri pingsan. "Dad, gimana ini. Ana malah pingsan." Erlon mengangkat tubuh Ana membaringkannya di atas sopa. "Minyak kayu putih, Mom, supaya dia cepat sadar."


"Sebentar, dulu Erlon." Zizi dengan cepat mencari minyak kayu putih. "Mommy, menaruhnya di kamar."

__ADS_1


"Biar Daddy, yang ambil Mom," ujar Kenzo sambil berlari.


"Ini gara-gara ide kamu Erlon, kalau sampai Ana kenapa-kenapa. Mommy tidak akan pernah memaafkan kamu." Sebegitu sayang Zizi terhadap Ana sampai-sampai Erlon yang anak paling dimanja waktu kecil kalah oleh rasa kasih sayang Zizi ke Ana.


"Aish, Mommy udah nggak sayang ke Erlon." Erlon merajuk.


"Jika Mommy nggak sayang Erlon, Mommy gak bakal lakuin ini, berpura-pura tewas dalam kecelakaan supaya anak-anak Mommy yang keras kepala ini bisa sayang dan menerima kekurangan pasangan kalian masing-masing." Zizi bicara panjang lebar. "Sekarang Mommy sudah kembali, karena melihat Erlan bisa menerima Aurora apa adanya, nah kamu juga sudah bisa menerima Ana walau belum sepenuhnya, sih."


"Mommy tega, melihat kami waktu itu, apalagi aku hampir saja gila. Tapi, aku mulai menyadari sesuatu saat mendengar obrolan oma dan opa waktu itu."


"Sudah, Erlon. Sekarang kita sudah kumpul lagi," ucap opa Hercules yang ikut nimbrung. "Lebih baik kamu selamatkan, orang yang rela melakukan operasi demi wajahnya mirip dengan Mommy dan Daddy kalian."


Oma Daniar juga ikut menimpali, "Benar apa kata Opamu, dan beri sejumlah uang kepada keluarga yang meninggal karena dibunuh Morgan."


Aurora dan Erlan, hanya bisa mendengarkan. Karena mereka juga penasaran seperti para pembaca, bagaimana bisa Zizi dan Kenzo selamat. Begitupun oma dan opa, karena mereka datang kesini atas permintaan Erlon. Tadi mereka tidak terkejut karena sudah diberi tahu Erlon terlebih dahulu kalau Mommy dan Daddy masih hidup, mula-mula mereka tidak percaya tapi setelah melakukan video call Aurora dan Erlan tanpa banyak bicara lagi mereka mempercayai ucapan Erlon.


"Mom … Aurora sangat rindu." Aurora berhambur ke pelukan Zizi. "Mom, Aurora minta maaf, karena anak yang Aurora kandung bukan anak Er—"


"Sudah, Nak. Janin yang ada dalam sini." Zizi meraba perut datar Aurora. "Dia tidak bersalah, besarkan dia. Toh, Erlan juga menerima kehadirannya." Zizi mengelus punggung Aurora. "Nanti setelah Ana sadar, Mommy akan cerita semuanya. Aurora jangan bersedih lagi."


Ternyata Erlan baik dan penyayang itu turunan dari Mommy, selama ini aku sudah salah menilai Erlan, gumam Aurora di dalam hatinya.


Kejutan lagi,😊 mana mungkin Daddy Kenzo kalah sama musuh yang masih magang🤣🤣


Komen jika akak-akak ikut senang😉

__ADS_1


__ADS_2