
Pesawat yang di tumpangi Revan dan Kevin telah mendarat di Indonesia sekitar sepuluh menit yang lalu, saat ini Revan dan Kevin sedang menunggu jemputan.
Revan akan pulang ke rumahnya terlebih dahulu, mungkin besok dia baru akan kembali ke pesantren. Setelah menunggu lima belas menit lamanya, akhirnya mereka di jemput oleh supir pribadi Revan.
Mereka langsung menuju rumah utama, setelah tiba di rumahnya, Revan dan Kevin langsung menuju ruang kerja pribadinya, Kevin telah menceritakan semua yang dialaminya kemarin pada Revan saat di pesawat, sungguh ada rasa kecewa di hati Revan terhadap neneknya itu.
"Apa rencana kita?" tanya Kevin tiba-tiba.
"Panggil key, suruh dia lacak keberadaan Samuel, aku tidak yakin jika ia tidak ikut kemari" ucap Revan. Key adalah anak buah Revan dengan kemampuan IT terbaik, biasanya Key membantu Revan di perusahaan untuk mengamnkan data perusahaan.
"Baiklah.." ucap Kevin. tak butuh waktu lama, Key masuk ke dalam ruang kerja dengan membawa laptop super canggih yang biasa di gunakannya, Kevin langsung memberikan data-data yang dibutuhkan Key.
saat senja tiba, Revan berdiri di balkon kamarnya menikmati pemandangan, dia sedang mengingat wajah Aisyah, yang tak pernah lenyap dari ingatannya, dia tak sabar untuk kembali ke pesntren.
"Aisyah... Aku siap untuk menunggumu pulang kembali, Jangankan empat tahun, bahkan seribu tahun lamanya pun aku siap" ucap Revan pada dirinya.
"Seperti lagu dong, Seribu tahun lamanya" ucap Revan dalam hatinya dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
.
.
.
********
Samuel telah tiba di Indonesia satu jam yang lalu, saat ini dia dan Clara sudah berada di hotel dekat pesantren.
Samuel sengaja memilih hotel yang dekat dengan pesantren, karna menurutnya akan mempermudah mengawasinya.
"Pa.. berapa lama kita di sini?" tanya Clara tiba-tiba.
"Sampai urusan papa selesai" ucap Samuel singkat.
"Kenapa kita tidak tinggla di apartemen aja yang lebih luas?" tanya Clara.
"Untuk saat ini kita tinggal disini dulu, setelah seminggu baru kita pindah ke apartemen" ucap Samuel.
"Papa ada urusan apa sih? perasaan papa tidak punya usaha di Indonesia" ucap Clara bingung.
"Kamu tidak usah banyak tanya, cukup dengarkan perintah papa" ucap Samuel ketus.
"Iya iya..." ucap Clara kesal.
Sejak sepeninggal mamanya, Clara merasa jika papanya itu telah berbeda, lebih dingin, lebih keras, dan tak mau di bantah. Sungguh Clara menginginkan papanya yang dulu hangat dan selalu tersenyum.
__ADS_1
Sebenarnya Clara tak ingin bersama dengan Revan lagi, karna Revan yang sekarang telah berubah, dan Clara tak ingin bersamanya, Tapu nenek dan Samuel selalu memaksa Clara untuk bersam dengan Revan, apalagi semenjak Revan berubah, nenek memaksanya untuk menggoda Revan, padahal itu tidak akan ada gunanya.
.
.
.
********
Aisyah sedang mengambil buku di perpustakaan, lalu ia melihat meja yang biasa dipakai oleh Revan dan Kevin, Aisyah memperhatikan meja itu cukup lama, hingga tanpa sadar Risa telah berada di sampingnya.
"Udah kali liatinnya" ucap Risa tepat di telinga Aisyah yang membuat Aisyah kaget.
"Astaghfirullah... Risa" ucap Aisyah kaget dan mengalihkan pandangannya.
"Apa sih syah? aku kan cuman ingetin, udah mandangin meja Revannya, bentar lagi masuk kelas" ucap Risa.
"Siapa sih yang lihat mejanya Revan?" tanya Aisyah mengelak dengan mengkerutkan dahinya.
"Udah deh ngelaknya.. Aku lihat sendiri, Masak gak mau ngaku" dengus Risa.
"ehmmm kamu ngapain kesini?" tanya Aisyah mengalihkan pembicaraan.
"Apaan sih sa.. Udah yuk masuk kelas" ajak Aisyah menarik tangan Risa.
Saat Aisyah menuju kelasnya, tiba seorang lelaki menghampirinya, siapa lagi jika bukan Reza. Reza berencana menyemangati Aisyah di hari kedua ujian, karna kemarin ia tak sempat berbicara pada Aisyah.
"Assalamualaikum..." ucap Reza sopan.
"Waalaikum salam..." jawab Aisyah dan Risa bersamaab.
"Syah.. Ana cuma mau bilang hamasah" ucap Reza tersenyum lebar. (semangat).
"Iya insya Allah..." ucap Aisyah lembut tetap menunduk.
"Ya sudah aku mau ke kelas, assalamualaikum" ucap Reza lembut dengan meninggalkan Aisyah menuju kelasnya.
"Reza ganteng ya syah.." ucap Risa.
"Risa... Sesungguhnya kamu sebagai wanita harus menjaga pandangan" ucap Aisyah mengingatkan.
"Iya iya syah... AKu cuma lirik dikit kok" ucap Risa dengan senyuman manisnya.
"Walaupun hanya melirik sa.." ucap Aisyah.
__ADS_1
"Iya Aisyah sayang... Tapikan jika kita melihat seseorang yang bukan mhrom kita, jangan kedipkan mata, kalau berkedip baru dosa" ucap Risa.
"Iya... Memang benar, Tapi itu bukan suatu alasan bagi semua orang untuk memanfaatkannya" ucap Aisyah.
"Masak iya... Karna kita tau jangan mengedipkan mata saat melihat lawan jenis, terus kamu akan lihat semua laki-laki dengan melotot dan tak berkedip" tambah Aisyah.
"Itu bukannya menjaga pandangan, tapi secara tidak langsung kita sengaja memandangi lawan jenis yang bukan mahrom kita dengan alasan jangan berkedip, ingat kamu harus tau makna dari kata itu!" tambah Aisyah.
"Iya iya syah... Khilaf" ucap Risa lirih.
"Khilaf kok tiap hari" ledek Aisyah meninggalkan Risa yang terdiam.
Saat Aisyah dan Risa baru saja masuk ke dalam kelas, mereka sudah di berikan banyak pertanyaan oleh Rani dan Nisa.
"Kalian itu dari mana saja?" tanya Nisa.
"Dari perpuslah" jawab Risa.
"Kok lama?" tanya Rani.
"Yeeee.. Tadi abis di ceramahi sama bu ustdzah dulu" ucap Risa melirik Aisyah.
"Ustdzah siapa?" tanya Nisa penasaran.
"Ini ustadzah Aisyah di samping aku" ucap Risa dengan menyenggol lengan Aisyah.
"Apaan sih sa, udah gak usah di dengerin" ucap Aisyah pada teman-temannya.
Lalu terdengarlah bel berbunyi pertanda akan dilaksanakan ujian, dengan cekatan Aisyah mengisi jawabannya, Ahamdulillah Semua yang telah di pelajari Aisyah tak sia-sia.
.
.
.
********
Hai hai Reders...
Wah... Ustadzah Aisyah?? Bisa aja ni si Risaπππ
Tungguin terus kelanjutannya...
Jangan lupa like,, komen dan vote yaπππ
__ADS_1