
Keesokan harinya Fadhil benar benar akan datang ke rumah Rani, Rani memberikan lokasi rumahnya dan izin tidak masuk kerja, kedua orang tua Rani sedikit kaget atas pernyataan dari Rani, namun mereka menyetujuinya demi kebaikan Rani.
Fadhil juga telah menghubungi kedua orang tuanya di Qairo, saat mendengar Fadhil akan melamar seorang wanita, kedua orang tuanya terlihat begitu senang, pasalnya umur Fadhil sudah cukup untuk menikah.
Fadhil berangkat bersama Abah umi dan juga Aisyah. Setelah dua jam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah Rani.
"Assalamualaikum" ucap Fadhil, sebenarnya Fadhil sangat tegang hari ini, namun dia mencoba tutupi agar tidak terlihat.
"Waalaikum salam" jawab assisten rumah tangga.
"Tuan Fadhil?" tanya Assisten rumah tangga tersebut.
"Iya benar" ucap Fdhil tersenyum.
"Silahkan masuk, sudah di tunggu oleh tuan dan nyonya" ucap Assiten rumah tangga. Fadhil bersama abah umi dan Aisyah masuk ke dalam rumah Rani yang terlihat begitu besar dan mewah. Mereka duduk di ruang tamu menunggu Rani dan kedua orang tuanya turun.
"Jangan gugup kak" bisik Aisyah dengan tersenyum.
"Iya syah, Insya Allah" ucap Fadhil menahan kegugupannya.
(aduhhh deg degan banget sih ni jantung, kalo lepas gimana coba, mana ini tangan dingin kayak es, emang musim salju).
Kedua orang tua Rani turun menghampiri Fdhil dan keluarga di ruang tamu, Ayahnya Rani terlihat kaget saat melihat Abah dan umi di sana.
"Assalamualaikum pak Kyai" ucap Fahmi ayah Rani dengan menyalami abah begitu pula dengan Fanny istrinya.
"Waalaikum salam pak Fahmi ibu Fanny" Jawab Abah.
"Jadi Fadhil ini siapanya pak kyai?" tanya Fahmi penasaran.
"Fadhil ini anak dari kakak saya yang berada di Qairo, maka dari itu saya yang menemani Fadhil kemari" ucap Abah sopan.
"owhh begitu, saya kaget saat Rani bilang kalau hari ini ada yang mau melamarnya, padahal setau saya dia tidak pernah dekat dengan lelaki, eh tau tau mau di lamar saja" ucap Fahmi tersenyum senang, pasalnya yang akan melamar anaknya adalah lelaki yang pasti taat beragama.
"iya begitulah maksud kedatangan kami kemari pak Fahmi" ucap Abah.
"semuanya kami serahkan kepada Rani, jadi biar Rani yang akan memutuskannya pak kyai" ucap Fahmi.
Fadhil mencari keberadaan Rani yang tak kunjung keluar, dia menunggu jawaban wanita yang di cintai secara diam itu.
__ADS_1
"Kalau boleh tau dimana Rani?" tanya abah.
"masih di atas," ucap Fahmi.
"ma tolong panggilkan Rani" ucap Fahmi pada istrinya.
"Aisyah kapan pulang ke Indonesia?" tanya Fahmi.
"dua hari yang lalu om Fahmi" jawab Aisyah lembut.
"Rani itu....
tap tap tap
Ucapan Fhmi terpotong saat mendengar suara langkah kaki yang menuruni tangga,, semua orang yang berada di sana langsung menoleh ke arah sumber suara, terlihatlah Rani yang sangat cantik dan anggun dengan balutan gamis berwarna putih.
(Masya Allah, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan)
Fadhil tidak berkedip menatap Rani, hingga Aisyah menyenggol lengannya.
"istighfar kak" bisik Aisya pada Fadhil dengan menahan tawa.
(lebih baik operasi orang dari pada kayak gini bikin jantungan).
"Langsung saja, Rani Eka Putri anakku, kedatangan Muhammad Fadhil Ar rasyid kemari adalah untuk melamar kamu sebagai calon istrinya" ucap Fahmi formal.
"Ayah dan bunda menyerahkan segala keputusannya kepadamu" tambah Fahmi.
Deg
Deg
Deg
Rani tidak menjawab pertanyaan Fahmi, tapi dia menganggukkan kepalanya pertanda menyetujuinya.
"Apa? kenapa kamu menggeleng? kita di sini menunggu ucapan bukan bahasa isyarat" ucap Fahmi bergurau, mencoba menggoda anaknya.
"i iya" ucap Rani gugup.
__ADS_1
"iya apa? iya kamu menolak, atau iya menerima?" tanya Fahmi menyudutkan Rani dengan menahan tawa melihat anaknya gugup.
(ayah sempet sempetnya bercanda, batin Rani kesal)
"Bundaa" rengek Rani pada bundanya yang berada di sampingnya. sedangkan Fadhil terkekeh melihat Rani yang seperti anak kecil.
(Menggemaskan, di terlihat seratus delapan puluh derajat berbeda jika bersama orang tuanya)
"Ayah" tegur Fanny pada suaminya. Fahmi hanya menggelengkan kepala melihat Rani yang kekanakan.
"Jawablah sayang" ucap Fanny lembut.
"i iya, Rani menerimanya" jawab Rani gugup.
"Alhamdulillah" ucap semua orang dengan tersenyum senang.
setelah jawaban Rani, semuanya berbincang dengan menentukan tanggal pernikahan, tak lama setelah itu Fadhil abah umi dan Aisyah pamit pulang ke rumah.
Saat dalam perjalan di mobil, Aisyah memandangi jalanan di luar dari jendela, ia merenungi seseorang yang telah lama tidak hadir dalam hidupnya, tak terasa buliran air mata menetes tanpa pemisi.
(semoga Allah selalu menjagamu, jika kita berjodoh makan akan dipertemukan kembali)
Umi yang melihat Aisyah menangis, sontak heran pada putrinya tersebut, seharusnya Aisyah senang karna Fadhil akan menikah, pikir umi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Umi khawatir pada Aisyah. Aisyah langsung mengelap air matanya dan tersenyum manis pada umi untuk menutupi kesedihan.
"Aisyah gak apa-apa mi" jawab Aisyah lembut dengan tersenyum. Tanpa mereka sadari abah paham apa yang di rasakan putrinya itu.
"Jika kamu memang berjodoh dengannya (Revan), Allah pasti akan pertemukan kalian" ucap Abah bijak.
"Iya bah" ucap Aisyah lirih.
******
Hai hai Readers, part ini masih buat Rani and Fadhil ya, besok baru buat Aisyah..
Tapi untuk bertemu Revan, kalian sabar dulu yaaa... Hehehe.
Jangan lupa like komen dan vote๐๐
__ADS_1