
"Demi aku dan pesantren ini, aku mohon" pinta Aisyah tetap berlutut dengan air mata yang mulai deras membasahi Wajahnya.
Revan hanya bisa terdiam, dia memohon semoga ada keberuntungan untuknya.
"Baiklah" ucap Revan terpaksa, nenek tersenyum senang begitu pula dengan Samuel, namun..
"Itu tidak akan terjadi.....
Terlihatlah Rendi yang berdiri tegap di ambang pintu, ada Milla disampingnya dan ada Bimo di belakangnya yang menunduk dengan dua bodyguard Rendi yang menjaganya.
"Luar biasa! prok prok prok" ucap seseorang dengan bertepuk tangan masuk ke dalam rumah abah melewati Rendi, ia tersenyum sinis pada nenek dan Samuel, semua yang berada di rumah abah kaget, Revan membulatkan matanya sempurna, sedangkan nenek membelalakkan matanya tak percaya.
"A-ardana!" ucap nenek kaget sekaligus khawatir.
"Sudah cukup bermainnya, aku sangat marah padamu" ucap kakek emosi dengan menunjuk nenek.
"Pa, sabar.." ucap Milla mengelus lengan kakek.
"sudah habis kesabaranku menghadapi dia" ucap Kakek masih tetap emosi.
"ma maksud kamu apa Ardana?" tanya nenek terbata bata.
"apa maksudku? kamu masih tanya itu? astaga kamu memang tak pernah berubah" ucap kakek ketus.
"Aisyah bangun sayang" ucap Milla lembut dengan membantu Aisyah bangun.
"Kek, Pa" panggil Revan meminta penjelasan.
"kamu tak perlu menikahi Clara, ini sertifikat aslinya" ucap Rendi dingin dengan mengangkat sertifikat aslinya.
"Tidak! itu bukan sertifikatnya, ini adalah sertifikatnya" ucap nenek emosi dengn mengangkat sertifikat yang dipegangnya.
"Kita bicarakan di rumah" ucap kakek dingin lalu meninggalkan semuanya.
"Ahmad, sementara sertifikat ini saya bawa agar aman" ucap Rendi pada abah. Abah mengangguk mengiyakan ucapan Rendi.
__ADS_1
"Aisyah kamu tak perlu bersikap seperti itu, semuanya akan baik-baik saja" ucap Milla lembut dan tersenyum dengan mengusap air mata Aisyah.
"Milla Revan ayo kita pergi" ajak Rendi.
"kalian bawa mama Samuel dan Clara" perintah Rendi pada bodyguardnya.
"Apa maksud kamu Rendi? aku ini ibumu" ucap nenek keras karna tak terima diperlakukan seperti ini oleh anaknya.
tiga mobil meninggalkan pesantren, Rendi kakek Milla dan Revan berada dalam satu mobil, Nenek Samuel dan Clara berada tepat dibelakang mobil Rendi, dan Bimo bersama dengan enam bodyguard yang menjaganya.
Setelah tiga puluh menit berjalan, mobil memasuki rumah utama milik Rendi, semua pegawai telah berdiri menyambut semuanya, mereka turun dengan kawalan bodyguard di depan belakang dan samping, dan tak lupa di setiap sudut rumah.
Mereka semua menuju ruang keluarga, kakek telah duduk dikursi kebesarannya bersama Rendi, sedangkan nenek masih tak terima atas perilaku Rendi terhadapnya begit pula dengan Revan yang tak mau menurutinya.
"Saat ini aku kalah, tapi aku akan benar benar membalaskannya" ucap nenek dalam hati dengan seringai liciknya.
"tidak seharusnya mama berbuat sejauh ini" ucap Rendi dingin menatap lekat nenek.
"Maksud kamu apa Rendi? yang mama lakukan hanya untuk kebaikan Revan" ucap nenek angkuh.
nenek terdiam mendengar ucapan kakek, bagaimana kakek tau maksud dari semua ini pikirnya.
"aku hanya mau yang terbaik untuk Revan" ucap nenek tetap angkuh.
"Aku tau yang terbaik untuk diriku sendiri nek" Kali ini Revan yang menjawab.
"dengar? kamu dengar perkataan Revan?" tanya kakek dengan suara keras yang menggem di seluruh penjuru rumah, pegawai yang mendengarnya langsung ke belakang rumah, tempat mereka beristirahat, karna mereka tak mau ikut campur.
"aku hanya tak mau Revan bernasib sama seperti Randi" ucap nenek.
plakkk
Kakek menampar nenek yang tak pernah mau mengakui kesalahannya, kakek telah habis bersabar menghadapi tingkah nenek. Nenek membulatkan matanya sempurna, ia tak menyangka suaminya akan menamparnya didepan semua orang, ia memegangi pipinya yang merah, nenek tak mengeluarkan air mata sedikit pun, malah nenek semakin benci pada kakek. sedangkan yang lain membelalakkan matanya tak percaya bahwa kakek akan semarah ini pada nenek, semuanya kaget melihat nenek ditampar.
"Aku akan membalaskan penghinaan ini Ardana" ucap nenek dalam hati.
__ADS_1
"sudah cukup kesabaranku menghadapimu selama ini, selama ini aku tak pernah memukulmu, tapi tidak dengan saat ini, kau selalu bertingkah seenaknya tanpa berfikir akibatnya, aku suamimu, dan aku masih menjaga martabatmu sampai saat ini" ucap kakek dingin menahan emosi yang memuncak.
"aku tak pernah menuntutmu mencintaiku, dan aku tak pernah berlaku semena mena terhadapmu, karna bagaimanapun juga, kau adalah ibu dari anak-anakku, tapi semakin aku bersabar, semakin hebat kamu bertindak" lanjut kakek tetap dingin, yang lainnya hanya terdiam mendengarkan kakek.
"keluargaku bukan yang membunuh Daniel kekasihmu" ucap kakek mengakhiri perkataannya lalu pergi ke lantai atas untuk menenangkan diri, Milla menyusul kakek untuk menenangkannya.
"Samual, aku batalkan kerja sama kita" ucap Rendi dingin menatap tajam Samuel.
"Tapi Rendi...
"kamu tenang saja, aku telah memberikan bonus pada perusahaanmu agar tidak bangkrut" ucap Rendi memotong ucapan Samuel, Samuel mengepal tangannya kesal, bisa bisanya Rendi menghinanya pikir Samuel.
"dan kamu Clara, kamu akan tetap di pesantren, karna mulai sekarang saya yang akan memfasilitasi seluruh kebutuhanmu, dan jangan meminta lagi pada papamu itu" perintah Rendi.
"Tapi om...
"tidak ada bantahan" ucap Rendi tegas.
"Revan sementara kamu disini dulu dan kamu juga Clara" ucap Rendi.
"Dan kalian bawa Bimo ke penjara rahasia bersama Samuel" perintah Rendi. Samuel membelalakkan matanya kaget.
"Rendi kamu...
"Mama bisa tidur di kamar bawah" ucap Rendi lalu meninggalkan semuanya.
Samuel mengepalkan tangannya kesal, dia tak terima diperlakukan seperti ini.
"Akan ku balas kalian semua" ucap Samuel dalam hati.
*******
Wahhhhh Wajhhhh gimana ni ya jadinya???
tubggu terus kelanjutan ceritanya😉😉
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan vite ya