
Bruk....
Aisyah terjatuh pingsan.
"Aisyah" panggil semuanya.
"bawa Aisyah ke ruang perawatan" ucap Rendi . Fadhil langsung mengangkat Aisyah dan membawanya ke ruang perawatan, umi langsung mengikuti Fadhil dan duduk melihat Aisyah, umi meneteskan air matanya melihat putri kesayanganya sedih.
"Bagaimana keadaan Revan dokter?" tanya Rendi lagi..
"Revan...
dokter menjeda ucapannya dan menatap keseluruh orang.
"Maaf" ucap dokter lirih. Semua orang langsung menangis dan memanggil manggil nama Revan, sesuatu yang tidak diharapkan ternyata terjadi, Rendi langsung bersandar di dinding, kakek terduduk dengan tatapan yang kosong, sedangkan Kevin terdiam dan terpaku dengan pandangan kosong dan dengan air mata yang menetes.
"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk keselamatan tuan Revan" ucap dokter.
"Revannnn hiks hiks" ucap Kevin dengan air mata yang telah membasahi wajahnya.
"maaf, kenapa kalian semua menangis?" tanya dokter, semua yang mendengar ucapan dokter tersebut langsung menatap tajam ke arahnya.
"kau masih tanya kenapa kami menangis hah?" tanya Rendi emosi dengan mencengkram kerah kemeja dokter, abah langsung menghampiri Rendi untuk menenangkannya.
"Pak Rendi sabar" ucap Abah lembut.
"Bagaimana aku bisa sabar kalau dokter ini tidak merasa gagal menyelamatkan anakku" ucap Rendi dengan emosi yang memuncak.
"maaf tuan Rendi apa yang anda maksud?" tanya dokter bingung.
"apa yang aku maksud? yang aku maksud adalah aku akan mengeluarkanmu dari rumah sakit ini bahkan seluruh rumah sakit di negara manapun tidak boleh ada yang menerimamu" ucap Rendi tegas dengan penekanan.
"ma maaf tuan Rendi, tapi apa kesalahan saya?" tanya dokter bingung.
"kau masih tanya apa kesalahanmu? tentu saja kesalahannya karna kamu tidak bisa menyelamatkan anakku putraku, kamu gagal menyelmatkannya" ucap Rendi dengan suara tinggi.
"maaf tuan Rendi saya tidak gagal menyelamatkan tuan Revan" ucap Dokter. Semua orang langsung menatap ke arah dokter dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"lalu kenapa anda meminta maaf pada kita semua?" tanya Kevin.
"saya memibta maaf karna saya ingin meminta anda semua untuk memberikan jalan pada tuan Revan, karna tuan Revan akan kami pindahkan ke ruang rawat inap di lantai empat" ucap dokter.
__ADS_1
"maksud anda Revan tidak meninggalkan?" tanya Kevin bingung.
"tidak, tuan Revan tidak meninggal dan tadi saya tidak bilang jika tuan Revan meninggalkan?" ucap Dokter.
"lalu kenapa anda tadi bilang kami sudah berusaha menyelamatkan Revan? itukan berarti anda tidak bisa menyelamatkannya" tanya Kevin.
"ya karna kami telah berusaha menyelamatkan Revan dan akhirnya usaha yang kami lakukan selama dua tahun ini berhasil dengan bantuan nona Aisyah" ucap Dokter.
"Maksud anda apa aku tidak mengerti?" tanya kakek.
"kami sebagai para medis telah berusaha menyelamatkan Revan dengan peralatan medis terbaik di negara ini, namun tidak merubah keadaan tuan Revan dan kedatangan nona Aisyah selama dua hari ini telah membuat tuan Revan pulih perlahan demi perlahan" ucap Dokter.
"Perlahan demi perlahan?" ucap Kevin tidak mengerti.
"Tuan Revan belum seratus persen pulih, namun saat ini dia sudah bisa mendengar perkataan yang kita ucapkan dan merespon dengan gerakannya" ucap Dokter.
"lalu kenapa nak Revan harus di pindahkan?" tanya abah.
"kami pindahkan ke lantai bawah karna...
"karna apa?" tanya kakek kesal.
"karna tuan Revan sudah tidak membutuhkan peralatan medis untuk orang yang mengalami koma" ucap dokter.
"Dengan kata lain yang diucapkan dokter adalah Tuan Revan telah sadar dari komanya" ucap Suster di samping dokter pribadi Revan.
Deg deg deg
"Apa!!!" ucap Aisyah syok.
Flash bakc on.
Aisyah tersadar dari pingsan, lalu ia meminta pada umi untuk mengantarya kembali ke ruangan Revan.
"umi hiks Aisyah mau lihat Revan hiks" ucap Aisyah memohon.
"kamu istirahat dulu ya, nanti kalau kamu seperti ini terus kamu akan sakit syah" ucap Umi.
"umi hiks hiks Aisyah mau lihat Revan hiks hiks untuk yang terakhir kali" ucap Aisyah.
"ya sudah" ucap Umi pasrah.
__ADS_1
Aisyah berjalan perlahan dengan di pegangi umi, dan dia berhenti sejenak mendengarkan ucapan dokter.
"Dengan kata lain yang diucapkan dokter adalah Tuan Revan telah sadar dari komanya" ucap Suster di samping dokter pribadi Revan.
Deg deg deg
"Apa!!!" ucap Aisyah syok.
Flashbak off.
"Revan sadar?" tanya Aisyah melepaskan pegangannya pada umi dan berjalan mendekati dokter.
"iya nona Aisyah, tuan Revan telah sadarkan diri, namun saat ini tuan Revan sedang beristirahat, mungkin satu atau dua jam kemudian tuan Revan telah bangun" ucap Dokter tersenyum.
"Alhamdulillah" ucap semuanya dengan saling berpelukan. Aisyah terduduk lemas, enah senang syok dan sedih yang ia rasakan, tapi yang jelas saat ini dia merasa sangat senang, sangat sangat senang bahkan tak bisa diucapkannya lagi.
"Syah" panggil para sahabatnya dengan memeluk Aisyah senang. Aisyah menangis terharu yang terjadi hari ini.
"kamu kenapa nangis sih?" kan Revan udah sadar" ucap Risa dengan menghapus air mata Aisyah. Aisyah hanya tersenyum dan memeluk oara sahabatnya kembali.
Revan dibawa menuju lantai empat, Aisyah terus menatap Revan yang belum sadarkan diri. Saat telah Revan tiba di ruangan, Aisyah menuju ke mushola kembali, dia ingin melaksanakan sholat tanda syukurnya atas keajaiban yang telah Allah berikan pada Revan.
lalu Aisyah kembali ke ruangan Revan dan duduk di samping ranjang Revan, sedangkan para sahabatnya pamit pulang begitu pula dengan abah dan umi, sebenarnya Aisyah di suruh pulang oleh Rendi, namun Aisyah menolak, karna Aisyah ingin jika Revan sadar, Revan menatap Aisyah untuk yang pertama kalinya.
*******
.
.
.
hai hai readers....
Hahahah gimana ni?? aku udah kembaliin Revan...
Terus apa ya yang terjadi diantara Aisyah dan Revan?? apakah mereka bersatu?? apakah nenek tertangkap?? atau jangan jangan nenek memiliki rencana lain?
Komen like and votenya gratis kokππ
Tunggu kelanjutan ceritanya ya...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan voteπππ