Cinta Tanpa Restu

Cinta Tanpa Restu
Bab 22


__ADS_3

"Hahahaha... ngambek." Restu menertawakan Cinta.


"Bro maaf atas kecerobohan adik gue." Restu mengulurkan tangan kanan untuk berjabat tangan.


"Tak masalah sob, adik lo cantik juga, boleh nich kenalan?" Dion menyambut jabat tangan Restu.


"Kenalan sama siapa nich,sama gue atau adik gue."


"Sama Lo dulu aja,biar mulus nanti pdktnya sama adik Lo"


Restu mengambil dompet dan mengeluarkan kartu namanya.


"Ini kartu nama gue, di situ ada no handphone gue,lo bisa chat gue." Restu menyerahkan kartu namanya ke Dion.


"So pasti." Dion sambil mengambil kartu nama dari tangan Restu.


"Bro duluan ya.... nanti keburu nabrak truk beneran adik gue." Restu menepuk bahu Dion sambil berlalu.


"Ya hati-hati sob.tolong jaga calonku ya kakak ipar." Dion sedikit berteriak karena Restu sudah pergi beberapa langkah.


Restu mengangkat kedua jempol tangannya tanpa meneleh sambil berjalan lebih cepat.


Dion yang akan duduk, tiba-tiba beradu pandang dengan tuan Wiraatmadja.Dion menundukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum.


Tuan Wiraatmadja membalasnya dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Ramah juga ni anak muda.Sepertinya wajahnya tak asing, tapi mirip siapa ya...?" Tuan Wiraatmadja dalam hati.

__ADS_1


"Ada apa pa...?" Nyonya Wiraatmadja mengikuti pandangan suaminya.


"Papa lagi berfikir ma...Jika jodoh Cinta anak muda itu.Papa rasa Cinta akan darah tinggi karena setiap hari dijahilin terus."Tuan Wiraatmadja menahan senyum.


Sedang Dion yang baru duduk, tiba-tiba ada sendok melayang mengenainya sehingga bajunya menjadi kotor.


"Ada apa ini bro?" Dion yang kesal,sambil membersihkan baju yang terkena noda sendok bekas makan Bagas.Yang melempar sendok adalah Bagas,entahlah Bagas begitu kesal melihat Dion dan Cinta berinteraksi.


"Lee apa aku ada salah sama tuanmu?" Dion memandang Leo yang sedang menikmati makan malamnya.


"Maaf tuan." Leo tetap mengunyah makanannya.


"Modus lo, dasar buaya buntung." Bagas tanpa ekspresi.


"Yang mana bro?" Dion pura-pura tidak tahu.


"CK.." Bagas berdecak kesal.


"Tuan....." Leo kesal.


Minuman itu milik Leo yang sama sekali belum disentuh.


"Apa...?" Dion melotot.


"Bukan begitu tuan,itu tadi ada kotoran cicak." Leo tanpa ekspresi.


"Bagas apa benar.....?" Dion tak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Bagas menganggukkan kepalanya.


"Mampus lo."


Tiba-tiba Dion menjadi pucat.Merasa mual dan ingin muntah membayangkan ada kotoran cicak dimunumanya.Dia sudah meneguknya sampai tandas.


Leo menahan tangan Dion,saat Dion berdiri berniat untuk ke toilet ingin mumuntahkan isi perutnya.


"Bohong tuan." Leo menahan senyum.


"Sialan Lo." Dion duduk kembali dengan kesal.


"Lee." Bagas menganggukkan kepala memberi kode ke Leo dan berdiri.


"Baik tuan." Leo menyudahi makannya.


Leo mengangkat tangan memanggil pramusaji.


"Kalian berniat meninggalkanku sendiri, kalian tak sopan,aku baru saja datang kalian main pergi saja." Gerutu Dion.


"Tuan Dion , silahkan anda membayar tagihan billnya." Leo meninggalkan Dion dan berjalan mengekor dibelakang tuannya.


"Hey... kalian mengerjaiku,teman luknat." Dion melihat punggung kedua temannya semakin menjauh.


"Sial." Dion merogoh saku celana menggambil dompet dan mengeluarkan sepuluh lembar uang seratusan.


"Cukup." Dion menyerahkannya ke pramusaji.

__ADS_1


"Ini kebanyakan tuan." Pramusaji menghitung uang yang yang diberikan Dion berniat untuk mengembalikan.


"Buat kamu saja." Dion bergegas meninggalkan restoran setengah berlari mengejar kedua temannya.


__ADS_2