Cinta Tanpa Restu

Cinta Tanpa Restu
Bab 36


__ADS_3

Cinta dan Restu melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar tempat mereka janjian dengan kedua orang tuanya.


"Ma pa,maaf menunggu lama." Restu dari belakang.


Tuan dan nyonya Wiraatmadja membalikkan badan.


"Kalian baik-baik saja kan.Terutama kamu sayang, apa kamu baik-baik saja."Nyonya Wiraatmadja dengan cemas.Setelah apa yang terjadi dipesta tadi.


"Sudahlah ma.Mama sendiri lihat kan, jika Cinta sekarang baik-baik saja.Ayo kita pulang." Tuan Wiraatmadja mengandeng tangan istrinya dan berjalan meninggalkan tempat itu menuju tempat parkir mobilnya.


Sejak itu tak ada yang bersuara.Sampai mereka masuk kedalam rumah.


"Ayah bunda.Cinta minta maaf." Cinta menundukkan kepalanya sambil memegangi tas kecil yang dipegangnya.


Tuan dan nyonya Wiraatmadja menghentikan langkahnya seketika, membalikkan badan dan mengamati Cinta.


Restu yang ada dibelakang Cinta ikut menghentikan langkahnya.


"Sudahlah, cepatlah istirahat." Tuan Wiraatmadja dengan lembut.


"Restu ikut papa keruangan kerja papa sekarang.Mama tidur duluan saja."Tuan Wiraatmadja melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Restu mengikuti langkah papanya menuju ruang kerja.


"Tak apa,semua akan baik-baik saja." Restu menepuk pundak Cinta sambil berjalan.


"Ma.." Restu menatap mamanya.


Sang mama yang paham segera mengandeng tangan Cinta.


"Sebaiknya kita segera istirahat sayang."


Didalam ruang kerja tuan Wiraatmadja.


"Ceritakan." Tuan Wiraatmadja duduk di sofa.


Restu menceritakan semua.


Bukan tuan Wiraatmadja tak melihat kejadian tadi.Yang tuan Wiraatmadja lihat,hanya ketika tempat kuah bakso berserakan dilantai, menimbulkan suara yang nyaring dan menjadi pusat perhatian para tamu.Tuan muda dari keluarga Utama mengandeng tangan Cinta.Hanya itu saja yang tuan Wiraatmadja lihat.


"Besok papa ada pertemuan dengan tuan muda dari perusahaan Utama Group.Sudah lama dan beberapa kali papa mengajukan proposal kerjasama dengan perusahaan Utama Group dan baru kali ini papa dapat panggilan.


Menerut kamu bagaimana.

__ADS_1


Apa benar adikmu tak ada hubungan apa-apa dengan tuan muda dari keluarga utama.Papa takut dikira nanti memanfaatkan hubungan mereka,dikira menyodorkan putri sendiri untuk memperlancar bisnis restoran papa.


Kamu tahu sendiri jika kita bisa kerjasama dengan perusahaan Utama Group bisnis restoran kita pasti akan setara dengan restoran-restoran papan atas?" Tuan Wiraatmadja meminta pertimbangan anaknya.


"Papa tenang saja,Cinta bertemu dengan tuan muda Bagas baru tadi pa, kenalan juga baru tadi." Restu menjelaskan.


"Kamu,apa kamu juga sudah kenal lama dengan tuan muda dari keluarga Utama.Nanti dikira papa memanfaatkan persahabatan kalian untuk memajukan bisnis restoran kita." Selidik tuan Wiraatmadja.


"Sudah papa tenang saja,Restu kenalan juga baru tadi.Sebenarnya Restu kenal dengan Dion.Papa masih ingat waktu kita gagalkan kencan Cinta tempo hari." Restu tak melanjutkan ucapannya.


"Bukan kita tapi kamu,enek saja melibatkan papa." Tuan Wiraatmadja dengan sewot.


"Dion itu yang ditabrak Cinta.Ternyata Dion sahabatan sama tuan muda dari keluarga Utama.Tadi dipesta Restu bertemu Dion.Disitu ada tuan muda Bagas dan asistennya.Dion memperkenalkan kita dengan tuan muda Bagas.


Sebelumnya Restu cuma tahu saja tuan muda Bagas, karena dulu waktu kuliah Restu satu angkatan denganya.Dulu waktu kuliah, tuan muda Bagas tak tersentuh pa.Selalu dikawal sama bodyguard,datang ke kampus jika ada kepentingan saja.Meski begitu tuan Muda Bagas lulus dengan nilai tertinggi Restu masih kalah." Cerita Restu.


"Atau mungkin gara-gara Dia anak pemilik kampus sehingga dia diberi nilai tertinggi oleh para dosen." Restu menerawang jauh.


"Pikiranmu sangat picik anak muda.Jangan menuduh orang sembarangan,jadi fitnah.Papa tak pernah mengajari mu begitu.


Kalau dia mendapatkan nilai yang baik atau jelek itu sesuai dengan usahanya.

__ADS_1


Dia memimpin usaha milik keluarganya,dan menjadi maju pesat dikenal oleh masyarakat luas.Itu juga atas usahanya.Jika ada yang menilai tuan muda Bagas banyak memenangkan tender sana-sini dengan main uang itu pikiran picik yang tak mau menerima kekalahan atau kekurangannya sendiri.Kalau kita tak memenangkan tender sebaiknya kita introspeksi diri, mungkin ada yang salah dengan kita,satu lagi mungkin itu bukan rejeki kita." Tuan Wiraatmadja memberi petuah untuk putranya.


Restu hanya diam saja meresapi apa yang barus saja diucapkan oleh papanya.


__ADS_2