Cinta Tanpa Restu

Cinta Tanpa Restu
Bab 48


__ADS_3

Cinta hanya diam,meski begitu banyak pertanyaan dibenaknya.


Cinta membuka ponselnya, Cint terkejut karena banyak sekali panggilan dari Sari ,ibu Aisyah dan bundnya.


"Maaf tadi saya membuka ponsel anda nona,dan saya mengirimkan pesan, karena ponsel anda tak berhenti berdering sewaktu anda tak sadakan diri tadi,nona." Bagas merasa tak enek hati.


"Tak apa tuan." Cinta meski sedikit tak suka namun tak diperlihatkannya.


Cinta terus mengeser layar ponselnya, melihat beberapa panggilan tak terjawab.


Bagas mengetahui Cinta akan melakukan panggilan.


"Saya akan tunggu diluar,nona." Bagas hendak keluar ruangan.


"Tetaplah tinggal di sini,tuan."Cinta memandang Bagas.


Bagas menghentikan langkahnya.


"Apa anda tak keberatan,nona.Takutnya anda merasa tak nyaman jika saya masih ada disini." Lanjut Bagas.


Cinta menggelengkan kepala.


Bagas melanjutkan langkahnya menuju sofa.Pandangan Cinta mengikuti langkah Bagas.


Yang pertama kali Cinta hubungi adalah bu Aisyah.


"Assalamu'alaikum bu." Cinta mengawali pembicaraan dengan bu Aisyah.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam.Sudah tak sibuk,nak" Bu Aisyah dengan lembut.


"Sudah bu, maaf baru bisa telpon ibu sekarang." Cinta dengan sopan.


"Ada apa bu, tadi kok telpon Cinta." Lanjut Cinta.


"Ibu mencaskanmu nak,apa kamu baik-baik saja,apa terjadi sesuatu." Lanjut bu Aisyah.


"Tidak bu, Cinta baik-baik saja,kalau terjadi sesuatu pada Cinta,orang pertama yang Cinta beritahu ibu." Balas Cinta.


"Bu,sudah ya kita lanjut nanti.Cinta mau istirahat, kepala Cinta pusing Bu." Lanjut Cinta.


"Kenapa nak,apa kamu sakit?" Tanya bu Aisyah.


"Tidak Bu, Cinta hanya saja banyak kerjaan jadi kepala Cinta sedikit pusing." Jawab Cinta.


"Ya bu, Cinta tutup ya bu, Cinta sayang ibu, assalamu'alaikum." Cinta mengakhiri pengilannya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab bu Aisyah sambil tersenyum.


Cinta menutup matanya, karena merasa pusing kembali menyerangnya.


Bagas yang duduk di sofa segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Cinta.


"Anda baik-baik saja,nona?" Bagas dengan cemas.


"Ya tuan,saya baik-baik saja,hanya sedikit pusing." Cinta dengan masih memejamkan mata.

__ADS_1


"Jangan dipaksakan,nona" Bagas duduk dikursi dekat tempat tidur Cinta.


"Tapi masih ada seorang lagi yang harus saya telpon,tuan." Cinta memaksa.


Cinta melakukan panggilan kepada bundanya.


"Hallo,bunda" Cinta saat sambungan telepon tersambung dengan sang bunda.


"Hallo sayang,sayang kamu sekarang ada dimana,apa kamu baik-baik saja?" Deretan tanya yang dilontarkan oleh sang bunda.


Cinta memejamkan mata, karena kepalanya terasa pusing.Bagas memegang tangan Cinta, Cinta membuka mata dan memandang Bagas seraya menganggukkan kepalanya seakan memberi tahu jika ia baik-baik saja.


"Cinta baik-baik saja bund, Cinta sedang perjalanan pulang." jawab Cinta.


"Jangan bohong,terus motor pak Agung dimana,kata Sari kamu tadi nyusul bunda dan ayah pakai motor pak Agung, motor pak Agung remnya blong.Apa kamu baik-baik saja.?" Nyonya Wiraatmadja tanpa ada jeda.


Cinta memandang Bagas seakan meminta pertolongan.


"Jujur saja, cepat atau lambat mereka akan tahu juga,luka anda tak kan sembuh dalam waktu satu hari." Bagas dengan suara pelan, namun masih bisa didengar oleh nyonya Wiraatmadja diseberang telpon sana.


"Sayang,apa kamu sedang dengan seorang laki-laki?" Nyonya Wiraatmadja penasaran.


Cinta memejamkan mata, binggung harus jujur atau berbohong.


"Bund, Cinta baik-baik saja, motor pak Agung...." Cinta memandang karena binggung harus menjawab apa.


"Bengkel." Bagas mengetik dilayar ponselnya dan menunjukkan ke Cinta.

__ADS_1


__ADS_2