
Sementara ditempat lain.
"Prank" Bu Aisyah yang sedang minum tiba-tiba gelas yang dipegangnya jatuh.
"Astagfirullah hal'adzim.Ya Allah,kenapa perasaan hamba menjadi tak enek begini." Bu Aisyah bergumam sendiri sambil mengelus dada.
"Ada apa Bu Aisyah." Bu Asih yang baru saja masuk karena mendengar benda kaca yang jatuh.
"Maaf Bu Asih saya tidak sengaja menjatuhkan gelas." Jawab bu Aisyah.
"Kenapa bu,bu Aisyah kelihatan seperti binggung atau bu Aisyah sakit." Bu Asih menelisik.
"Saya sehat bu Asih.Tapi,entahlah bu Asih, perasaan saya tak enek." Bu Aisyah menjawab pertanyaan bu Asih.
"Kenapa tiba-tiba saya teringat Cinta ya bu Asih,Kenapa saya jadi mencemaskan anak itu,apa terjadi sesuatu dengan Cinta ya bu Asih?" Lanjut bu Aisyah.
"Sebaiknya kita telpon Cinta saja Bu, supaya kita tahu kalau Cinta baik-baik saja." Tutur bu Asih.
Bu Aisyah mengambil sapu untuk membersihkan pecahan gelas tersebut.
"Sini bu Aisyah biar saya saja,bu Aisyah segera telpon Cinta." Tawar bu Asih.
"Ya bu Asih, terima kasih, maaf jadi merepotkan." Bu Aisyah menyerahkan sapu kepada bu Asih.
Bu Aisyah segera menelpon Cinta namun, sudah beberapa kali panggilan tidak diangkat.
"Tidak diangkat bu Asih.Kenapa tambah cemas begini saya,bu." Bu Aisyah semakin cemas.
"Mungkin Cinta masih dikampus bu Aisyah.Kita berdoa saja,semoga tidak terjadi apa-apa dengan Cinta." Bu Asih menenangkan Bu Aisyah.
Sampai beberapa saat kemudian ada notifikasi pesan masuk.
__ADS_1
"Maaf bu, Cinta masih sibuk.Nanti Cinta telepon balik bu.Cinta sayang ibu." Pesan yang terkirim dari ponsel Cinta.
"Alhamdulillah bu Asih, Cinta baik-baik saja, memang sekarang dia lagi sibuk.Nanti Cinta akan telepon balik bu Asih." Bu Aisyah memberitahu bu Asih.
"Alhamdulillah Bu Aisyah." Bu Asih menjawab bu Aisyah.
Sementara itu di rumah sakit Cantika Utama.
Bagas menidurkan Cinta dibrankar rumah sakit.Saat hendak bangkit berasa ada yang menahan tubuhnya.Ternyata tangan Cinta sedang mencengkeram jas yang dikenakan Bagas.Bagas perlahan membuka cengkraman tangan Cinta dan mengantikan dengan telapak tangannya.Kuku Cinta yang panjang menancap dipunggung tangan Bagas.Sesaat Bagas hanya memandangi tangannya yang dicengkram Cinta dengan perasaan yang sulit diartikan.
Petugas medis mendorong brankar menuju ruangan VVIP UGD,Bagas terus mengikuti kemana arah petugas medis itu membawa brankar dengan tangannya tetap dicengkram oleh Cinta.
Leo dan Dion berjalan dibelakang.
"Apa yang terjadi." Dion dengan langkah panjang.
"Kecelakaan." Jawab Leo singkat.
"Ya bisa dokter kan sudah takdirnya." Balas Leo.
"CK.Ngomong sama kulkas bisa darah tinggi." Gerutu Dion.
"Maksud anda dokter."Leo memandang Dion tetapi kakinya terus melangkah.
"Tak ada." Dion sewot.
"Nona Cinta kecelakaan, saat kejadian kita juga ada disitu.Puas, dokter gadungan." Leo dengan menekan kata-katanya.
"Jaga bicaramu tuan Leo." Sentak Dion yang tak terima dikatain dokter gadungan.
"Bagaimana tak dokter gadungan,dilain sisi anda seorang...." Leo tak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Sialan lo." Dion menyikut perut Leo dan mempercepat langkahnya meninggalkan Leo.Sedang Leo tak bergeming.
Selang beberapa menit mereka memasuki ruangan.
Beberapa tenaga medis yang tadi ikut mendorong brankar, keluar dari ruangan tersebut.
Dion mencuci tangan,dan memakai sarung tangan medis bersiap memeriksa Cinta.
"Mau ngapain kamu?" Sentak Bagas.
"Memeriksa pasien." Dion dengan binggung.
"Tak boleh.Panggil kak Cantika.Saya mau kakak yang menangani." Lanjut Bagas.
"Dokter Cantika sedang rapat dengan pak Gubernur,tuan.Dan rapat baru saja dimulai lima menit yang lalu,tuan." Dion menahan geram dan melihat jarum jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan jam satu lewat lima menit.
Bagaimana tak geram,melihat Cinta dalam keadaan seperti itu tetapi Bagas masih saja mengajaknya berdebat.
"Pasien biar saya periksa dulu tuan,baru saya panggilkan dokter Cantika.Nanti keburu..."Dion tak melanjutkan ucapannya.
"Anda menyumpahinya dokter." Bagas dengan marah.
"Mana berani tuan." Dion menundukkan kepalanya.Dan berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Mana berani aku memanggil dokter Cantika,sementara beliau sedang rapat dengan pak Gubernur." Dion dilema diluar ruangan.
"Sebaiknya aku telepon saja."Dion berbicara sendiri.
Beberapa panggilan tidak ada jawaban.Dion memutuskan mengirimkan pesan WhatsApp.
"Dokter Cantika, segera keruang UGD sekarang,tenaga anda sangat dibutuhkan disini dokter."Pesan yang masuk ke ponsel Cantika.
__ADS_1
"Telepon saja tak diangkat apalagi pesan."Dion mengerutu.