
Setelah beberapa saat Bagas menyudahi ciumannya.Bagas memandang Cinta dengan lekat,ada sisa air mata di mata Cinta.Bagas hendak menghapusnya, namun Cinta menolaknya.
"Sebaiknya anda mengenakan baju anda,tuan."Cinta meninggalkan Bagas.
"Maaf." Bagas setelah Cinta melangkah beberapa langkah.
Namun Cinta tak menghiraukannya.
Cinta keluar ruangan ganti dan menutup pintunya.
Sedang Bagas merutuki kebodohannya yang terlalu terbawa emosi.Bagas segera memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Cinta.
Bagas merasa benci kepada dirinya sendir, karena telah membuat orang yang dicintainya menangis.Bukan menjaganya,tetapi malah melukai hati nya.
"Prank." Bagas memukul kaca walk in closet.
Bukan hanya satu,bahkan semua kaca yang ada diruangan ganti telah hancur berantakan.Bagas juga memukul bibirnya sendiri berulang kali.
Bagas duduk diantara pecahan kaca yang ada di ruangan ganti.Bagas terus merenung dan menyesal telah apa yang ia lakukan terhadap Cinta.Bagas tak mempedulikan keadaannya,meski tangan Bagas mengeluarkan Darah.
Tepat tenggah malam,Bagas beranikan diri untuk keluar ruangan melihat keadaan Cinta.
Sementara Cinta yang capek setelah menangis sampai tertidur di sofa.Bagas mengambil selimut, membungkus Cinta dengan selimut tersebut dan memindahkan Cinta ke ranjang miliknya.Bagas menyelimuti Cinta.Bagas telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyentuh Cinta,dan akan melupakan cintanya kepada Cinta.Bagas beranggapan bahwa cintanya untuk Cinta bukan cinta melainkan sekedar opsesi atau hawa nafsu saja,Bagas beranggapan jika dia benar-benar cinta terhadap Cinta,dia tidak melukai hati Cinta tapi kenyataannya Bagas telah melukai hati Cinta.
Bagas terus berlutut sambil menundukkan kepalanya disebelah ranjang Cinta tidur.Meski darah terus mengalir dari kedua tangannya, Bagas tidak menghiraukannya.
Saat azan subuh berkumandang.Seperti biasa Cinta terbang dari tidurnya.Saat Cinta membuka matanya,betapa kagetnya Cinta,ada seorang yang berlutut dihadapan.Cinta mengganti lampu tidur menjadi lampu ruangan betapa terkejutnya Cinta melihat Bagas berlumuran darah.
"Tuan apa yang terjadi jadi." Cinta segera turun dari ranjangnya dan jongkok didekat Bagas.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Bagas ucapkan.
Ingatan Cinta kembali ke kejadian semalam, Cinta segera berjalan menuju ruang ganti, betapa terkejutnya Cinta.Ruang ganti yang semalam rapi sekarang berubah berantakan.
"Ya Rohman." Cinta menutup mulutnya.
Cinta bergegas menghampiri Bagas.
"Tuan luka anda harus segera diobati." Cinta memegang tangan Bagas berniat membantu Bagas berdiri,namun Bagas menghindari Cinta.
"Ini pantas saya terima,nona.Maafkan saya nona."
Cinta semakin cemas,
"Ku mohon tuan,anda bersedia saya bantu berdiri,kita pergi ke rumah sakit." Cinta tak terasa menangis.
"Maafkan saya,nona." Hanya itu yang Bagas ucapkan.
"Tuan,ku mohon." Cinta menangis tambah keras melihat tangan Bagas mengeluarkan darah, bahkan darahnya ada yang sudah mengering dilantai.Ada juga beberapa pecahan kaca yang masih menempel dilengannya.
Sesaat Cinta tersadar.
"Tuan Leo." Cinta mengambil ponsel dan mencari nomor ponsel Leo.
"Sial.Aku belum punya nomor tuan Leo." Cinta mengumpat kesal pada dirinya sendiri.
"Tuan, ponsel anda ada dimana." Cinta celingukan mencari ponsel Bagas.
Karena merasa percuma berbicara dengan Bagas, Cinta mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan mencari ponsel Bagas.Ponsel Bagas ternyata diletakkan diatas meja.Cinta segera mengambilnya dan membukanya.
__ADS_1
"Kenapa harus dikunci."
Cinta putuskan untuk keluar kamar mencari bantuan.Entah kemana Cinta melangkah tanpa tujuan yang terpenting menemukan seseorang.
Saat berada ditangga Cinta bertemu dengan seorang pelayan parubaya.
"Maaf,tuan."
"Ya nona.Bisa saya bantu?"
"Tuan bisa ikut saya."Cinta menyeret tangan pelayan tersebut, pelayan tersebut ternyata pak Man.
"Lebih cepat,tuan."
"Panggil saya pak Man,nona.Saya kepala pelayan disini."
Cinta tak menghiraukan ucapan Pak Man.Cinta menarik tangan pak Man, sampai masuk kedalam kamar Bagas.
"Astaga,tuan muda." Pak Man kaget mengetahui keadaan tuannya.
"Apa yang terjadi,nona."
"Pak Man,tidak penting yang terpenting adalah kita harus bawa tuan muda kerumah sakit."Cinta terus menangis.
Pak Man segera mengambil ponselnya untuk menelpon Leo.Dering kedua Leo baru mengangkatnya.
"Tuan Leo,bisa kekamar tuan muda sekarang."
Leo segera membuka matanya dengan sempurna dan bergegas bangun,menyambar baju piamanya yang diletakkan disofa.Leo berlari kekamar Bagas.
"Ada apa ,pak Man." Leo setelah masuk ke kamar Bagas dan mendapati keadaan Bagas.
"Pak man, siapkan mobil kita ke rumah sakit."
"Pak Man, ambil ponselku dikamar."
Leo mengendong Bagas dan berjalan dengan cepat.
"Saya ikut,tuan Leo." Cinta menyambar ponselnya dan ponsel Bagas dan berlari menyusul Leo.
Setelah Bagas duduk dengan aman.
"Saya ikut,tuan Leo."
"Lewat sana ,nona."
Cinta segera berlari mengitari mobil dan masuk kedalam mobil lewat pintu sebelah.
"Biar saya yang mengemudi." Leo berbicara dengan bodyguard yang siap menjalankan mobilnya.Sang bodyguard melepas sabuk pengaman dan berpindah dikursi penumpang disebelah kemudi.
Leo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, bodyguard yang mengikuti dari belakang sempat kualahan mengejar Leo, beruntung jalan masih lengah karena masih petang.
Perjalanan yang biasa ditempuh satu jam,kali ini ditempuh hanya dua puluh menit.
Tiba di rumah sakit Cantika.Bagas segera mendapat penanganan serius.
Leo mondar mandir didepan ruang UGD.
"Lee,ada apa." Cantika dengan cemas.
__ADS_1
Tak ada jawaban, Cantika memilih untuk masuk ke dalam ruangan UGD.
"Bagaimana?"
"Keadaan sepuluh tahun silam terulang kembali." Dion dengan muka datar.
Kebetulan Dion dapat shift malam saat Leo membawa Bagas ke rumah sakit Cantika.
Cantika memandang Bagas yang tertidur pulas karena Dion telah menyuntikkan obat penenang supaya Bagas bisa istirahat dan tenang.
"Lukanya bagaimana."
"Ada beberapa jahitan."
"Baiklah,Di.Terima kasih."
Cantika dan Dion keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana?" Leo dengan Cemas.
Cinta yang duduk langsung berdiri, melihat dokter keluar dari UGD.
"Sepuluh tahun silam terulang." Dion dengan singkat.
"Apa parah?"
"Kita lihat setelah,dia bangun.Semoga tak kan terjadi apa."
Cinta yang tak tahu harus berbuat apa, hanya diam menyimak perbincangan mereka bertiga.
Karena merasa tak enak hati, Cinta berjalan perlahan meninggalkan mereka bertiga.
Sebenarnya Leo,Dion dan Cantika akan bertanya tentang apa yang terjadi.Namun ketiganya tak enak hati, mungkin ada prifasi diantara Bagas dan Cinta.
Sedang Cinta terus berjalan menuju musholla rumah sakit, Cinta menunaikan sholat subuh dan berdoa untuk kesembuhan Bagas.Disaat Cinta berdoa.diruang UGD Bagas membuka matanya.
Suster yang sedang berjaga segera keluar untuk memberitahu dokter Cantika.
"Dokter.Tuan muda sudah bangun."
Cantika ,Leo dan Dion segera masuk ke dalam ruangan UGD.
"Bagaimana?" Tanya Cantik.
Bagas hanya menggeleng kepalanya.
"Saya ingin bicara dengan kak Leo." Bagas dengan turus mengeluarkan air mata.
Leo memandang Cantika dan Dion.
Cantika dan Dion akhirnya keluar ruangan.
"Kak, bebaskan dia.Batalkan perjanjian itu.Bakar surat perjanjiannya."
"Apa terjadi sesuatu."
"Saya telah melakukan kesalahan yang fatal,kak."
"Mau cerita."
__ADS_1
Bagas menggelengkan kepala.
"Maaf."