
Bagas dan Leo segera menghampiri Cinta.Leo berniat akan ikut memapah Cinta namun tangannya ditepis oleh Bagas.
Cantika dan Restu yang sedari tadi berdiri didepan pintu menyaksikan aksi mereka,segera masuk kedalam ruangan Bagas.
"Kak." Cinta yang mengetahui sang kakak ada dihadapannya.
"Sandiwara apa lagi yang kau perankan?" Restu menyentil dahi Cinta karena tahu Cinta pura-pura kesakitan.
"Ini benar-benar sakit kak."Cinta mengelus dahinya.
Restu mengambil kapas yang sudah diolesi antiseptik dari tangan Cantika.
"Biar saya saja dokter."Restu menempelkan kapas tersebut kelutut Cinta yang terluka.Dengan sedikit kasar, Restu berniat mengerjai Cinta.
"Kak sakit kak." Cinta dengan menarik kakinya sambil menangis menahan perih.
"Halah cemen." Restu meledek.
"Tuan itu benar-benar perih."Cantika dengan serius.
Leo meraih kertas apa saja yang ada diatas meja Bagas untuk mengipasi lutut Cinta.Sementara Bagas meniup dengan pelan luka Cinta.
Restu hanya mampu memandang Cinta yang menangis dan menggerak-gerakkan kakinya untuk mengurangi rasa perih.
"Apa benar-benar sakit?" Restu hendak menyentuh kaki Cinta.
"Jangan pegang.Cinta marah sama kakak.Nanti Cinta adukan sama ayah dan bunda." Cinta terus menangis sejadi-jadinya.
"Dipikir apa tidak sakit." Cinta di sela tangisnya.
__ADS_1
Sebenarnya Leo dan Cantika ingin tertawa melihat kejadian itu,tapi kasihan melihat Cinta kesakitan.
"Apa tak ada obat lain kak yang tak perih."Bagas memandang sang kakak.
"Itu antiseptik untuk menghilangkan kumannya,kalau sudah kering baru dioles salep.Bentar lagi juga kering." Jawab Cantika.
Setelah kering Cantika mengoleskan salep ke luka Cinta.Salep tersebut terasa dingin diluka Cinta.
Cinta mengusap air matanya.
"Tuan Bagas apa anda tak sibuk,bisa antar saya pulang."Cinta berdiri dan melangkahkan kakinya.
"Tidak." Bagas ikut berdiri dan mengikuti langkah Cinta.
Saat dipintu.
"Mengantarkan anda pulang,nona."
"Saya tak meminta anda untuk mengantarkan saya,tuan."
Bagas memandang Cinta, Restu,Leo, Cantika bergantian.
"Saya tadi meminta bantuan tuan Leo,bukan anda tuan."
"Mungkin nama anda sudah melekat dihati dan pikiran adik saya tuan Bagas.Sampai tak sadar menyebut nama anda." Jawab Restu.
"Ayo pulang sama kakak saja." Restu berjalan kearah Cinta dan mengandeng tangan Cinta.
"Tak mau." Cinta menghempaskan tangan sang kakak.
__ADS_1
"Kamu minta diantar tuan Bagas.Sedang diluar sana banyak bahaya yang sedang mengintai tuan Bagas.Jangan egois." Restu memberi pengertian kepada Cinta.
"Bukan begitu kakak.Cinta tak mau sama kakak.Cinta masih marah sama kakak.Cinta naik taxi saja." Balas Cinta.
"Nona pulanglah dengan kakak anda.Itu akan jauh lebih aman dari pada anda naik taxi.Dan terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya ." Bagas dengan membungkukkan badannya sedikit.
"Bukan saya yang menyelamatkan anda,tuan.Tapi Tuhan saya yang memudahkan langkah saya." Balas Cinta.
"Walau bagaimanapun saya berhutang nyawa sama anda nona."
"Ya tuan Bagas ucapan terima kasih anda saya terima.Sekarang kami permisi." Bukan Cinta yang menjawab melainkan Restu.
Jika Restu tak menghentikan mereka berdua maka tak kan berakhir percakapan mereka.
Restu mengandeng tangan Cinta dan berjalan bersama.
Bagas melihat kepergian mereka berdua sampai masuk ke dalam lift.
"Bersabarlah sampai semua terungkap."Leo menepuk pundak Bagas.
Bagas menoleh ke arah Leo.
"Bagaimana?" Bagas berjalan menuju sofa.
"Pelakunya lolos.Plat nomor palsu.Kita tak bisa melakukan penyelidikan lagi." Leo duduk disamping Bagas.
Sedang Cantika mengotak-atik komputer Bagas yang terletak di atas meja.
"Wih serasa melihat film action." Cantika tak berkedip menatap layar komputer.
__ADS_1