
"Kisaran satu jam tuan Leo." Nyonya Wiraatmadja dengan lembut.
Cinta mengeser nasi yang ada dihadapannya dan menggantinya dengan mangkuk kosong, Cinta mengambil mie kuah yang ada dihadapannya.Seperti biasa Cinta berdoa sebelum makan.
Bagas yang melihat isi mangkuk Cinta.
"Anda tidak makan nasi,nona."
"Tidak,tuan.Saya sedang ingin makan mie."
Bagas mengambil pentol daging yang ada dihadapannya dan meletakkan dimangkuk Cinta.Tak hanya itu,Bagas juga menambahkan udang asam manis.
"Ini baru cocok ,nona.Jika anda suka pedas anda bisa menambahkan sambal,itu akan terasa lebih nikmat."
Semua orang memperhatikan tingkah Bagas.
"Terima kasih, tuan.Ini sudah cukup."
Mereka semua makan, dengan disertai candaan.
Saat Cinta makan, rambutnya yang terurai sesekali maju kedepan sehingga membuat harus menyingkirkannya berulang kali.
Bagas berdiri dan mengambil pita yang ada vas bunga ditengah meja,dan mengikatkannya ke rambut Cinta.Seketika Cinta menghentikan makannya dan memandang Bahas.
"Lain kali jika anda makan lebih baik anda ikat rambut anda nona.Jadi anda bisa menikmati makanan anda."
"Oh...so sweet papa.Mama menyaksikan drama Korea live."Nyonya Wiraatmadja mengandeng tangan suaminya dan menaruh kepalanya dilengan suaminya dengan manja.
Tuan Wiraatmadja yang mengetahui Bagas dan Cinta malu oleh ucapan istrinya segera mencairkan suasana.
"Silahkan dinikmati lagi tuan hidangan.Apa ada rasa yang kurang cocok dengan anda,tuan.Supaya bisa diperbaiki."
"Tidak,tuan Wiraatmadja.Ini sudah cocok dengan saya."
"Syukurlah, tuan.Anda ingin nambah, tuan."
"Tidak, tuan Wiraatmadja.Ini saja belum habis.
Anda menyukai drama Korea, nyonya."
"Bieuh, bukan suka lagi ,tuan.Kalau sudah menonton drama Korea. Halilintar,hujan,badai,angin ribut tak akan jadi penghalang,tuan." Bukan nyonya Wiraatmadja yang menjawab namun Cinta.
"Kau menjelekkan bunda mu sendiri,anak muda." Nyonya Wiraatmadja menatap Cinta.
"Mana berani bunda ratu." Jawab Cinta.
"Ish...,itu anak mu pa.Selalu saja bisa buat mama kesal." Nyonya Wiraatmadja berganti memandang suaminya.
"Jangan gitu,bunda.Nanti kalau Cinta menikah.Cinta akan ikut suami Cinta ,bunda akan kangen dengan Cinta." Celoteh Cinta.
"Heee anak muda ,katakan pada suamimu.Jika berani membawamu pergi hadapi dulu bunda." Nyonya Wiraatmadja menepuk dadanya.
"Suamimu saja suruh ditinggal dengan kita." Lanjut nyonya Wiraatmadja.
"Mana mau dia bund,dia pria yang bertanggung jawab, mandiri,tak mau menyusahkan orang lain.Dia juga gengsi kali bund.Harus numpang di mertua." Cinta disela-sela makannya.
"Bawa besok calon suamimu kehadapan,bunda." Nyonya Wiraatmadja dengan serius.
"Apa?" Cinta memandang nyonya Wiraatmadja.
__ADS_1
"Bawa calon suamimu besok kehadapan bunda." Nyonya Wiraatmadja menekan kata-katanya.
"Ish bunda,mana ada." Cinta membuang muka.
"Jadi yang kau bicarakan tadi." Selidik sang bunda.
"Kan Cinta bilangnya kalau.Jadi ya ....." Cinta mengangkat bahunya.
"Ni anak bener-benar,seneng kalau bunda marah." Nyonya Wiraatmadja gemes.
"Mama juga sich, sudah tahu Cinta slalu saja ngerjain mama,tapi tetap aja mama masuk perangkap." Restu sambil mengunyah makanan.
Tuan Wiraatmadja memandang istrinya.
"Kenapa,papa juga akan membela anak gadismu." Nyonya Wiraatmadja dengan menajamkan pendangannya kepala suaminya.
Tuan Wiraatmadja melirik Bagas.
Seketika nyonya Wiraatmadja sadar,dan menutup mulutnya.
"Maaf ,tuan muda." Nyonya membungkukkan kepalanya.
"Tak apa nyonya,jika saya jadi menantu anda ,saya yang akan membela anda nyonya." Bagas dengan santai.
"Tapi maaf tuan muda.Saya sudah tidak akan terkecoh lagi.itu kan jika berarti belum tentu." Jelas nyonya Wiraatmadja.
"Ya sudah anggap saja sekarang saya sedang meminta putri anda, nyonya." Bagas dengan muka datar.
Semua jadi tercengang mendengar ucapan Bagas.Semua pandangan tertuju pada Bagas.
Merasa tak ada yang bersuara,Bagas memandang semua bergantian.
Kenapa anda semua memandang saya begitu.
Jangan katakan jika anda semua menanggapi serius ucapan saya barusan.
Saya hanya bercanda." Bagas dengan tersenyum.
"Huuuh.Jika beneran saya jadi istri anda,saya pasti tidak akan bisa bernafas,tuan.Pasti dileher saya seperti ada rantai besi yang membuat saya susah untuk bernafas." Celoteh Cinta.
"Tak kan,nona.Saya akan bahagiakan anda, apapun permintaan anda akan saya penuhi." Jawab Bagas.
"Tapi maaf tuan,anda tidak masuk kriteria saya." Cinta dengan mengunyah makanannya.
"Kriteria nona seperti apa." Bagas meletakkan sendok dan menyangga dagunya sambil memandang kearah Cinta.
"Karyawan biasa,kita bekerja disiang hari, saat malam hari kita kumpul, ngobrol, diakhiri pekan kita jalan-jalan." Jawab Cinta.
"Kakak tak Setuju." Potong Restu.
"Ish kakak mengganggu imajinasiku saja." Protes Cinta.
"Suamimu harus sesuai kriteria yang kakak inginkan titik." Restu tak terbantahkan.
"Kriteria seperti apa yang tuan Restu inginkan." Bagas masih setia dengan diposisinya.
"Kaya,tampan, mempunyai kedudukan tinggi.
Dan parahnya lagi, tuan.Setelah menikah saya tidak boleh bekerja, dirumah nunggu suami pulang kerja,ngelayanin suami,ngasuh anak." Bukan Restu yang menjawab namun Cinta.
__ADS_1
"Bukankah itu baik,nona"
"Terus gelar sarjana saya mau dikemanakan,tuan."
"Anak-anak kamu juga butuh ibu yang mempunyai gelar,dek."Sahut Resep.
"Cinta kan pingin seperti ayah,bunda,kak.Berjuang sama-sama dari nol, terus kita nikmati hasilnya sama-sama." Cinta memandang kedua orang tuanya.
"Oh...manis sekali anak gadis bunda ini." Nyonya memberi ciuman jauh.
Tuan Wiraatmadja merasa tersanjung atas ucapan Cinta, ternyata selama ini dirinya secara tidak langsung telah memberi motivasi untuk anak gadisnya.
Bagas yang mendengar ucapan Cinta manggut-manggut.
Tak terasa jam sudah menunjukkan 21.00
Bagas sebenarnya engan untuk beranjak dari tempat duduknya.Dan tidak mungkin pula dia akan terus berada disitu.
Bagas memandang Leo.Leo yang paham maksud Bagas segera pamit.
"Tuan nyonya Wiraatmadja, tuan Restu,nona Cinta.Terima kasih atas jamuannya.Kami pamit undur diri."
"Sama-sama, tuan." Tuan dan nyonya Wiraatmadja sama-sama.
Bagas berdiri dan menjabat tangan tuan dan nyonya Wiraatmadja.
"Terima kasih, tuan."
"Sama-sama,tuan." Tuan dan nyonya Wiraatmadja sama-sama.
"Nona, jangan lupa pesan saya." Bagas menjabat tangan Cinta.
Cinta menjadi gugup.
"Tuan Restu, terima kasih." Bagas menjabat tangan Restu.
"Sama-sama, tuan Bagas.Jangan kapok anda berkunjung kemari tuan Bagas." Jawab Restu.
"Tidak akan, Tuan.Saya pasti akan sering-sering berkunjung ke tempat ini, apalagi jika nyonya berkenan membuatkan masakan seperti tadi." Bagas berbicara dengan Restu,namun sempat memandang nyonya Wiraatmadja.
"Dengan senang hati,tuan muda Bagas.Kabari kami jika anda ingin berkunjung,akan saya siapkan permintaan anda."Nyonya Wiraatmadja dengan senyum mengembang dibibirnya.
"Terima kasih, nyonya."Balas Bagas.
"Selamat malam." Bagas membungkukkan badannya sedikit.
Keluarga Wiraatmadjapun membalasnya dengan membungkukkan badannya sedikit.
Keluarga Wiraatmadja mengiringi Bagas dan Leo pergi sampai pintu keluar restoran.
Setelah rombongan Bagas tak terlihat.
"Tadi tuan muda Bagas,pesan apa?" Introgasi Restu.
"Tak ada." Jawab Cinta.
"Jangan bohong."Restu terus mendesak Cinta.
"Pesannya supaya Cinta menurut sama kakak,soal kriteria calon suami Cinta.Puas." Cinta meninggalkan Restu.
__ADS_1