
Restu, Dion dan Leo duduk ditepi ranjang hotel dengan memainkan ponselnya masing-masing.
Saat Leo memutar rekaman kejadian di aula hotel tadi tak sengaja Dion melihatnya.
Dion mendekati Leo ikut menyimak rekaman tadi.Restu yang penasaran dengan yang dilihat oleh kedua rekannya ikut nimbrung melihat rekaman tersebut.
"Tuanmu hebat Lee, waktu kita lihat di aula tadi, Bagas sengaja menyelupkan tangan Steven ke panci kuah bakso.Tetapi dilihat dari sudut cctv seolah tangan Steven berada diatas panci kuah bakso dan menyenggolnya membuat kuah bakso tumpah mengenai tangannya." Dion menanggapi rekaman tersebut.
" Kau tak mengeditnya kan." Dion menatap Leo.
Leo hanya menggelengkan kepala.
"Tangan dia dibelakang gini-gini kak,lihat tangannya gerak-gerak kan." Cinta mempraktek kepinggang Restu.Semua kaget,entah sejak kapan Cinta ikut menyaksikan video itu.
"Kakak bersihkan kak." Cinta dengan air mata yang menetes kembali.
"Nona bukankah hanya pegang kenapa anda seheboh itu." Celetuk Dion.
"Hai tuan.Mudah bagi anda mengatakan itu, tapi tidak dengan saya.Hanya suami saya kelak yang bisa memegang saya" Cinta dengan marah.
Seketika semua jadi tertegun.Tak terkecuali Bagas yang berada di pintu masuk balkon.Bagas yang akan masuk menghentikan langkahnya ketika melihat Cinta merenggek kepada kakaknya.
"Suami anda pasti akan memahaminya nona, jika itu bukan kesalahan anda." Bagas yang berdiri didepan pintu balkon kamar hotel.
__ADS_1
"Ya aku akan memakluminya." Celetuk Dion.
"Maksud tuan." Cinta yang tak mengerti apa yang dimaksud dengan pembicaraan Dion.
"Saya sebagai suami anda,akan memaklumi kejadian itu nona." Dion menjelaskan.
"Tapi sayangnya,saya tidak tertarik dengan menjadikan anda sebagai suami saya, tuan Dion.Saya tertariknya dengan tuan Leo." lanjut Cinta dengan mengedipkan sebelah matanya menatap Leo.
Sementara Leo yang sedang mengecek ponselnya,merasa namanya disebut,mendongakkan kepalanya menatap Cinta dan Bagas bergantian.Saat bertatapan dengan Bagas segera Leo menunduk.
"Tuan Restu pupus sudah harapan saya menjadi adik ipar anda." Dion dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Tak apa tuan,teruslah berjuang sebelum janur kuning melengkung,semua masih bisa diperjuangkan." Tutur Restu.
"Baiklah tuan Restu,saya sependapat dengan anda,saya akan berjuang untuk mendapatkan cinta adik anda." Dion dengan semangat.
"Bagaimana bisa berhasil nona,jika anda sudah menutup hati anda untuk saya, sebelum saya berjuang." Dion tak semangat.
Cinta kekikikan menahan senyum dengan menutup mulutnya.
" Tadi menangis sejadi-jadinya, sekarang cekikikan." Bagas dalam hati sambil menggelengkan kepala.
Semua hanya diam, sampai ketika suara ponsel Restu berdering.
__ADS_1
"Ya hallo paa." Restu menerima panggilan ponselnya.
"Kamu dimana nak." Jawab sang papa diseberang telpon.
"Papa dan mama sudah ingin pulang." Restu tak menjawab, malah bertanya balik.
"Papa dan mama sedang menunggu kalian, kalau kalian ingin pulang sekarang,ayo.Kalau kalian ingin pulang nanti papa dan mama akan menunggu kalian." Jawab tuan Wiraatmadja.
"Pulang sekarang atau nanti." Resu dengan menjauh ponsel dari telinganya.
"Sekarang saja kak." Cinta menjawab.
"Baiklah pa,papa dan mama tunggu saja dipintu keluar kita akan segera kesana." Restu mendekatkan kembali ponsel ketelinganya,dan mengakhiri panggilannya.
Setelah berpamitan Cinta dan Restu segera keluar dari kamar hotel.
Bagas begitu tak ikhlas jauh dari Cinta,tapi bagaimanapun Bagas tak bisa menahan Cinta tetap berada disisinya.Mereka bukan saudara, bukan kekasih.Tak ada alasan untuk menahan Cinta
Bagas galau dalam diamnya.
Tepat saat Cinta dan Restu menutup kembali kamar hotel, pintu kamar hotel didepannya terbuka dan menampakkan seorang wanita parubaya yang keluar dari kamar hotel didepannya dan seorang laki-laki muda dibelakangnya.Mereka saling pandang untuk sesaat,meras tak mengenal orang tersebut Restu segera menarik tangan Cinta menuju lift diujung lorong.
"Kak,wanita tadi apa ibunya pria tadi ya kak,tapi.... rasa-rasanya kok aneh ya kak, tak ada kemiripan.Atau mereka sepasang suami istri atau...." Sesaat mereka memasuki lift.
__ADS_1
"Tak usah urusi orang lain,urusi saja diri kita sendiri,kita belum tentu lebih baik dari mereka." Potong Restu.
Cinta hanya mengangguk kepalanya.