
Ditempat lain, Cinta yang keluar restoran mengetahui kakaknya mengejar, keluar ide jahilnya.Cinta segera sembunyi dibalik vas bunga yang besar sehingga menutupi tubuhnya.
Diluar restoran Restu celingak-celinguk tiba-tiba...
"daaaahhh." Cinta dari belakang.
"Nakal ya..."Restu mengacak-acak rambut Cinta.
"Yuk..." Restu mengandeng tangan Cinta menuju ke parkiran.
"Kita tunggu ayah dan bunda sekalian saja kak." Cinta dengan mensejajarkan langkahnya.
"Kamu kirim pesan saja ke handphone mama." Restu merogoh saku celana mengambil kotak mobil.
Tanpa menjawab Cinta mengambil handphone dari dalam tasnya dan mengirim pesan WhatsApp melalui handphonenya.
"Sudah berani."Restu mengoyang-goyangkan kontak mobil didepan muka Cinta.
Cinta nampak ragu menerima,masih terbayang di matanya,terakhir Cinta mengendarai mobil hampir mencelakai pengguna jalan lainnya.Cinta hampir saja menabrak pengendara motor yang berlawanan arah denganya.Pengendara itu terlalu banyak menggunakan jalur yang dilalui Cinta.Sehingga Cinta yang panik membanting setir kekiri,dan Cinta menabrak pagar milik warga membuat beberapa bagian mobil depan lecet.Cinta merasa takut dan tak enak hati karena mobil milik ayahnya banyak yang lecet meski masih bisa diperbaiki.
"Ayo." Restu memaksa Cinta masuk kedalam mobil duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
"Tapi kak, Cinta masih takut." Cinta menatap kakaknya yang masih berdiri disampingnya.
"Berdoa,kata kamu Prasangka Tuhan tergantung prasangka hambaNya,Jika kau berprasangka baik maka Tuhan akan mengabulkan begitu sebaliknya." Restu yang masih ingat betul ucapan Cinta.
Cinta menganggukkan kepalanya.
Setelah menyelesaikan makan malamnya tuan dan nyonya Wiraatmadja menuju parkiran mencari mobil putranya.
Setelah menemukan, tuan Wiraatmadja membukakan pintu untuk istrinya dan menyusul istrinya masuk ke dalam mobil.
"Sayang kamu yang nyetir.Emang sudah bisa?" Sang bunda yang sudah duduk dengan nyaman di bangku penumpang belakang Cinta.
Nyonya Wiraatmadja yang mengerti maksud suaminya.
"Lest go kita pulang." Dengan gembira.
"Berdoa dulu." Restu yang mengetahui Cinta sedang gugup.
Cinta menganggukkan kepalanya seraya berdoa.
Cinta dengan pasti memasukkan kunci mobil ketempatnya dan mengesernya ke kanan sehingga mobil siap untuk dikemudikan, Cinta menginjak pedal gas dengan hati-hati membuat mobil pun melaju dengan teratur.
__ADS_1
Mereka tiba didepan pagar rumah dengan selamat,meski dengan kecepatan sedang Cinta mampu mengendarai mobil dengan baik.Meski disetiap jalan sepi Restu selalu menyuruh Cinta dengan kecepatan tinggi.
"Sekarang bawa masuk sekalian ke garasi mobilnya." Restu yang masih setia duduk disebelah Cinta.
Cinta memandang Restu.
"Sekalian belajar." Restu melepas selfbelt sambil memberi aba-aba ke Cinta.
Tanpa menjawab Cinta menginjak pedal gas pelan-pelan dan masuk kepekarangan depan rumah, menuju garasi yang ada dibelakang rumah, yang disana juga sudah anda beberapa mobil yang parkir dengan rapi.
Cinta menghembuskan nafas kasar dan menyandarkan badannya disandaran bangku kemudi seraya menutup mata dan berdoa dalam hati melepas kelegaan.
"Ayo keluar,apa perlu kakak gendong.Takutnya kaki kamu gemetar tak bisa jalan, atau jangan-jangan kamu sudah ngompol." Ledek sang kakak sambil membuka pintu mobil.
"Huuhh."Cinta membuka pintu mobil dan keluar menyusul kakaknya.
Diikuti ayah dan bundanya.
Mereka masuk kedalam rumah.
Hari-hari berikutnya Cinta lalui dengan lancar.Kegiatan sahari-hari Cinta disibukkan dengan kuliah dan membantu diretoran milik ayah bundanya.Tiap akhir pekan Cinta selalu menyempatkan diri mengunjungi panti untuk melepas rindu.
__ADS_1