
Cinta merebahkan badannya disofa kantor sang kakak, Cinta merasa dikampus hari ini melelahkan.
"Ada apa?" Restu melirik disela-sela kesibukannya mengecek dokumen-dokumen.
"Cinta capek banget kak,tadi disuruh bantu dosen ngecek tugas temen-temen." Cinta dengan nada tak semangat.
"Cinta boleh tidur bentar kak,nanti bangunin Cinta jam dua.Cinta juga belum shalat tapi Cinta capek banget,pusing rasanya kepala Cinta." Cinta dengan membalikkan badan menjadi tengkurap.
Restu tak menjawab, hanya memperhatikan Cinta dari meja kerjanya.
Selang beberapa menit terdengar dengkuran halus.
"Dia benar-benar capek." Restu dalam hati.
"Kreet." Suara pintu terbuka.Memperlihatkan kedua orang tuanya.Sang mama membawa paper bag ditangannya.
"Kenapa ni anak?" Nyonya Wiraatmadja duduk diseberang Cinta dan meletakkan paper bag diatas meja yang berada didepannya.
"Hust" Restu menempelkan jari telunjuk ke mulutnya, memberi isyarat kepada kedua orang tuanya, supaya tidak berisik.
Nyonya Wiraatmadja menutup mulutnya.
Mereka hanya diam tanpa ada sepatah katapun.
Tuan Wiraatmadja mensandarkan badannya disandaran kursi, menengadahkan kepala sambil menutup mata.
Sang mama memilih tidur disamping papanya dengan paha papanya sebagai bantal.
Restu yang melihat keduanya.
__ADS_1
"Kenapa pada tidur semua."
Jam menunjukkan pukul 2.
Restu menepuk-nepuk pipi Cinta.
"Bangun katanya mau sholat, sudah jam dua."
Cinta dengan perlahan membuka matanya dengan malas.
"Masih ngantuk." Restu yang masih jongkok didekat Cinta.
Cinta perlahan bangun.
"Minum ini dulu." Restu menyodorkan air putih dihadapan Cinta.
"Kak." Cinta memandang kedua orang tuanya seng tidur disofa depannya.
Restu mengikuti pandangan Cinta.
Restu menganggukkan kepalanya.
Cinta mengambil handphone dari dalam tasnya dan memotret kedua orang tuanya.Cinta menjadikan hasil jepretan kamera handphonenya menjadi status diwhatsaap dihandphonenya dengan ditambahi kalimat" l love you."
Cinta cekikikan menahan senyumnya, sambil berjalan jinjit keluar ruangan kakaknya untuk mengerjakan sholat.
Sebelum keluar ruangan sang kakak, Cinta meminta izin untuk mengerjakan sholat dulu dengan menggunakan isyarat tangan takut membangunkan kedua orang tuanya.
Restu menganggukkan kepala tanda mengerti yang maksud Cinta.
__ADS_1
Sepeninggal Cinta.
Nyonya Wiraatmadja mengeliat, membuat tuan Wiraatmadja yang sedang tidur ikut terbangun.
"Dimana Cinta?." Nyonya Wiraatmadja yang tak mendapati sang anak didepannya.
"Sedang sholat ma...." Restu yang tak mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ada didepannya.
Nyonya Wiraatmadja menggerak-gerakkan badan yang pegal.
"Ya Tuhan nikmatnya bisa tidur siang meski sejenak." Nyonya Wiraatmadja mengucapkan syukur.
Beberapa menit kemudian Cinta masuk dengan muka yang segar.
"Sudah bangun ayah bunda." Cinta duduk dihadapan orang tuanya.
"Sayang nanti malam ikut kepesta ya...kita sekeluarga diundang kolega ayah.Acara ulang tahun istrinya.Dan pakai ini ,kamu pasti kelihatan tambah cantik,mama juga sudah membuat janji dengan MUA buat kita dandan,siapa tahu disana ada rejeki." Nyonya Wiraatmadja mengeser paper bag kedepan Cinta.
Yang dimaksud rejeki oleh Nyonya Wiraatmadja adalah kenel dengan orang-orang kaya dan orang-orang yang berpengaruh untuk mengenalkan usaha restorannya.Syukur ada yang kecantol menggunakan restorannya.
"Jam berapa Bun?" Cinta dengan mengambil paper bag yang ada didepannya.
"Jam 19.00 kita berangkat." Tuan Wiraatmadja menyahut.
"Ok bun, nanti bunda make up dulu saja.Cinta make up-nya sehabis bunda, Cinta kan harus sholat dulu." Cinta mengintip isi paper bag.
"Tak masalah." Jawab sang bunda.
Ini yang membuat kagum tuan Wiraatmadja.Cinta tidak akan pernah meninggalkan ibadahnya.
__ADS_1