
"Sudahlah kak, jangan mengoda kak Leo.Dia tak kan tahan jika kakak terus menggodanya." Bagas memandang kakaknya.
Dering ponsel Cinta disaku blazernya berbunyi,semula mereka mengabaikannya karena mereka anggap tidaklah penting.Namun ponsel itu terus berdering sampai berkali-kali.Setelah tak berbunyi Bagas yang penasaran merogoh ponsel Cinta yang ada di saku blazer yang dikenakan Cinta dan membukanya.Katakanlah itu tak beretika, tetap dipikirkan Bagas mungkin ada seseorang yang sedang mencemaskan Cinta.
"Ceroboh sekali kenapa tidak dikunci?"
Melihat panggilan masuk,tertulis "ibuku sayang".Bagas membuka isi pesan WhatsApp dari kontak "ibuku sayang" dan melihat beberapa pesan sebelumnya.Setelah paham bahasa yang digunakan Cinta bercakap-cakap dengan ibunya,Bagas mengirimkan pesan ke nomor tersebut dengan ditambahi "Cinta sayang ibu" karena disetiap akhir pesan yang terkirim, Cinta selalu menggunakan kata-kata itu.
Bagas mematikan nada dering ponsel Cinta dan memasukkannya ke saku jasnya.
"Tolong dia kakak." Bagas memandang Cinta yang setia memejamkan matanya.
Cantika mengikuti arah pandangan sang adik.
"Kamu mencintainya dek?" Cantika sambil berlalu menuju westafel untuk mencuci tangan, mengeringkan tangan dan memakai sarung tangan medis.
Cinta melakukan serangkaian pemeriksaan.Sekilas terlihat normal.
Cantika membasahi kapas dengan alkohol dan meletakkan didepan hidung Cinta,membuat Cinta sadar dari pingsannya.
" Buuuu ibuuu." Kalimat pertama yang diucapkan Cinta ketika siuman dari pingsannya.
__ADS_1
"Nona apa anda mendengar suara saya?" Bisikan Cantika ditelinga Cinta.
Cinta hanya mengangguk kepala satu kali dan tambah mempererat cengkraman ditangan Bagas.
"Apa yang anda rasakan sekarang,nona." Cantika tetap membisikan di telinga Cinta.
"Tenanglah nona,saya dokter yang menangani anda." Lanjut Cantika.
"Semua terasa berputar dokter,kalau saya berusaha membuka mata dan bergerak sedikit saja berputarnya semakin hebat." Balas Cinta dengan nada lemah seraya memejamkan rapat-rapat matanya.
"Dion pasang alat bantu pernafasan,pasang infus dan pasang juga alat penyanga leher." Cantika memerintahkan Dion.
"Apa kakak tidak bisa melakukannya sendiri." Bagas dengan muka datar.
"Sedari tadi saya ingin menangani pasien dok, tetapi tuan muda Bagas tidak mengizinkannya dok." Dion menekan kata-katanya.
"Apa ada yang serius dok." Lanjut Dion dengan cemas.
"Tidak ada, mungkin sakit kepalanya akibat benturan yang keras.Dibantu penyangga leher supaya kepalanya tidak bergerak untuk sementara dan untuk mengurangi rasa sakit kepalnya.setelah sakit kepalanya sedikit reda, kita bisa melakukan rontgen untuk mengetahui apa ada luka dalam, sekilas pengamatan saya tidak ada yang serius." Jelas Cantika.
"Dion bawa kesini." Cantika menunjuk meja dorong yang sudah siap dengan alat-alat yang dibutuhkan Cantik.Cantika memasang infus, alat bantu pernafasan dan penyangga leher.
__ADS_1
Cantika juga membersihkan luka dan darah yang ada dikedua kaki Cinta, tiba-tiba Cantika sadar akan sesuatu.
"Dik, bukankah kamu pobia darah." Cantika menatap Bagas.
Bagas menganggukkan kepalanya.
"Oh Tuhan ternyata dia membawa keberuntungan." Lanjut Cantika.
Luka Cinta dilutut yang dibersihkan Cantika terus mengeluarkan darah.
"Jaga pandangan kalian." Bagas dengan suara tegas.
Ya setelah Cantika membersihkan kaki Cinta,terlihatlah kaki jenjang putih dan mulus milik Cinta.Membuat Bagas tak rela jika itu menjadi pemandangan pria lain.
Leo langsung membuang muka, sementara Dion dan Cantika saling berpandangan.
"Oh Tuhan." Cantika sambil tersenyum.
"Dion ini perlu dijahit, siapkan." Perintah Cantika.
"Suntik bius dulu Dion." Lanjut Cantika.
__ADS_1
"Siap dokter." Jawab Dion.
Cantika dengan cepat dan tepat menjalankan aksinya menjahit luka sobek dibagian lutut Cinta.