
"Sebaiknya mama telpon Cinta." Tuan Wiraatmadja dengan cemas juga.
Nyonya Wiraatmadja segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan segera melakukan panggilan ke ponsel Cinta, berkali-kali melakukan panggilan namun tidak diangkat.
"Tidak diangkat,pa." Nyonya Wiraatmadja memandang suaminya.
"Sebaiknya kita kembali ke restoran saja,siapa tahu Cinta sudah kembali." Tuan Wiraatmadja menenangkan istrinya.
Nyonya Wiraatmadja dan Sari menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Sementara di rumah sakit.
Bagas masih setia menemani Cinta.
Dion masuk ke dalam ruangan dengan membawa obat yang sudah diresepkan Cantika.
"Sini aku obati tangan kamu,atau kamu nunggu dia kasih plaster ditangan kamu, seperti di drama Turki." Dion memandang pegangan tangan Cinta ke Bagas yang sedikit mengendor.
"Aku tak kan mati hanya dengan luka ini." Bagas menarik perlahan genggaman tangannya,namun sedikit Bagas melakukan gerakan, Cinta mengeratkan genggaman tangannya.
Bagas dan Dion saling beradu pandang.
"Sudahlah biarkan begitu." Sahut Dion.
"Kalau bisa segera minum obat agar sedikit reda pusingnya dan kita segera melakukan rontgen dan bisa pindah kamar." Dion memandang Bagas.
"Dia sedang tidur." Jawab Bagas.
"Kita tunggu saja." Lanjut Dion.
__ADS_1
Cinta semakin mencengkeram tangan Bagas.
"Nona,anda bisa mendengar saya."Bagas dengan membungkukkan badannya.
Cinta menganggukkan kepala satu kali dengan pelan.
"Bisa minum obat." Lanjut Bagas.
Cinta menganggukkan kepalanya lagi.
Dion membantu mengeser bankar sedikit agak tegak.Dion menyerahkan air minum dan obat bergantian.Bagas membantu Cinta minum obat.
"Apa masih begitu sakit." Bagas begitu dekat, sampai napas Bagas dapat Cinta rasakan.
Cinta menganggukkan kepalanya satu kali dengan perlahan.
"Ya sudahlah istirahatlah." Lanjut Bagas.
"Beri waktu beberapa menit lagi." Bagas memandang Dion.
Dion menganggukkan kepala.
Selang beberapa waktu tidak ada yang bersuara diantara mereka.
Sampai Cinta membuka matanya perlahan, membuat Bagas bangkit dari duduknya.
"Tuan Bagas."Dengan lemah.Perlahan Cinta melepas genggaman tangannya dan berusaha membuka alat bantu pernafasan.
"Bagaimana,apa masih sakit kepalanya." Bagas memandang Cinta.
__ADS_1
"Sudah jauh lebih baik,tuan." Cinta memandang Bagas.
"Tuan, bagaimana mana bisa anda ada disini." Lanjut Cinta.
"Tak penting, dokter akan melakukan rontgen untuk mengetahui apa ada luka dalam yang serius.Apa kamu sudah siap." Bagas menatap Cinta.
"Ya,tuan." Cinta dengan pelan.
"Lakukan sekarang." Bagas memandang Dion.
Dion segera keluar dan memanggil beberapa tenaga medis untuk membantu mendorong brankar ke ruang rontgen.
Setelah melakukan rontgen, brankar Cinta didorong keruangan yang begitu luas.Disitu ada tempat tidur yang cukup besar,ada sofa, dilengkapi ac.Terlihat ruangan itu bukan ruangan rumah sakit,namun terkesan seperti kamar tidur biasa.
Beberapa tenaga medis izin pamit keluar ruangan.
"Jika perlu sesuatu, segera hubungi aku."Dion sebelum meninggalkan ruangan.
Bagas menganggukkan kepalanya.
Cinta menutup mata, mengingat serangkaian kejadian yang ia alami.
Cinta membuka mata, menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan.
"Tuan, bagaimana anda bisa berada disini." Cinta memandang Bagas.
"Sudahlah itu tak penting nona, yang terpenting adalah kesembuhan anda nona.Atau ada keluarga anda yang ingin anda hubungi,nona" Bagas merogoh ponsel disakunya dan menyerahkan ponsel milik Cinta.
Cinta memandang ponselnya yang berada ditangan Bagas.
__ADS_1
"Tuan Bagas,anda tahu bagaimana nasib dokumen yang saya bawa." Cinta mengambil ponsel dari tangan Bagas dengan perlahan.
"Semua sudah aman nona,dokumen itu sudah ada di Utama Group dan Utama Group sudah bersedia bekerja sama dengan DnC Restaurant." Jelas Bagas.