Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 57


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Sandra, Niki mencari tahu tentang kelanjutan hubungan Indra dan Sandra. Hingga akhirnya Niki mengetahui bahwa Sandra telah berbohong mengatakan jika dirinya akan segera menikah dengan Indra.


Sudah kuduga, pasti gak mungkin kamu menikah dengan Indra secepat ini, batinnya.


"Mikirin apa sih Mas? Serius banget mukanya?" Teny datang menghampiri Niki dan menyodorkan secangkir kopi.


Niki mengusap wajahnya dan meminum sedikit kopi yang disuguhkan oleh Teny.


"Aw ... Panas banget sih" kata Niki.


Sementara Teny tersenyum melihatnya "Ya memang masih panas Mas.. Kamu ada-ada aja, lagian mikirin apaan sih? kerjaan?" tanya Teny yang lanjut duduk di kursi sebelah Niki.


"Sebenernya apa sih yang membuat kamu mau memperbaiki rumah tangga kita?" tanya Niki tiba-tiba kepada Teny.


"Ko kamu nanyanya gitu sih Mas?" Teny.


"Ya aku aneh aja, udah 5 tahun kamu baru mau memperbaiki semuanya .. Aku pikir kamu bertahan hanya karena Rizal?" Niki.


Ya ... memang itu satu-satunya alasan kenapa aku bisa jadi seperti sekarang Mas.Kalau bukan karena anak kita, mungkin aku sudah pergi dari kehidupanmu. Gumam Teny.


Teny menarik nafas dalam, "Entahlah Mas, semua mengalir gitu aja .. Entah sejak kapan dan bagaimana aku bisa memulai untuk memperbaiki semuanya. Meskipun semua karena Rizal, apa aku salah? Apa Mas keberatan?"


"Hmm .. Aku pikir sebelumnya malah gak sama lagi kamu akan meninggalkanku" Niki.


"Apa alasannya aku harus pergi meninggalkan kamu Mas? Selama ini kamu masih memberi nafkah pada kami, semua yang kami butuhkan masih kamu penuhi .. Gak ada alasan buat aku pergi ninggalin kamu" suara Teny lirih seolah ingin mengeluarkan semua kata yang terpendam dalam hatinya.


"Meskipun kamu tahu aku sering tidur dengan wanita lain?" Nikipun sedang mencari celah untuknya bisa menjelaskan tentang apa sedang dia rasa saat ini.


"Sudahlah Mas, untuk itu akupun memang bersalah .. Aku gak bisa penuhi hasrat kamu. kita lupakan tentang itu .." Teny.

__ADS_1


"Semudah itu kamu bisa melupakan semua yang terjadi selama 5 tahun ini?" Niki.


Teny menatap dalam wajah Niki, "Gak ada yang sulit Mas, hanya hati kita yang selalu menuruti ego hingga membuat semua menjadi serumit ini .. Aku sudah pikirkan semuanya dengan matang ! Apa Mas keberatan jika aku ingin berubah dan memulai semuanya seperti dulu saat kita pertama menikah?"


"Entahlah .. Aku merasa sudah begitu kotor untuk bisa menjadi seperti dulu, aku gak bisa menjanjikan semuanya akan indah .. Tapi akan aku usahakan" Niki mengurungkan niatnya untuk menjelaskan bahwa saat ini ada wanita lain dalam hatinya yang sangat ia cintai selain istri yang sedang bersamanya.


"Sudahlah Mas .. Gak ada gunanya saling menyalahkan. Kamu mungkin akan tetap menjadi suami yang baik jika aku gak pernah berubah" Teny menggenggam erat tangan suaminya meyakinkan bahwa ia sungguh-sungguh ingin memulai semuanya dari awal.


Perasaan Niki saat ini benar-benar kebingungan. Disatu sisi, dia ingin membuktikan pada Sandra bahwa dia bersunggu-sungguh atas perasaannya. Namun disisi lain, ada sosok yang lebih berhak memintanya untuk tetap tegak berdiri disampingnya.


Niki mencium tangan Teny cukup lama dan Teny tersenyum mengusap kepala Niki.


#########


Keesokan hari setelah Niki berangkat kerja, datang seorang wanita kerumah Niki.


"Assalamualaikum Ade, Ayahnya ada di dalem gak?" tanya wanita itu kepada Rizal yang sedang bermain di teras.


"Ada siapa De?" tanya Teny setengah teriak sembari berjalan keluar. "Loh .. Kamu? Ada apa ya? Mari masuk .." Teny kaget melihat kedatangan wanita yang ia kenali yang tak lain adalah Rani, wanita simpanan Niki.


"Ma,maaf sebelumnya Mbak kalo kedatangan saya mengganggu" ujar Rani.


"Gapapa, ayo masuk dulu .. Biar saya buatin minuman" pinta Teny.


"Ng .. nggak usah Mbak, saya mau ketemu Mas Niki, tapi Mas Nikinya kan lagi ke kantor? Biar nanti saya balik lagi" Rani gelagapan bicara dengan Teny yang tak sedikitpun marah atau emosi melihatnya padahal ia tau betul bahwa Rani adalah wanita simpanannya.


"Gapapa, ayo masuk dulu .. Kasian udah jauh-jauh datang masa balik lagi" Teny menarik tangan Rani membawanya masuk kedalam rumah. "Duduk dulu aja ya, saya buatkan minuman dulu .." lanjutnya.


Rani mengangguk mengiyakan. Matanya berputar mengelilingi ruangan yang penuh dengan potret kebahagiaan rumah tangga Niki dan keluarganya. Tak terasa matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


Ya Tuhan .. Apa aku tega merusak kebahagiaan mereka ? Apalagi Istrinya baik banget meskipun dia tau aku ini simpanan suaminya. Batinnya.


"Kamu kenapa?" Teny datang membawainuman dan menyuhuhkannya, ia heran melihat mata Rani berkaca-kaca.


"Gapapa Mbak .." Rani menyeka matanya dengan tissue.


"Apa kamu ada perlu yang penting sampe harus datang kesini?" tanya Teny.


"Ng .. Eh .. Nggak Mbak, saya cuma mampir aja kebetulan lewat dan udah lama juga saya gak ketemu sama Mas Niki" Rani terpaksa harus berbohong, padahal ia memang sengaja datang untuk menemui Niki karena dua minggu ini Niki tidak menghampirinya dan nomor handphonenya diblokir.


"Kamu gak bohong kan?" rupanya Teny mengetahui jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rani.


"Nggak ko Mbak .. Ya udah, saya pamit ya Mbak ." Rani sudah beranjak dari duduknya berniat pulang. Namun Teny menarik kembali tangannya.


"Tunggu .. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu" ucap Teny.


Deg .. Jantung Rani sudah ingin copot rasanya mendengar Teny ingin berbicara dengannya. Ia kemudian duduk kembali dan mengurungkan niatnya untuk kembali.


"Sudah sejauh apa hubungan kamu sama Mas Niki? Apa kalian sudah menikah?" tanya Teny sedikit berbisik takut jika ada orang lain mendengar pembicaraanya.


Rani hanya tertunduk, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tak menyangka jika wanita yang selama ini begitu buruk dalam mata dan pikirannya sehingga suaminya berpaling darinya ternyata adalah wanita yang lembut.


"Kenapa? Santai aja .. Anggap saya temen kamu, saya gak akan menghakimi kamu. Kita sesama wanita, saya tahu betul bagaimana rasanya jika ada diposisi kamu" kata Teny.


Rany semakin tertunduk malu dengan dirinya sendiri. Airmatanya kini tak bisa tertahan lagi, pipinya sudah basah dengan buliran bening dari matanya hingga suaranya terisak.


Teny yang semula duduk di sebrangnya, kini mendekat menghampirinya. Merangkulnya, mengusap punggungnya seolah memberi kekuatan. Tak ada sedekitpun kebencian yang terlihat dari matanya.


Rani mampu bicara setelah menarik nafas meski bicaranya sedikit terisak. "Mbak .. Kenapa Mbak baik banget? Padahal Mbak tau aku ini wanita simpanan suami Mbak."

__ADS_1


Teny tersenyum, "Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan emosi dan kekerasan, bukan?" ujarnya. "Selama masih bisa damai dengan kelembutan, gak ada gunanya menebar kebencian" jelas Teny yang semakin membuat Rani merasa bersalah.


Bersambung 💕


__ADS_2