
Sebelum tidur, Sandra memasang alarm pada handphonenya agar ia tak terlambat. Karena jalanan pada siang hari akan sangat macet dan sangat melelahkan.
"Gak mau beli apa dulu, gitu?" tanya Niki sebelum bergegas tidur.
"Nggak usah lah," Sandra segera naik ke atas ranjang dan mematikan lampu.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Niki lalu menghabiskan malam terakhirnya di villa dengan olahraga malamnya.
"Mas..." lirih Sandra.
"Terakhir yank!" ujar Niki tak pedulikan dan tetap menciumi seluruh tubuh Sandra dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
Sandra pasrah tak dapat lagi menolak. Ia menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Niki hingga mencapai puncaknya.
Niki mencium kening Sandra cukup lama.
"Makasih ya, sayang!" ujarnya.
Sandra hanya tersenyum tipis menjawab ucapan Niki.
Mereka kemudian memejamkan matanya hingga suara alarm membangunkan keduanya.
Niki memeluk Sandra dengan erat.
"Jangan sekarang dong,Mas. Kalo terlambat nanti kita kejebak macet," Sandra mencoba mengangkat tangan Niki.
"Morning kiss," tunjuk Niki pada bibirnya.
"Mandi dulu, baru kiss-kissan!" bantah Sandra.
"Ya udah, Mas gak mau bangun kalo gitu." Niki memasang wajah cemberut dengan mata yang masih terpejam dan masih memeluk Sandra dengan erat.
Melihat kelakuan suaminya, Sandra tau sekeras apapun ia menolak, tetap pada akhirnya akan luluh. Ia menangkas semua rasa malunya di hadapan Niki.
Gak apalah..toh di depan suami ini, batinnya.
Akhirnya, untuk mempercepat waktu ia mencium bibir Niki. Dengan begitu, akhirnya Niki mau membuka matanya.
"Mandi bareng ya?" ajak Niki antusias.
"Terserah deh!" Sandra bangkit dari atas ranjang dan segera bergegas ke kamar mandi di ikuti oleh Niki.
Mereka menyelesaikan aktivitas di dalam kamar mandinya dengan kilat, mengingat mereka harus segera berangkat untuk kembali ke rumahnya.
Setelah selesai, mereka keluar dari kamar mandi bersamaan. Sebelum mencari pakaiannya, Sandra lebih dulu menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Sementara Sandra memakai baju dan berias, Niki membawa barang bawaannya dan memasukan ke dalam bagasi mobil.
__ADS_1
Secepat kilat, Sandra sudah selesai berdandan dan bersiap untuk segera berangkat.
"Udah siap?" tanya Niki.
"Ayo!" ajak Sandra.
"Gak ada yang ketinggalan, kan?" Niki celingukan mencari-cari barangkali ada barangnya yang tertinggal di villa.
Mereka meninggalkan villa dan melajukan mobilnya tanpa pamit lagi kepada keluarga Sandra.
Butuh waktu 5 jam untuk mereka bisa kembali ke kontrakannya.
"Dari mana aja, Ibu kira kalian pindah gak pamit kaya yang udah-udah," ujar tuan rumah yang melihat Sandra turun dari mobil.
"Eh, Ibu. Nggak ko Bu, kita abis dari pantai! ini ada sedikit oleh-oleh buat Ibu!" Sandra memberikan tas kecil yang berisi baju pantai dan akaesoris yang sengaja ia beli di perjalanan menuju pulang.
Jarak pemilik kontrakan memang berada tepar di depan kontrakan yang mereka tempati.
"Aduh, jadi ngerepotin, Makasih ya!" pemilik rumah sangat senang atas pemberian Sandra.
"Iya Bu, sama-sama. Kita masuk dulu ya,Bu." pamit Sandra.
Mereka masuk ke dalam rumah, merebahkan tubuhnya di atas kasur busa berukuran 100x200cm yang hanya muat untuk 1 orang saja.
"Ih, sempit banget sih. Jauh banget sama kasur di rumah, apalagi di villa," Sandra memelas setelah Niki juga merebahkan diri di sampingnya.
"Mulai ngeluh?" ujar Niki menengok ke arah Sandra.
"Kamu gak keberatan uang simpanan kamu di pake?" tanya Niki.
"Nggak lah Mas, kan bukan di pake hura-hura," lirih Sandra.
"Mas juga sebenarnya ada sedikit tabungan, tapi uang itu tadinya Mas kumpulin buat memulai usaha lagi," jelas Niki.
"Ya udah Mas, gak apa-apa ko, simpen aja! pake uang aku aja," jawab Sandra.
"Ini, kamu pegang aja! Mas percayakan sama kamu!" Niki merogoh kartu dalam dompetnya dan memberikannya pada Sandra.
"Udah, Mas pegang aja! itu buat pegangan Mas siapa tau besok atau lusa Mas butuh," Sandra menolaknya dan memberikan lagi kartunya pada Niki.
"Ini ATM gaji Mas, kamu wajib pegang ya." Niki membuka telapak tangan Sandra dan memberikan ATMnya.
Sandra menerima dan menyimpannya.
Setelah dirasa lelahnya sudah mulai berkurang, mereka melanjutkan rencananya untuk membeli beberapa barang pengisi rumah.
Niki membawanya ke sebuah Toko perlengkapan rumah tangga. Sandra membeli Kasur busa dengan ukuran bigsize, peralatan masak, peralatan makan, kipas angin, lemari baju dan televisi.
__ADS_1
Melihat begitu banyak yang di beli oleh istrinya, Niki merasa malu sendiri. Harusnya ia yang menyediakan semuanya untuk Sandra.
"Yang, apa gak berlebihan? Emang uang kamu cukup?" ucap Niki.
"Cukup ko, Mas tenang aja. Ini uang yang aku kumpulin untuk biaya kuliah, aku sepertinya udah gak tertarik lagi buat kuliah. Jadi mending uangnya dipake buat beli perabotan aja," jelas Sandra.
"Loh..kenapa? Bukannya kamu niat banget pengen kuliah? Kalo gitu pake uang Mas aja ya, uang kamu biar di simpen aja buat biaya kuliah kamu, tar Mas tambahin kalo ada rezeki lebih," tutur Niki.
"Gak usah Mas. Gak apa-apa ko, lagian aku rasa akan sulit buat ngebagi waktunya kalo aku kuliah sambil harus jalanin kewajiban aku sebagai istri. Aku udah pikirin semuanya ko," jelas Sandra.
"Kamu yakin?" tanya Niki meyakinkan.
"Iya Mas..yakin banget malah, Mas ada yang mau di beli?" jawabnya.
"Gak pilih-pilih kulkas? Biar bisa simpen makanan kali aja tengah malem laper kan?" usul Niki sambil berjalan ke arah deretan kulkas.
"yang ini aja, ya?" tanya Niki mengamati sebuah kulkas satu pintu.
"Mbak! yang ini ya!" teriak Niki pada seorang pelayan.
Sandra membayar semua barang yang sudah di belinya.
"Kurang gak?" Niki mengeluarkan dompet.
"Udah ko," sahut Sandra.
Setelah selesai, mereka keluar dari toko teraebut melanjutkan perjalanan untuk mencari makanan karena sedari pulang tadi mereka hanya makan baso saja.
Mereka memilih makan di lesehan pinggir jalan.
"Mulai sekarang, kamu harus terbiasa hidup hemat ya, sayang. Kamu tau kan kalo Mas gak bergelimang harta," ujar Niki.
"Aku udah biasa ko hidup hemat. Jangan Mas pikir karena orangtua aku hartanya banyak lantas aku bisa sesuka hati menghabiskan uang mereka, aku gak kaya gitu," jelas Sandra.
"Masa sih?" goda Niki.
"Ya Mas lihat aja, pernah gak lihat aku kemana-mana pake mobil? Padahal mobilku di garasi gak pernah aku pake. Aku lebih milih pake motor aku yang Papa bilang tuh udah buluk, itu karena aku gak mau di bilang penikmat harta orangtua. Ya meskipun memang semuanya juga dari orangtua, tapi paling nggak, aku gak berlebihan lah," jelasnya lagi.
"Iya, Mas percaya. Gak usah ngegas gitu dong," ujar Niki.
"Eh, makanannya udah datang. Mari makan," lanjut Niki melihat pelayan yang mengantarkan nampan berisi makanan yang dipesan oleh Niki dan Sandra.
Bersambung ❤
**TAP TAP TAP !!!!
SELALU TAP JEMPOLNYA TIAP BAB YA 😘
__ADS_1
VOTENYA JUGA DI TUNGGU BANGET 🤗
TERIMAKASIH YANG MASIH SETIA MANTENGIN NOVEL CINTA YANG KELAM INI YA 😍😘**