Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 67


__ADS_3

Hamid keluar dari ruangan Niki usai menjelaskan tentang job desknya dan membiarkan Niki merapikan ruang kerjanya. Melewati meja kerja Sandra sendirian, Sandra penasaran akan apa yang terjadi. Tetapi tetap memilih untuk diam tak ingin bertanya tentang apapun. Begitupun dengan Hamid, ia enggan menceritakan tentang Niki. Ia berfikir biar Niki yang menceritakannya sendiri.


Jam istirahat tiba, sudah menjadi kebiasaan Sandra mengakhirkan waktu makannya. Ia memilih membereskan dulu pekerjaannya sebelum meninggalkannya makan siang. Niki yang melihat Sandra masih sibuk dengan pekerjaannya, lalu menghampirinya.


"Hey, udah waktunya istirahat loh .. Kamu lagi puasa?" tanya Niki.


Tanpa melirikpun Sandra sudah faham betul dengan suara Niki. "Iya, sebentar lagi ini tanggung." jawabnya seolah tak ingin melirik ke arah Niki dan tetap melanjutkan kesibukannya.


Niki membereskan file yang berserakan dan merapikannya lalu menarik tangan Sandra, "Ayo! Tar kamu pingsan gimana?" kata Niki.


"Eh,eh .. Iya bentar aku save dulu filenya," jawab Sandra sambil mematikan komputernya.


"Ko Pak Niki ada disini?" pelan Sandra menanyakan hal yang sedari tadi membuatnya penasaran.


"Aku sekarang jadi atasan kamu" jawab Niki singkat membuat Sandra memalingkan wajah ke arahnya.


"Maksud Pak Niki?" suaranya terdengar kaget.


"Iya, nanti aku ceritain ya," ujar Niki. "Berapa kali sih aku bilang, jangan panggil aku Bapak dong, aku kaya udah tua banget dipanggil Bapak," pinta Niki.


Sandra penasaran sekali dengan ucapan Niki yang mengatakan bahwa sekarang dia adalah atasannya. Namun ia memilih untuk diam, biar Niki sendiri yang mengatakannya tanpa harus Sandra bertanya.


"Kamu mau pesen apa?" tanya Niki.


"Apa aja Pak," singkatnya.


Mereka hanya saling diam sampai makanan tiba dan mereka menghabiskannya dengan cepat.


"Kamu laper banget ya? Aku perhatiin makannya cepet banget," ujar Niki.


"Ngga, cuma mempercepat waktu aja. lagian aku emang udah di ajarin dari kecil untuk selalu menghabiskan makanan," jawab Sandra.


"Aku mau bicara serius sama kamu," Niki memulai pembahasannya.


"Hmm," Sandra menaikan bahunya.


"Aku lagi proses cerai sama istri aku," Sandra terperanjak kaget mendengar kabar tersebut dan langsung tersendak, "Eh, ini minum dulu! Santai aja, gak apa-apa,kan?" tanya Niki.


"Gak apa-apa ko, lanjut aja" ucap Sandra.

__ADS_1


Jantungnya mulai bedegup kencang tak beraturan. Kini Sandra sedang mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup dihadapan Niki.


"Iya, aku lagi proses cerai sama istri aku! Semua aset yang aku punya aku serahin sama dia, biar buat biaya anak aku. Sekarang aku kerja di perusahaan Hamid, sebagai kepala kamu. Aku Benar-benar mau nunjukin sama kamu kalo aku gak pernah main-main sama ucapan aku," jelas Niki.


"A..A..Aku, saya, maaf Pak,saya gak tau harus ngomong apa lagi. Silahkan Bapak lakuin semau Bapak!" seru Sandra.


"Aku harap kamu gak menghindar lagi dari aku, karena sekarang gak akan ada lagi orang yang teriakin kamu sebagai pelakor," jelas Niki.


Sandra tak menjawab, melainkan memanggil pelayan dan membayar makanannya. Ia berlalu pergi di ikuti oleh Niki dibelakangnya.


Di depan pintu gedung, mereka bertemu dengan Hamid. "Gue kira lu balik," kata Hamid, "Gue cariin di ruangan lu gak ada," lanjutnya.


"Abis dari kantin," jawab Niki.


Hamid melirik ke arah Niki dan Sandra bergantian, mereka kini berjalan bersamaan.


"Gue harap lu betah kerja di sini, dan bisa bantu gue juga buat ngembangin usaha gue," ujar Hamid.


"Pasti gue betah lah, kan ada dia " goda Niki,ujung matanya menunjuk ke arah Sandra. Sandra hanya tertunduk malu sementara Hamid tersenyum geli melihat kelakuan Niki yang seperti masih ABG sedang jatuh cinta, padahal statusnya sudah menjadi duda beranak satu.


Sandra segera duduk di meja kerjanya dan segera memulai kembali pekerjaannya, ia ingin segera selesai karena ingin segera pulang.


"Udah selesai? Pulang bareng yuk?" ajak Niki.


"Gak usah pak, saya bawa motor," tolak Sandra.


"Gak apa-apa, motor ditinggal aja! Biar besok aku jemput lagi," paksa Niki.


"Pak, Bapak baru akan bercerai,kan? Bukan sudah! Silahkan Bapak selesaikan dulu urusan Bapak sama istri Bapak," tutur Sandra.


"Tapi aku gak mungkin membatalkan keputusanku. Please,ya? mau pulang bareng sama aku?" Niki terus membujuk agar Sandra mau pulang bersama dengannya.


Setelah lama membujuk, akhirnya Sandra menerima ajakan Niki.untuk pulang bersama dengannya, sementara motornya ia simpan di kantor.


"Masuk dulu,Pak!" seru Sandra memintanya masuk setelah tiba di rumahnya.


"Iya, disini aja," Niki menolak dan memilih untuk duduk di kursi teras.


"Ada siapa?" tanya Irwan yang tiba-tiba keluar dari rumah.

__ADS_1


"Eh, ini Pa, atasan Sandra. Tadi motor Sandra mogok lagi, jadi Pak Niki antar Sandra pulang," Sandra sudah menjawab pertanyaan yang belum Irwan lontarkan.


"Lagian kamu, orang motor udah jadul masih kamu pake. Nyusahin aja! Kenapa gak pake mobil aja sih?" ujar Irwan sambil berlalu meninggalkannya tanpa mendengar jawaban Sandra.


"Sebentar ya Pak, saya ambilin minum dulu," kata Sandra.


Saat sedang membuat minuman di dapur, Irwan kembali menghampirinya.


"Perasaan itu atasan kamu di perusahaan yang dulu, kan?" tanya Irwan penasaran.


"Iya Pa, sekarang dia jadi atasan Sandra lagi," Sandra.


"Emang kamu kerja disana lagi?" Irwan lebih penasaran mendengar jawaban Sandra.


"Nanti Sandra jelasin Pa, Sandra mau kasih minuman dulu," kata Sandra.


Sandra membawakan minumannya untuk Niki.


"Papa kamu kayaknya baik ya," ujar Niki, "Meskipun tampangnya sangar," bisiknya sambil menutup mulutnya.


"Hus," Sandra.


"Kamu gak sepi apa, di rumah cuma sama orang tua kamu yang sibuk?" tanya Niki.


"Sepi, tapi kan aku juga jarang ada di rumah. Jadi gak terlalu ngerasa sepi juga sih," jawab Sandra.


"Pak, boleh gak kalo saya nanya yang lebih pribadi sama Bapak?" ucap Sandra hati-hati.


"Tanya aja, kamu kaya sama siapa aja," Niki merasa sedikit ada ruang dengan pertanyaan Sandra.


"Alasan Bapak menceraikan istri Bapak itu kenapa sih?" Sandra bertanya dengan wajah yang tertunduk.


"Hhmm,, karena kamu," singkat Niki santai namun mampu membuat jantung Sandra berdegup kencang.


"Saya??" Sandra mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Niki.


"Iya, bukannya saya udah pernah bilang bahwa saya mau nunjukin sama kamu tentang keseriusan saya. Saya tidak menganggap kamu sama seperti wanita lain, untuk itu saya rela mengorbankan rumah tangga saya untuk berjuang mendapatkan kamu," jelas Niki.


Mendengar penjelasan Niki, Sandra merasa tak percaya bahwa Niki memang sungguh-sungguh dengan semua yang ia katakan. Perasaannya semakin bimbang tak karuan.

__ADS_1


Sementara Niki merasa sangat lega, karena hal itulah yang Niki inginkan sejak dulu, bicara dari hati ke hati tanpa ada jarak dan tanpa ada rasa takut dari Sandra.


__ADS_2