Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 76


__ADS_3

"Huh! lama banget sih, udah melebihi dandan pengantin," gerutu salah seorang keluarganya kesal sambil melempar bantal ke arah Sandra.


Sandra memungut bantal yang jatuh dan melempar kembali ke arah sepupunya.


"Udah, udah ah..yuk kita berangkat, udah keburu macet nih," ajak Neni.


Dengan malas Sandra mengikuti mereka di ikuti oleh Niki.


"Kamu satu mobil sama siapa?" tanya sepupu pada Sandra.


"Ya sama suami gue lah," sinis Sandra.


"Terus kita sama siapa? Nebeng dong, ya?" pinta sepupu Sandra memainkan alisnya.


"Nggak ah, males satu mobil sama lu," sahut Sandra membanting pintu mobilnya.


"Yah..Tante, kita gak kebagian tumpangan," teriaknya pada Neni.


Mereka memang awalnya berangkat bersama diantar ayahnya. Tapi ayahnya pulang lebih dulu karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


"Lu pake mobil gue aja, kuncinya minta sama Mama," teriak Sandra.


"Oh, iya, pake mobil Sandra aja," Neni lantas mengambilkan kunci mobilnya.


Mereka berangkat menggunakan 5 mobil seperti convoi. Namun tiba di lokasi, Sandra lebih menghabiskan waktu hanya berdua dengan Niki. Bahkan mereka sewa villa hanya dihuni oleh berdua.


"Kamu gak ikut gabung bareng keluarga kamu?" tanya Niki.


"Males, ujung-ujungnya pasti mereka nyinyir," sahut Sandra.


"Maaf ya," Niki meraih tangan Sandra dan menggenggamnya.


"Untuk apa?" tanya Sandra heran.


"Karena aku udah bikin kamu malu," jawabnya.


"Gak apa-apa, ini juga kan pilihan aku," lirih Sandra.


"Oh iya, kenapa kemarin keluarga kamu gak ada yang datang?" Sandra memilih untuk mengalihkan pembicaraan dan mengulik sedikit mengenai keluarga Niki. Karena selama ini Sandra terlalu menutup mata padanya.

__ADS_1


"Mungkin bagi mereka ini gak penting. Mas 3 bersaudara, punya 1 kakak perempuan dan 1 adik laki-laki. Kakak perempuan Mas ada di Kalimantan ikut suaminya mengurus lahan sawit miliknya, sekarang dia lagi hamil tua, mungkin itu yang jadi alasan dia gak bisa datang. Namanya Citra, katanya setelah melahirkan dan selesai syukuran kelahiran anaknya dia akan pulang dan tinggal di Kota A menempati rumah milik kami. Kalo adik Mas, namanya Ryan, tinggal di tempat istrinya mengurus perusahaan keluarga istrinya. Kita memang gak akur sejak istrinya tau Mas suka main cewek, dia melarang adik Mas berhubungan terlalu dekat sama Mas, katanya takut kebawa-bawa selingkuh. Ibu udah meninggal sejak 3 tahun lalu, dan Bapak menikah lagi pada seorang janda kaya. Hidupnya sekarang seperti diperbudak oleh keluarga istrinya. Mas gak bisa berbuat apa-apa, sebelumnya kita udah wanti-wanti agar Bapak gak menikah terlalu cepat. Tapi Bapak kekeuh, dia menjual semua aset yang dia punya dan diberikan pada istri barunya. Hidupnya sekarang bisa di bilang sengsara. Tak jarang Bapak datang ke rumah Mas untuk sekedar numpang istirahat. Tapi niatnya urung setelah melihat Teny, dari dulu memang sikap Teny tidak pernah ramah pada keluarga Mas, mungkin di anggap Teny keluarga Mas hanya menyusahkan saja. Jadi, pas Mas bilang mau nikah lagi mereka berfikir bahwa istri Mas gak akan jauh beda sama Teny," jelas Niki panjang lebar.


"Seberantakan itukah keluarga Mas?" tanya Sandra.


"Ya, nanti kalo kakak Mas udah pulang, Mas ajakin kamu pergi ke kota A dan ngenalin kamu sama mereka. Tapi kamu harus kuat ya, keluarga Mas mulutnya lebih pedes dari cabe," tutur Niki.


Sandra menaikkan bahunya. Ia berfikir keluarga dari Neni sudah paling buruk, paling ceplas ceplos kalo ngomong.


Mereka menikmati secangkir kopi sambil melihat desir ombak menyapu pasir di pinggir pantai, sungguh pemandangan yang sangat Indah.


"Indah banget ya, tenang," lirih Sandra masih mengamati pemandangan indah di depan matanya.


"Kamu suka alam ya?" Niki memiringkan badannya memandangi wajah Sandra.


Sandra menganggukan kepalanya.


"Kapan-kapan Mas ajakin kamu ke gunung ya, pasti kamu suka," kata Niki.


"Serius?" Sandra sangat antusias mendengar ajakan Niki.


"Hhhmm.." Niki balas dengan anggukan.


"Kamu maunya kapan? Aku turutin pokoknya," jawab Niki. "Udah malem nih, masuk kamar yuk," ajak Niki.


"Duluan aja deh, tar aku nyusul," jawab Sandra.


"Gak ah, Mas maunya barengan," manja Niki.


Tanpa menjawab, Sandra bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Niki mengejar dan menggendongnya hingga ke kamar dan menurunkannya di atas ranjang. Ia menindihnya dan menciumi setiap bagian wajahnya, dengan tangan menggerayami badannya.


Sandra berteriak merasakan geli. "Nakal," lirih Sandra.


"Teriak aja, gak akan ada yang denger," jawab Niki melanjutkan aktifitasnya.


Niki menyingkap kimono yang dipakai Sandra dan menanggalkan hingga tak ada lagi yang menghalangi tubuh mulusnya.


Lagi-lagi mereka menghabiskan malamnya dengan penuh gairah. Mereka menganggap liburan ini sebagai bulan madu untuknya, tak menghiraukan keluarganya yang tinggal di villa tepat di sebelahnya.


Keluarganyapun memaklumi saat Sandra dan Niki ingin berdua saja di dalam villa, dan merekapun sangat menikmati liburannya. Hanya sesekali sepupu-sepupunya mengirimkan pesan ejekan pada Sandra, namun tak pernah di tanggapi oleh Sandra.

__ADS_1


Pagi hari, Sandra sengaja memasang alarm karena ingin melihat sunrise dan ingin berfoto ria. Ia segera membersihkan diri sebelum Niki bangun dan berkaca di depan meja rias, Sandra kaget melihat dada dan lehernya penuh dengan tanda merah, sisa perangnya semalam. Ia buru-buru menutupinya dengan syal.


"Mas, bangun dong! udah jam berapa nih, sunrisenya keburu ilang deh," Sandra menggoyang-goyang tubuh Niki agar segera bangun.


Bukannya bangun, Niki malah menarik Sandra untuk menemani tidurnya.


"Mau kemana sih?" kata Niki masih dengan mata terpejam.


"Mau lihat sunrise, bangun dong!" Sandra menepis pelukan Niki dan duduk di sampingnya.


"Tapi Mas gak bisa bangun kalo belum di cium," Niki memajukan wajahnya.


"Ih, genit-genit manja," sinis Sandra.


"Ya udah kalo gitu kamu lihat sunrise sendiri aja, Mas mau tidur lagi," Niki menarik kembali selimutnya menutupi seluruh tububnya tak terkecuali bagian wajah.


"Mas..." Sandra menyingkap selimutnya.


Niki menarik tubuh Sandra dalam dekapannya.


"Cium dulu!" ucap Niki manja sedikit memaksa.


Dengan ragu Sandra mencium bibirnya dan memainkannya cukup lama hingga mata Niki benar-benar terbuka.


"Udah kan, bangun gih! cepetan mandi! perintah Sandra menarik tubuh Niki dan berusaha menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Pokoknya besok-besok kalo bangunin Mas gak usah susah-susah, cium aja! pasti langsung bangun," Niki berkedip manja di balas lemparan bantal sambil bergedik oleh Sandra.


"Cepetan!" teriak Sandra saat Niki memasuki kamar Mandi.


"Siapin bajunya, biar cepet!" teriak Niki di dalam kamar mandi.


Sandra menuruti perintah Niki menyiapkan pakaiannya dan menaruh di atas ranjang.


Sambil menunggu Niki selesai mandi, ia merapikan kembali penampilannya yang sudah di acak-acak oleh Niki.


Bersambung ❤


Jangan lupa likenya ya kakak 😘

__ADS_1


__ADS_2