
Niki masih terdiam, Sandra menatapnya dalam meski tak tau apa yang ia lihat. Begitu juga dengan Neni, ia sangat menantikan jawaban dari Niki.
Niki menatap wajah Sandra seolah ia ingin bertanya suatu hal.
"Jadi bagaimana?" tanya Neni.
"Gimana?" Niki malah bertanya pada Sandra, sementara Sandra menaikan bahunya menandakan ia menerima apapun jawaban yang akan diberikan oleh Niki.
"Saya memang bermaksud untuk menikahi Sandra Tante, tapi untuk keadaan saya saat ini, saya merasa tidak mampu. Kecuali jika Sandra dan keluarga bersedia menikah alakadarnya tanpa kemegahan, dan bersedia hidup bersama saya dengan keadaan seperti ini," jawab Niki.
"Sandra mau Ma, gak penting bagi Sandra kemewahan, yang terpenting kebahagiaan dalam rumah tangga kami," tambah Sandra.
Mendengar jawaban Sandra, Neni menatapnya penuh heran. Ia tak menyangka anak gadisnya bisa berfikir sedewasa itu.
"Mama perlu berunding dulu dengan Papamu, tapi.." Ucapannya terhenti karena Sandra memotong pembicaraannya.
"Tapi Sandra mohon, Mama jangan paksa Sandra buat pulang," pinta Sandra.
"Kamu mau jadi apa? Kalian belum menjadi suami istri, apa kata orang?" bisik Neni kesal.
Melihat raut wajah Sandra, Neni tak memaksanya pulang. Neni berfikir akan menggunakan kesempatan ini untuk merayu Irwan supaya mau merestui hubungan anaknya dan menikahkannya. Perasaan bersalah dan gagal sebagai orangtua semakin dalam Neni rasakan mengetahui Sandra tinggal satu rumah dengan Niki. Neni berfikir, menikahkannya mungkin akan mengurangi sedikit dosa dan beban pikirannya.
Neni meninggalkan kontrakan Niki dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Ia tidak melihat seorangpun disana. Hanya Mang Asep yang terlihat sedang membersihkan taman, sementara Bi Kokom sedang membeli sayuran.
Sebenarnya Neni berharap jika ia akan bertemu dengan Irwan di rumah pagi itu, agar masalahnya cepat terselesaikan.
"Tuan udah berangkat ya Mang?" tanya Neni pada Mang Asep yang sedang bernyanyi sambil merapikan tanaman yang tak menyadari kedatangan Neni.
"Eh, Nyonya.. Iya nya, Tuan udah berangkat, baru aja," jawab Mang Asep.
Neni masuk kembali ke dalam rumah dan memutuskan untuk bersiap menemui Irwan ke kantornya.
"Mau kemana lagi Nya?" Tanya Bi Kokom yang melihat Neni sudah siap membawa tas tang memegang kunci mobilnya.
"Saya mau ke kantor Tuan, Bi," singkatnya.
Neni bergegas menuju garasi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena tidak sabar ingin bertemu dengan Irwan.
__ADS_1
Tiba di kantor, Neni langsung tergesa menuju ruangan Irwan. Saat akan keluar lift, ternyata ia berpapasan dengan Irwan yang akan keluar untuk survey lapangan.
"Ma..Ada apa nyusul ke kantor?" tanya Irwan heran.
"Pa, lagi sibuk gak?" ujar Neni.
"Mau keluar, emang ada penting apa? kalau penting banget ya bisa di cancel," jawab Irwan.
"Iya Pa, ini tentang Sandra," kata Neni.
Irwan memasang raut wajah penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Neni.
"Ya udah kalo.gitu ke ruangan aja yuk," ajak Irwan.
"Gimana Sandra?" tanya Irwan tanpa basa-basi setelah berada di dalam ruangan.
"Mama tadi udah ketemu sama dia," ujar Neni pelan berusaha menjelaskan tanpa memancing amarah Irwan.
"Terus?" jawab Irwan.
"Papa jangan emosi, dia sekarang tinggal di kontrakan Niki Pa," kata Neni sendu.
"Iya Pa, mereka tinggal serumah," lanjut Neni.
Irwan menggebrak meja kerjanya, "Sialan, Papa udah kasih dia kepercayaan, tapi dia malah kaya gitu," amarah Irwan memuncak.
"Pa, gimana kalo kita nikahin aja mereka?" usul Neni.
"Apa Mama bilang? Nikahin? Sama laki-laki yang gak jelas asal-usulnya? Pikiran Mama dimana?" tegas Irwan.
"Daripada mereka berzina, kita juga yang menanggung dosanya Pa, sebelum terjadi hal seperti Cindy," ujar Neni.
"Ma, gimana masa depan Sandra kalo nikah sama duda kaya dia? Keluarganya aja Papa gak tau seperti apa," Irwan.
"Biarlah Pa, daripada terus-terusan seperti ini, kita juga gak mungkin terlalu keras sama anak, dia bukan anak kecil lagi, dia udah punya pemikiran sendiri," jelas Neni dengan nada lembut merayu.
Neni terus merayu Irwan, hingga Irwan luluh dan mau menikahkan Sandra dengan Niki.
__ADS_1
"Antar ke rumah Niki sekarang!" pinta Irwan.
"Niki tinggal di rumah kontrakan kecil Pa," Neni memberitahu agar Irwan tidak kaget saat pergi ke sana.
"Apa? Bahkan rumah saja dia ngontrak? Apa yang bisa di banggakan? Mama yakin mau menitipkan anak kita pada laki-laki seperti dia?" tegas Irwan.
"Mama sudah memikirkannya semalaman Pa, Mama rasa mereka mampu membangun semuanya bersama. Lagipula percuma kita menentangnya, dia pasti akan lebih berontak dari ini. Papa kan tau kalo Sandra itu anaknya nekad," jelas Neni.
"Baiklah, kita lihat aja," singkat Irwan.
Irwan menghampiri asistennya mengover alih semua pekerjaannya, kemudian segera bergegas menuju kontrakan Niki.
Tapi ternyata, setelah tiba di kontrakan Niki tidak ada di sana. Karena itu adalah jam kerja, pastinya mereka berada di tempat kerjanya. Meski sebenarnya Irwan sudah tidak sabar ingin meluapkan apa yang terpendam dalam benaknya, namun ia tau etika jika harus mendatangi Sandra ke tempat kerjanya.
Irwan dan Neni memilih untuk menunggunya di warung kopi yang berada di sebrang kontrakannya, sehingga ia dapat mengawasi jika Niki datang.
Mereka berada di warung kopi seharian. Hingga tiba jam pulang kantor, Irwan dan Neni melihat Niki memarkirkan mobilnya dan Sandra turun Irwan memastikan mereka masuk ke dalam kontrakan sebelum akhirnya ia menyusul untuk menemuinya.
Saat Sandra akan keluar untuk membeli makan, betapa terkejutnya ia melihat Irwan ada di depan pintunya.
"Papa.." wajah Sandra mendadak pucat.
Tanpa di persilahkan, Irwan masuk ke dalam kontrakan dan melihat seisinya yang kosong. Tidak ada satupun barang yang dapat menarik perhatiannya. Irwan malah prihatin melihat seisi kontrakan Niki yang hanya ada tikar. Tidak ada ruangan megah, kursi mewah, AC, ataupun pajangan dinding seperti yang ada di rumahnya.
Sandra menyuguhkan minuman mineral yang memang sengaja di sediakan oleh Niki untuk minumnya karena tidak memiliki dispenser, gelas dan perabotan lainnya.
"Kamu malah lebih betah tinggal di tempat seperti ini?" ucap Irwan seperti meledek.
Sandra tak menjawab ucapan Irwan, ia tau jawabannya hanya akan mengundang amarahnya.
Sementara Niki yang sedang mandi, segera menyelesaikan aktivitasnya setelah mendengar suara Irwan dan menemuinya. Ia tau, Neni pasti sudah menceritakan semuanya pada Irwan sehingga Irwan datang menemuinya. Niki mengira, Irwan akan menginterogasi Sandra dan ia tidak ingin Sandra menghadapi masalahnya sendiri. Ia ingin semua masalahnya di hadapi bersama sehingga Sandra tidak merasa sendiri.
"Pa," Niki menyamali Irwan meski tak mendapat respon baik darinya.
"Apa yang udah kamu lakukan sama anak saya sehingga anak saya begitu mempertahankan kamu?" tanya Irwan tanpa basa-basi.
"Justru karena Mas Niki gak pernah memberi apapun Pa," jawab Sandra.
__ADS_1
"Maaf Om, saya memang tidak ada apa-apanya di banding keluarga Om dan Tante. Saya juga tidak bisa berjanji untuk memberi kemewahan pada Sandra seperti yang dia dapat di rumah Om dan Tante. Tapi saya janji tidak akan pernah menyakiti Sandra Om, saya minta, izinkan saya menikahi Sandra," Niki menyembah pada Irwan, berharap Irwan akan membuka sedikit hatinya untuk bisa menerima dirinya.
Bersambung 💕