
Jam makan siang, Hamid kembali menghampiri Sandra ke meja kerjanya karena Niki sudah menelponnya untuk memastikan bahwa Sandra makan pada saat jam istirahatnya.
"San, makan siang dulu lah..kerjaan gak akan pernah ada abisnya," ujar Hamid.
"Iya, Pak. Duluan aja, nanggung nih dikit lagi,"
Sandra masih fokus dengan pekerjaannya.
Hamid tak angkat bicara, ia langsung merapikan map yang berserakan di mejanya.
"Loh..Pak..ini sedikit lagi loh," bantah Sandra.
"Iya, sambil kamu kerjain, saya bantu beresin biar cepet," kata Hamid.
Karena merasa tidak enak, Sandra akhirnya buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu mereka berjalan bersama menuju cafe yang terletak tak jauh dari kantor.
"Gak enak ya ngeliat pandangan orang sama kita," celetuk Hamid.
Sandra hanya tersenyum, dalam hatinya.. Siapa minta kita makan siang bareng? aneh..
Tiba di cafe, Sandra hanya memesan dessert dan jus saja.
"Loh..ko gak pesen nasi sih?" ujar Hamid.
"Nggak Pak. Ini aja, kalo pesen nasi takut gak abis," jawabnya.
Hamid diam-diam mengambil gambar Sandra yang sedang menyantap dessert lalu mengirimkannya pada Niki sesuai permintaannya.
"Oke, Makasih ya..jangan di apa-apain istri gue," ujar Niki dalam pesannya.
"Ya kali gue masih waras," balas Hamid singkat.
"Bapak cuman liatin saya aja?" tanya Sandra.
"Ini makan ko!" Hamid mengaduk asal makanannya merasa salah tingkah karena kedapatan sedang memperhatikan Sandra.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Sandra pulang berjalan kaki karena memang jarak tempat kerja ke kontrakannya tidak terlalu jauh. Hamid yang melihat Sandra berjalan kaki, segera menepikan mobilnya dan menawarkan tumpangan pada Sandra.
"Ayo naik!" seru Hamid tanpa keluar di kursi kemudinya.
__ADS_1
"Makasih Pak, tapi saya jalan kaki aja," Sandra tetap berjalan setelah menengok ke arah Hamid.
"Gak apa-apa, sekalian saya mau ketemu Niki. Ayo cepet naik. Gak enak dilihat orang kaya pasangan lagi marahan," paksa Hamid.
Sandrapun naik ke mobil Hamid dan duduk di jok bagian belakang.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mereka sudah sampai di kontrakan Sandra. Tapi Sandra tidak melihat motornya di garasi.
"Kayaknya Mas Niki belum pulang deh, Pak," ujar Sandra.
"Iya, memang dia lagi di jalan mau pulang. Saya udah telpon dia. Gak baik marahan lama-lama." ucap Hamid yang sedang memarkirkan mobilnya.
Baru saja mobilnya terparkir, Niki datang dan memarkir motornya di samping mobil Hamid. Jantung Sandra dag dig dug melihat Niki, seolah ia akan menerkamnya di kejauhan. Wajahnya terlihat gugup.
"Kamu gak mau turun?" kata Hamid.
Ia paham apa yang di rasakan Sandra saat ini. Hamid sengaja menyuruh Niki pulang agar mereka tak berlama-lama dalam diam.
"Euh, iya Pak." Sandra membuka pintu mobilnya dan segera turun dari mobil.
Namun, Sandra tidak segera berlalu. Ia masih tertunduk di hadapan Niki. Ia bingung apa yang harus di lakukan, antara meminta maaf atau membiarkannya lebih dulu membuka suara.
Hanya Hamid dan Niki yang terlihat ramai seperti biasanya. Padahal mereka setiap hari bertemu di kantor, tetapi ada saja hal yang membuat mereka ramai ketika bertemu. Meski begitu, mereka sangat bisa membedakan antara waktu bekerja dan waktu luangnya. Saat waktu bekerja, mereka sangat serius. Sungguh sangat seperti atasan dan bawahan pada umumnya.
"Tadi katanya di kantor kalian sling kangen? Ko udah ada orangnya malah diem-dieman sih?" godanya.
Kali ini bukan hanya Sandra yang tersipu malu, tapi juga Niki. Wajahnya merah merona dengan candaan Hamid.
"Ayo dong..kalian kaya anak kecil aja sih?" Hamid meraih tangan keduanya hingga saling menggenggam..
"Nah..gini baru bener! Ayo kita masuk," Hamid melangkah membawa mereka masuk ke kontrakan seolah ia adalah tuan rumah.
Sementara Sandra dan Niki tersenyum, tersipu malu saling memandang. Seperti anak remaja yang sedang marahan lalu baikan.
"Eh, pintunya di kunci ya?" Hamid cengengesan karena tidak bisa membuka pintu rumahnya.
"Hhmm.." Niki merogoh sakunya, mengambil kunci dan membuka pintunya.
"Santai dulu aja ya, Pak. saya buatin dulu minuman," Sandra pergi ke dapur untuk membuat minuman.
__ADS_1
Niki menyusulnya dan memeluknya dari belakang. "Jangan ngambek terus dong..gak ketemu seharian aja rasanya Mas kangen banget," ucapnya.
"Mas..lepasin! Gak enak ada tamu," Sandra mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Niki.
"Biarin aja. Maafin Mas ya," bukannya melepas pelukannya, Niki malah menciumi rambut dan leher Sandra hingga Sandra menggelinjang.
"Geli Mas..." ucap Sandra.
"Ekhem..ekhem...seret banget sih, bikin minumannya segalon ya?" teriak Hamid yang mendengar obrolan Sandra dan Niki.
Nikipun melepaskan pelukannya dan membawa minumannya.
"Sini biar Mas bawain, kamu mandi aja. Pasti badannya lengket," seru Niki.
Sandra memberikan nampannya dan sesuai permintaan Niki, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Meski semuanya sudah meyakinkan bahwa Niki tidak akan berpaling dan Sandra mencoba untuk melupakan masalahnya, tetapi tetap saja masa lalu Niki dengan Reni berkeliaran di kepalanya. Ia takut jika Niki benar-benar tergoda oleh Reni dan malah meninggalkannya.
"Jadi gimana masalah lo sama Reni?" tanya Hamid dengan suara pelan takut terdengar oleh Sandra.
"Gue juga sebenernya bingung. Tadi siang gue nemuin dia, Tapi dia malah nangis dan ngemis gak mau gue tinggalin. Dan ternyata, selama ini dia mata-matain gue. Dia gak peduli meski gue bilang udah nikah, parahnya..dia mau di madu sama gue, gue bener-bener gak ngerti sama pemikirannya," jelas Hamid setengah berbisik agar tak terdengar oleh Sandra bahwa diam-diam, Niki sudah bertemu dengan Reni.
"Parah banget..lu ke rumahnya?"
"Bukan. Kita ketemu di cafe! Ya gue juga gak mau rumah tangga gue kayak gini. Semaleman Sandra nangis mikirin ini, gue ngerti dia pasti ketakutan. Niatnya gue temuin dia buat minta dia menjauh dari hidup gue, tapi malah dia nangis dan ngemis-ngemis sama gue. Gue jadi gak tega, Bro!" jelas Niki.
"Terus lu apain?"
"Ya gak gue apa-apain, cuman gue peluk aja. Tapi gue gak bisa tegas sama dia. Secara..gue sadar diri banget sama apa yang udah gue lakuin sama dia," ucap Niki memelas.
"Nah..kan. Imbasnya sekarang," bukannya membantu mencari solusi, Hamid malah seolah meledek Niki.
"Lu gimana sih? Bukannya ngasih solusi, malah seneng liat gue bimbang," ujar Niki.
"Gue harus gimana? Dulu kan gue udah wanti-wanti sama lo!"
"Ya lo kaya gak tau gue waktu dulu. Lagian gak usah bahas dulu lah, gue udah muak! Banget!" Niki bergidik membayangkan masa lalunya yang berganti-ganti wanita hampir setiap malam.
"Ini baru Reni, besok-besok muncul tuh Rani, Rini, Rina, Rena, Reno.." ledek Hamid.
__ADS_1
"Idih..apaan Reno, lu kata gue banci apa, jeruk makan jeruk." Niki makin bergidik dan melempar korek yang di pegangnya.
Hamid menertawakannya hingga terdengar oleh Sandra yang sedang berpakaian.