
Dengan langkah ragu, Niki menghampiri Sandra dan mendekatinya.
"Jelasin, siapa dia?" tanya Sandra tanpa menoleh ke arah Niki.
Deg...
Jantung Niki mulai tak karuan, ingin rasanya ia menghindari waktu ini. Tetapi cepat atau lambat, ia tetap harus menjelaskan semuanya.
"Dia Reni, yank. Wanita yang tempo hari kamu tau pernah jadi mainan Mas" tutur Niki.
"Kenapa dia kirim pesan lagi sama Mas? apa hubungan kalian masih berlanjut sampai sekarang?" nada bicaranya mulai tinggi setelah mendengar Niki menyebut nama Reni.
"Mas udah gak ada lagi hubungan sama dia jauh sebelum Mas berfikir untuk memperjuangkan kamu. Dia sendiri yang berjanji untuk gak akan pernah hubungin Mas lagi, Mas juga gak tau kenapa tiba-tiba dia kirim pesan kaya gitu sama Mas," jelas Niki.
Tangisnya pecah, sulit rasanya untuk Sandra bisa percaya begitu saja dengan apa yang dijelaskan oleh suaminya.
Bodoh banget gue, kenapa sampe gak pernah nanya atau ngulik sedikitpun tentang wanita itu. Padahal gue sendiri tau wanita itu udah sering tidur bareng sama cowok yang sekarang jadi suami gue, batinnya terus menyalahkan diri sendiri karena tidak sedikitpun mengulik masa lalu suaminya.
Bagi Sandra, tidak penting seperti apa Masa lalu Niki. Yang terpenting, Niki selalu berusaha untuk membangun masa depan yang indah bersamanya. Namun saat ia melihat isi pesan itu, seketika keyakinannya goyah.
"Apa Mas masih akan menemuinya?" Sandra kini menoleh ke arah Niki dan memperhatikan sorot matanya.
"Nggak, yank. Kamu jangan nangis gini dong..Mas kan selalu ada bareng kamu. Kita kerja di tempat yang sama, mana mungkin Mas selingkuh dari kamu," Niki mencoba memberi penjelasan pada Sandra.
Memang ada benarnya perkataan Niki, Ia bekerja di tempat yang sama dengannya. Mana mungkin Niki memiliki kesempatan untuk berpaling darinya.
Sandra mencoba menangkis keraguannya, ia menyeka air mata di pipinya. Niki memeluk Sandra dan mencium kepalanya.
"Makasih karena kamu udah jadi wanita yang bijak," ujar Niki. "Mas janji akan selalu ada di samping kamu dan kamu harus percaya sama Mas,"
"Coba aja buktiin," sahut Sandra masih terisak.
Amarah Sandra sudah mulai meredam mendengar penjelasan dari Niki. Namun tidak demikian bagi Niki. Diam-diam ia membalas pesan Reni. Maksudnya baik, untuk menjelaskan padanya bahwa sekarang ia sudah menikah dengan Sandra, dan Niki meminta pada Reni agar dia benar-benar menjauh dari kehidupannya.
Tetapi bagi Reni, itu merupakan lampu hijau.
Reni menelponnya berkali-kali, tapi selalu di reject oleh Niki. Karena takut ketahuan oleh Sandra, ia pergi keluar untuk menghubungi Reni.
"Dari mana Mas?" suara Sandra mengagetkan Niki yang sedang diam-diam menutup pintu.
__ADS_1
"Eh, itu, dari luar! Tadi ada pak Rw di rumah sebelah, gak enak akhirnya Mas samperin, ngobrol bentar basa-basi doang," tiba-tiba alasan busuk keluar begitu saja dari mulut Niki.
"Pake ngendap-ngendap? Kaya maling aja," celetuk Sandra.
"Mas kira kamu lagi tidur siang, jadi Mas nutup pintunya pelan-pelan," sahut Niki.
Sandra menyunggingkan senyumnya. Sebenarnya ia mulai curiga dengan tingkah aneh suaminya, tapi ia mencoba menutupi rasa curiganya.
"Aku mau ke supermarket sebentar ya, Mas. Mau beli kebutuhan bulanan, udah mau abis soalnya," ujar Sandra.
"Gak mau di anter sama Mas?" Niki menawarkan diri untuk mengantarnya, namun di tolak oleh Sandra.
"Gak usah, Mas. Aku sendiri aja, mau sekalian ketemu temen SMA. Takutnya Mas bete kalo nemenin aku dulu," jelas Sandra.
"Pake mobil?"
"Iya! Kalo pake motor nanti aku susah bawa belanjaannya,"
"Oh, ya udah kalo gitu. Hati-hati di jalan ya."
Sandra mencium tangan Niki dibalas oleh ciuman yang mendarat di kening Sandra.
Sandra melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Dalam hatinya ada rasa ragu saat akan mendatangi rumah Teny. Namun rasa ingin tahu tentang masa lalu suaminya mengalahkan keraguannya.
Mobilnya sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah Teny. Ia turun dari mobil dan menghampiri penjaga rumahnya.
"Permisi, Pak!" seru Sandra pada penjaga rumahnya.
"Maaf Pak, Mbak Tenynya ada di rumah gak ya?" tanya Sandra setelah penjaga rumahnya menghampiri.
"Mbaknya dari mana ya?"
"Saya istrinya Mas Niki Pak." jawab Sandra.
Penjaga rumah mengamati mobil yang dibawa oleh Sandra dan ia memang sangat mengenali mobil yang di bawanya itu. Kemudian ia membukakan gerbang dan membiarkan Sandra membawa mobilnya untuk di parkirkan ke dalam garasi.
"Permisi, Bu. Mbak Tenynya ada?" ujar Sandra pada wanita separuh baya yang ia pikir adalah orangtua Teny.
"Ada, silahkan duduk! Saya panggilkan dulu." wanita separuh baya itu mempersilahkan Sandra masuk ke ruang tamu, kemudian memanggilkan Teny.
__ADS_1
Saat Sandra sedang duduk, seorang anak kecil menghampirinya. Rizal mengenali Sandra dari foto yang sebelumnya sudah di tunjukan oleh Niki.
"Tante, Tante mama baru Rizal, ya?" wajah polos Rizal dengan pertanyaannya sungguh menggemaskan.
Sandra tersenyum dan membuka lebar tangannya, Rizal menghambur ke pelukan Sandra.
"Ini Rizal ya?" tanya Sandra.
"Iya Tante. Tante ke sini gak sama ayah ya?" ujar Rizal.
"Nggak sayang, ayah lagi ada kerjaan. Rizal mau ikut Tante ke ayah?" ajak Sandra.
"Mau..mau..mau.." Rizal sangat bersemangat dengan ajakan Sandra.
"Rizal harus minta izin dulu sama Ibu ya. Kalo ibu kasih izin, Rizal boleh ikut sama Tante, oke?" tutur Sandra.
Rizal mengangguk penuh semangat.
Teny datang meghampirinya dan melihat Rizal sudah begitu akrab dengan Sandra.
Teny menunjuk Sandra sembari mengingatnya. Memang pada saat pernikahannya Teny sengaja tidak menghadiri.
"Sandra, ya?" duga Teny.
"Iya, Mbak," Sandra mengulurkan tangannya dan mereka bersalaman.
"Maaf kalo saya ganggu," ujar Sandra.
"Gak apa-apa, ada perlu apa ya? Saya jadi gak enak hati nih," kata Teny.
"De, suruh Bi imah ambilin minum buat Tante, gih!" pinta Teny pada Rizal.
"Baik, Bu." sahut Rizal kemudian ia segera berlari memanggil Bi Imah.
"Gini, Mbak. Maaf sebelumnya..saya mau mengulik sedikit informasi tentang Mas Niki," Sandra mengutarakan maksudnya dengan hati-hati. "Apa Mbak gak keberatan?" tanya Sandra.
"Kalo saya bisa bantu, saya dengan senang hati akan membantu," ujar Teny.
Sikapnya masih lembut, meski tahu yang ada dihadapannya saat ini adalah wanita yang mampu memecahkan rumah tangganya. Teny tetap berfikir positif, terlebih saat ini ia memang sudah menerima semuanya. Ia menganggap perpisahannya dengan Niki sebagai balasan atas kesalahannya selama beberapa tahun silam yang tak menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dengan baik.
__ADS_1
Bersambung ❤