Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 66


__ADS_3

Tiga hari berlalu sejak kejadian itu, Sandra mencoba menyibukan diri dengan semua pekerjaannya meskipun sebenarnya ia merasa kehilangan karena Niki tidak datang seperti biasanya. Tapi Sandra sadar memang seharusnya semua seperti ini.


Sementara Niki sepertinya sudah memikirkan semuanya dengan matang, ia tetap memilih untuk menceraikan istrinya dan berusaha untuk mendapatkan Sandra.


Hari itu, Niki datang menemui istrinya di kediaman orang tua Teny. Rizal yang tidak tahu apa-apa tentang masalah orang tuanya menyambut kedatangan Niki dengan riang.


"Ayah .." teriaknya sambil berlari menghampiri Niki dan memeluknya.


Niki menyambutnya dan membalas pelukannya.


"Ayah mau jemput aku sama Ibu ya?" tanya Rizal.


"Rizal mau pulang ke rumah?" Niki balik bertanya dan dijawab dengan anggukan oleh Rizal. "Ibu mana?" tanya Niki.


"Ada dikamar, Yah. Ibu sakit, makanya kita kesini. Karena kalo di rumah, nanti ibu gak ada yang jagain," ucap Rizal polos.


"Ya udah kalo gitu, Rizal main dulu ya! Ayah mau lihat Ibu dulu," Niki menurunkan Rizal dari gendongannya dan menemui Teny di kamarnya.


Niki masuk kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Saat itu, Teny sedang duduk di tepi ranjang selepas sholat. Tampak matanya sembab, dan air mata seolah tidak bisa mengering dari pipinya. Niki menghampirinya dan duduk di samping Teny.


"Aku minta maaf," ujar Niki.


"Untuk apa?" meskipun kaget dengan kedatangan Niki, namun Teny tak mengubah posisinya.


"Untuk semuanya, karena aku gak bisa mempertahankan rumah tangga kita," lirih Niki.


Seketika Teny melihat ke arahnya, "Maksud Mas?" tanya Teny.


"Akan menyakitkan untuk kamu kalo kita harus bertahan dengan keadaan seperti ini," tutur Niki.


Teny tak sanggup lagi berkata-kata, hanya air mata yang menggambarkan bagaimana perasaannya kini. "Apa Mas gak bisa mempertimbangkannya? Apa Mas gak bisa lihat Rizal?" kata Teny sendu.


"Lambat laun Rizal akan mengerti, percuma kita bertahan tapi hati kita entah dimana," ujar Niki tetap kekeuh dengan keputusannya.


"Apa harus aku menyembah,Mas?" tangisnya semakin pecah, kini ia benar-benar berlutut memeluk kaki suaminya.


"Jangan seperti ini," Niki melepaskan tangan Teny dari kakinya.


"Aku sadar semua kesalahan aku, Mas. Aku mengakui semuanya. Tapi apa harus seperti ini balasannya?" isak tangis mengiringi setiap kata yang terucap dari mulut Teny.


"Tapi semua sudah terlambat! Kamu jangan khawatir, aku tidak akan menelantarkan Rizal. Bila perlu, kamu ambil alih semua aset yang kita punya. Kamu bisa gunakan itu untuk memenuhi kebutuhan Rizal," Niki meyakinkan bahwa ia tak akan mengubah keputusannya.

__ADS_1


Teny hanya bisa memecah tangis dihadapan suaminya. Ia merasa semua perjuangannya selama ini untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya sia-sia dan sudah tak ada lagi harapan untuk bisa bertahan.


Sejak itu, Niki mengurus perceraiannya. Ia memberikan semua aset yang ia miliki selama berumah tangga dengan Teny termasuk rumah yang ia tempati untuk Rizal. Niki hanya mengambil beberapa jumlah uang untuk sewa kost dan bekalnya selama belum mendapatkan pekerjaan.


Niki mendatangi perusahaan Hamid dan menemuinya untuk meminta pekerjaan pada Hamid. Sandra yang melihat Niki datang melewati meja kerjanya merasa heran, tetapi ia memilih tetap di meja kerjanya berpura-pura tidak melihat.


"Ada apa Bro?" tanya Hamid yang tak heran dengan kedatangan Niki yang tiba-tiba.


"Kasih gue kerjaan dong," pintanya.


"Becanda lo?" Hamid.


"Gue serius! gue cerai sama Teny, gue tinggalin semuanya dan sekarang gue gak punya apa-apa," jawab Niki memelas.


"Yang bener,bro?" Hamid mengamati wajah Niki melihat keseriusan dalam wajahnya.


"Lu liat gue lagi becanda?" sinis Niki.


"Ko bisa? Gimana ceritanya?" rasa ingin tahu mulai muncul di benak Hamid.


"Panjang,bro," singkat Niki.


"Gue udah gak bisa lagi sama Teny, hati gue udah buat cewek lain," ujar Niki.


"Jangan bilang cewek lain itu Sandra?" tebak Hamid.


Niki melirik ke arah Hamid dan heran karena ternyata Hamid telah mengetahui tentang Sandra, "Lu tau darimana?" tanyanya.


"Serius?" Matanya melotot tak percaya jika Niki akan menghancurkan rumah tangganya demi wanita lain. "Hancur dunia persilatan," lanjutnya.


"Kenapa lu?" tanya Niki datar.


"Lu yakin tinggalin Teny demi Sandra? Lu yakin kalo lu bisa dapetin Sandra?" tanya Hamid membuat Niki berpikir.


"Gue yakin, lu kaya gak tau gue aja," Niki meyakinkan dirinya sendiri. "Jadi gimana, ada gak kerjaan buat gue?" tanyanya.


"Ada sih, tapi jadi OB! mau lu?" goda Hamid.


"Gak apa-apa, gue siap," Niki menerimanya dengan semangat.


"Lu serius mau jadi OB?" tanya Hamid.

__ADS_1


"Lu kenapa sih, ngedadak jadi gak percaya sama gue?" kata Niki.


"Gak sampe segitunya juga kali, masa gue tega nempatin lu jadi OB. Kebetulan kepala bagian disini baru aja off, jadi lu bisa gantiin dia," jelas Hamid.


"Terima kasih, bro! Eh, Terima kasih Bapak Hamid yang terhormat," Niki memberikan hormat pada Hamid.


"Apaan sih, biasa aja! Kaya sama orang lain aja. Anggap aja gue bayar utang sama lu, dulu kan pas perusahaan gue di ambang bangkrut lu yang nolongin gue, dan sekarang gue seneng bisa bantu lu! Jadi kita impas ya?" kata Hamid memainkan alis matanya.


"Terserah deh, yang penting sekarang gue dapet kerjaan," ujar Niki.


Mereka saling memeluk satu sama lain.


"Udah kaya telletubies aja kita, berpelukan," canda Hamid, "Ya udah, gue tunjukin ruangannya sama lu," ajak Hamid berjalan menuju sebuah ruangan diikuti oleh Niki.


Niki bukan tidak rindu pada Sandra, namun ia ingin membenahi diri dulu sebelum lanjut memperjuangkannya.


"Bro, lu gak tau kalo Sandra udah punya cowok?" tanya Hamid sembari duduk di ruangan yang akan di tempati oleh Niki.


"Tau lah," jawabnya singkat.


"Terus, ko lu maju terus sih?" Hamid penasaran dengan perasaan Niki.


"Selama janur kuning belum di pasang, why not?" celetuknya santai.


"Gue masih penasaran aja bro, ko lu bisa sampe ngorbanin rumah tangga lu demi Sandra? Sehebat apa sih dia di mata lu?" Hamid seperti sedang mengintrogasi Niki.


"Kaya lagi sidang nih gue," jawab Niki.


"Anggap aja lu lagi wawancara kerja," kata Hamid, "Jadi?"


"Jadi apanya?" Niki.


"Ya tentang lu sama Sandra," Hamid.


"Ya semua mengalir gitu aja, lu juga pasti bakal jatuh cinta kalo udah kenal deket sama Sandra. Dia itu polos banget," jelasnya sembari membayangkan kepolosan Sandra. "Tapi lu jangan sampe naksir sama dia loh," telunjuknya mengacung di depan hidung Hamid dan ditepisnya, "Gila aja," sangkal Hamid.


"Apanya yang gila, lu liat aja kalo sampe lu naksir sama Sandra," ancam Niki.


Setelah perbincangannya, Hamid mulai menjelaskan job desknya yang diterima cepat oleh Niki.


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2