
Niki mendatangi Rani ke tempat kost temannya yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh Rani saat Niki menelponnya.
Sesampainya disana, Rani memeluk Niki dan menangis.Tak peduli sama sekali pada temannya yang berdiri disampingnya.
"Maafin aku Mas .." ujarnya.
"Jelasin sama aku kenapa kamu datang kerumah dan bilang sama istri aku kalo kamu hamil !" tegas Niki.
"Tapi aku memang benar-benar hamil Mas .. Aku terpaksa datang kerumah Mas karena Mas gak pernah dateng ke kontrakan, dan salah Mas juga kenapa blokir nomor aku?" jelas Rani dengan nada terisak dan tak melepaskan pelukannya.
"Terus kamu maunya apa? Uang?" ucap Niki.
"Gak semua bisa dibayar dengan uang Mas, perut aku semakin hari akan semakin membesar, dan aku gak mungkin tinggal sendiri di kontrakan dengan keadaan aku yang kaya gini. Orang tua aku juga pasti akan mempertanyakan semuanya" sontak Rani melepaskan pekukannya dan beralih ke tempat duduk.
"Terus kamu maunya gimana? Aku gak mungkin menikahi kamu !" ujar Niki.
"Aku tau Mas, Antar aku ke tempat menggugurkan kandungan" pinta Rani.
"Jangan gila kamu ! itu membahayakan nyawa kamu juga" bantah Niki.
"Tapi itu jalan satu-satunya Mas, Aku gak bisa besarin perut aku sendirian. Apa kata keluarga aku? Aku juga tau Mas gak mungkin mau nikahin aku"
"Apa kamu udah memastikan kalo kamu benar-benar hamil?" Niki mencoba meyakinkan.
"Sudah Mas .. Aku bahkan sudah ke dokter kandungan untuk meyakinkan" jawab Rani.
Niki terdiam, mencari jalan supaya semua tetap baik-baik saja.
"Kamu tau kan aku gak bisa nikahin kamu"
"Aku ngerti Mas, udah lah .. Gak usah bahas itu, sekarang antar aku ke tempat aborsi dan setelah itu aku akan menghilang dari kehidupan Mas"
Rani bersikeras ingin menggugurkan kandungannya. Karena pikirnya, ia tak bisa membesarkan kehamilannya sendirian. Dan ia sangat paham jika ia pulang dalam keadaan perut membesar, orang tuanya akan sangat murka dan akan meminta Niki untuk menikahinya. Sementara Rani tidak ingin merusak rumah tangga Niki setelah tahu bahwa istrinya begitu baik dan lembut.
"Apa kamu sudah pikirkan semuanya?" tanya Niki meyakinkan.
"Ya, aku sudah memikirkannya dengan matang"
__ADS_1
"Tapi gak mungkin sekarang kan, besok aku akan mencari info spesialis aborsi dan aku akan kembali. Kamu sebaiknya tetap disini. Ini, pegang buat kamu. Siapa tau kamu butuh" Niki menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan Rani mengambilnya.
"Aku gak bisa lama-lama, kalo udah dapet infonya aku akan balik lagi kesini"
"Lebih cepat lebih baik Mas .." ujar Rani.
Nikipun berpamitan pulang. Tapi ia tidak langsung pulang ke rumah, ia memilih menepikan mobilnya di sebuah danau tempatnya sering melihat Sandra menyendiri.
Ia duduk sendiri disana, melihat tenangnya air danau di malam hari. Merenungi semua kemelut yang ada di hati dan pikirannya.
Ternyata alam bisa bikin tenang .. Pantes aja Sandra betah banget sama alam ..
Dan lagi-lagi pikirannya dihampiri oleh nama Sandra. Setelah lama dan Niki merasa pikirannya sedikit tenang, ia memutuskan untuk kembali kerumahnya.
"Ko sebentar Mas?" tanya Teny.
Niki tak menjawab pertanyaannya dan memilih untuk cepat tidur karena ia tahu Teny pasti akan menanyakan tentang Rani.
Keesokannya, Niki berangkat ke kantor lehih awal. Sesuai rencananya,ia mencari info tentang spesialis aborsi melalui internet dan beberapa relasinya.
"Hai bro .. Lama gak ada kabar tiba-tiba minta info Dokter aborsi? Buat siapa?" tanya Gunawan yang tak lain adalah temannya semasa kuliah yang berprofesi sebagai seorang Dokter.
"Panjang deh bro urusannya .. Jadi kapan gue bisa ketemu sama Dokternya?" Niki sudah tak ingin basa-basi lagi.
"Dia biasanya praktek hari Rabu sama kamis di Rumah Sakit tempat gue praktek" kata Gunawan.
"Rabu? Berarti besok ya? Oke kalo gitu besok gue temuin lo di Rumah Sakit. Tapi lo jamin aman kan bro?" ucapnya meyakinkan.
"Aman bro, tenang aja,bisa gue pastiin .. Pokonya dia recomend banget deh" jawab Gunawan.
" Ya udah kalo gitu bro, Thanks ya .. Sorry gue ak bisa lama-lama, masih ada urusan" ujar Niki berpamitan meninggalkan Gunawan.
Dia kembali menghubungi Rani memberitahukan bahwa besok Dia akan menjemputnya bertemu dengan Dokter,dan Rani mengiyakan.
Untuk sementara, Niki mampu membelakangkan perasaannya kepada Sandra. Saat ini, ia hanya fokus membereskan masalahnya dengan Rani.
Niki pulang ke rumah. Sesampainya dirumah, Teny telah menyiapkan makanan untuknya dan menyambutnya dengan baik.
__ADS_1
"Mas ..." Teny menyalaminya dan membawakan tas yang dibawa oleh Niki.
"Rizal mana?" tanya Niki.
"Tadi dibawa sama Ibu, katanya mau nginep disana semalam, ada adik datang" tutur Teny.
"Kamu ko gak ikut?"
"Gak enak Mas" jawab Teny.
"Kenapa gak enak? Biasanya juga kan kamu pergi tanpa aku?" Niki.
"Tapi sekarang kan aku udah ingin merubah semuanya Mas .."
"Meskipun kamu tau aku menghamili wanita lain?" tanya Niki.
"Oh,ya .. Gimana kelanjutannya?" bukan menjawab, Teny malah balik bertanya.
"Entahlah .. Dia minta aku menikahinya" ujar Niki. Ia ingin tahu reaksi istrinya mendengar itu.
"Terus kamu mau menikahinya?" Teny tertunduk,tak sedikitpun raut wajahnya menyiratkan emosi.
"Kalo aku mau menikahinya, kamu mau dimadu?"
"Wanita mana yang mau dimadu Mas .. Aku sadar semua juga kesalahanku. Kalo kamu mau menikahinya, pulangkan aku kerumah orang tuaku, jelekkan aku sesukamu. Agar mereka tetap menilai kamu sebagai suami dan Ayah yang baik bagi kami" jawabnya.
Sungguh kamu istri sholeha ..
Kenapa kamu berubah disaat yang seperti ini? Andai sejak itu kamu tak pernah merajuk, mungkin akupun tak akan pernah terjerumus dalam lembah hitam yang dalam seperti sekarang ini. Gumam Niki dalam hatinya.
"Aku ikhlas jika Mas mau menikahinya, aku akan terima .." mata Teny mulai berkaca-kaca, menyadari betapa bodoh selama ini ia bersikap dingin dan membiarkan lelakinya bersama wanita lain.
Niki memeluk Teny dan mencium keningnya "Aku minta maaf, aku gak bisa menjadi suami dan ayah seperti yang kalian harapkan. Aku gak bisa menjanjikan semua akan tetap indah. Jika semua tidak sesuai dengan harapan, aku harap kamu tidak membenciku" tutur Niki.
Teny hanya mengangguk, meski sebenarnya ia sangat berharap semua akan baik-baik saja. Ia berharap rumah tangganya akan tetap utuh. Namun sebagai seorang wanita, ia tak bisa egois. Teny tetap harus melihat bahwa disisi lain ada wanita yang juga berharap suaminya dapat mendampingi hidupnya.
Bersambung 💕
__ADS_1