
Tengah malam, Sandra kaget saat ia membuka matanya ia masih dalam dekapan Niki. Sandra memperhatikan wajah Niki yang sedang terlelap, dengan ragu ia mencium keningnya. Ketika itu, sebenarnya Niki belum benar-benar terlelap. Ia baru saja memejamkan matanya sehingga ia dapat merasakan ciuman Sandra. Niki semakin mengeratkan pelukannya. Merasakan hal itu Sandra terbelalak kaget menyadari bahwa Niki tidak benar-benar tidur.
"Mulai nakal ya, berani cium-cium," kata Niki dengan mata yang masih terpejam.
"Mas, kirain udah tidur," lirih Sandra.
"Emang kenapa kalo belum tidur? Mau nambahin ciumnya? Hmm? Nih," Niki menunjuk pipinya.
Sandra menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena merasa malu, Niki mengikutinya menyusup ke dalam selimut.
"Gak usah malu dong, kan udah sah! aku malah seneng," kata Niki membalas ciuman di kening Sandra.
"Makasih ya Mas," lirih Sandra.
"Untuk apa?" tanya Niki.
"Karena Mas udah berhasil menjaga aku selama kita tinggal bareng," ujar Sandra.
Niki hanya tersenyum memeluknya semakin erat dan mencium pucuk kepalanya.
Sandra memberanikan diri membalas pelukan Niki. Jantungnya berdetak semakin kencang tak beraturan. Tapi semakin lama, ia merasa semakin nyaman berada dalam dekapan Niki.
Perlahan tangan Niki menyusup ke dalam bajunya. Merasakan ada yang bergerilya di punggungnya, mata Sandra seketika membulat. Dan secepat kilat Niki membungkam mulutnya dengan ciuman lembut. Sandra sudah berusaha menepisnya, tetapi tangan Niki menahan punggungnya agar tak bisa lepas.
Niki melepaskan ciumannya saat dirasa Sandra sudah mulai kesulitan untuk bernafas. Meski dengan rasa takut, Sandra tetap menikmati setiap sentuhan yang diberikan Niki tanpa perlawanan.
Malam itu berakhir menjadi malam pertama bagi sepasang insan yang baru menikah. Mereka melakukannya berkali-kali, Niki merasa gairah mudanya kembali bergejolak saat melakukannya dengan Sandra. Hingga waktu menjelang subuh, mereka baru mengakhiri perangnya di atas ranjang.
Peluh yang membasahi tubuh mereka tak menahannya untuk saling mendekap, hingga akhirnya mereka terlelap dalam dekapan tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya. Hanya di tutupi oleh selimut tebal hingga ke leher.
Pukul 10. 00 WIB
Mereka belum juga terbangun, pagi hari Bi Kokom sudah berkali-kali mengetuk pintu kamarnya membangunkan untuk sarapan bersama atas perintah Irwan, tetapi tak ada sahutan dari dalam kamar.
"Belum bangun juga, Bi?" tanya Irwan melihat Bi Kokom sedang membersihkan ruangan atas sebelah kamar Sandra.
"Belum Tuan," sahut Bi Kokom.
Irwan menggelengkan kepalanya.
"Kaya gak pernah jadi pengantin baru aja," sahut Neni.
__ADS_1
"Tapi ini udah jam 10, Ma!" Irwan menunjuk jam yang menempel di tangannya.
"Biarin lah Pa, mungkin mereka kelelahan. Selama dua minggu kemarin mereka tidur beralaskan tikar. Baru kali ini lagi mereka tidur di atas ranjang. Biarin aja lah, biar mereka istirahat," jelas Neni.
Irwan membuang kasar nafasnya dan berlalu menuruni tangga.
Di ruangan bawah suasana masih ramai. Rumahnya masih di penuhi oleh keluarga Sandra yang sengaja menginap atas permintaan Neni.
Keluarga Neni merupakan keluarga besar. Neni merupakan anak paling besar dari 7 bersaudara. Jika sudah berkumpul, mereka selalu ramai dan lupa akan semua penat dan sedih yang mereka rasakan. Karena keisengan sepupunya, Dia menelpon Sandra berkali-kali hingga Sandra terbangun karena suara dering handphone yang berisik.
Sandra mengangkat panggilannya dengan suara serak lemas dan mata masih terpejam tanpa melihat nama penelpon.
"Hallo.."
"Bangun woy...lihat jam tuh, udah jam berapa! Kita dari tadi nungguin pengantin baru gak keluar-keluar, nanem terus," sahut sepupunya.
Raut wajahnya berubah merah saat mengetahui suara di seberang sana yang meledeknya. Sandra segera membuka matanya dan melihat jam dinding yang menempel di hadapannya.
Seketika Sandra bangkit beringsutan menyadari apa yang telah terjadi semalaman. Saat ia akan beranjak ke kamar mandi, ia merasakan ada sesuatu yang aneh di bagian kewanitaannya. Ia melihat kasurnya dan menemukan bercak darah. Sandra semakin panik, Niki yang merasakan tempat tidurnya bergoyang-goyang karena kepanikan Sandrapun terbangun.
"Kenapa?" tanya Niki lirih dengan mata masih terpejam dan tangan memeluk kakinya.
"Biarin aja, aku masih pengen peluk-peluk," manja Niki semakin erat memeluk kakinya.
"Mas, lihat dulu!" kata Sandra.
"Apa sih?" lirih Niki mencoba bangkit dan melihat wajah Sandra.
"Bukan wajah aku, tapi itu!" tunjuk Sandra pada sprei yang terkena bercak darah.
Melihat itu Niki yang memang sudah berpengalaman hanya tersenyum dan menutup kembali matanya.
"Ko merem lagi sih," Sandra mebanting pelan bantal ke arah Niki.
Niki bangkit setengah terbaring mengimbangi Sandra dengan posisi wajah saling berhadapan.
"Itu hal biasa sayang..tandanya kamu masih perawan," Niki memberikan morning kiss pada Sandra.
Mendengar hal tersebut Sandra merasa lega. Ia kembali bangkit, dengan langkah yang tergopoh, ia berjalan menuju kamar mandi. Niki yang memperhatikan Sandra menghampirinya dan memangku Sandra tanpa aba-aba.
"Eh, Mas, lepasin! Malu tau," Sandra memegang selimut di dadanya yang dipakainya untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Ngapain malu, aku kan udah liat semua." Niki tersenyum lebar dan menurunkannya di atas bath tub lalu menarik selimutnya dan melemparkannya ke atas ranjang kemudian kembali menghampiri Sandra dan merendam tubuhnya bersamaan hingga mereka melakukan olahraga paginya di dalam kamar mandi.
"Lama banget sih, jangan-jangan tidur lagi," ujar sepupunya kesal.
Keluarga Neni memang sudah merencanakan bahwa 3 hari ini mereka akan pergi ke pantai dan menyewa villa di sana. Sandra dan Niki memang sudah menolak karena Sandra tak ingin menjadi bahan ejekan keluarganya. Tetapi keluarganya memaksa Sandra untuk tetap ikut.
"Mungkin lagi mandi," sahut Tantenya.
"Lama banget tau, ini udah satu jam sejak tadi aku nelpon," kesal sepupu melihat layar handphonenya.
"Nanti juga kamu ngerasain gimana rasanya jadi pengantin baru,"
"Alah, pengantin baru untuk yang kedua kalinya," celetuk lainnya.
"Ya tetep aja pengantin baru namanya,"
"Heran emang ya tuh anak, kaya gak ada cowok lain aja. Body oke, rupa cantik, otak gak ****-**** amat, dengan harta yang dimiliki sama orangtuanya, dia bisa nunjuk lelaki manapun buat jadi suaminya. Ko mau-maunya dinikahin sama cowok kere,"
"Hus! Kedengeran Neni tau rasa lo! Mungkin udah jodohnya kali,"
Mereka terdiam.saat melihat Neni dan Irwan datang menghampiri.
"Masih belum keluar kamar juga?" tanya Neni.
"Tau nih Wa, lama banget. Udah berakar nih," sahutnya.
"Hhmm.. Coba dibangunin lagi deh," Neni pergi ke kamar Sandra dan mengetuk pintu kamarnya.
Tok..tok..tok...
"Iya, sebentar," sahut Sandra.
"Cepetan dong! Yang lain udah pada nunggu," teriak Neni.
Sandra membukakan pintu kamarnya.
"Iya Ma, ini udah selesai ko, dikit lagi," kata Sandra.
Setelah selesai, Sandra dan Niki menghampiri keluarganya di bawah.
Bersambung ❤
__ADS_1