
Setibanya di kontrakan, Sandra langsung membenahi kontrakannya. Ia menata semua perabotan yang telah di belinya di bantu oleh Niki.
"Harus sekarang ya? Gak nunggu nanti aja gitu yank ?" tanya Niki.
"Ya sekalian aja Mas, lagian kan besok udah mulai kerja. Kapan mau di rapiinnya?" jawab Sandra.
"Aku izin aja sama Hamid satu hari lagi ya, biar kita ada waktu buat istirahat, gimana?" Niki merogoh handphone di dalam saku celananya.
"Tar kerjaannya jadi numpuk Mas," bantah Sandra.
"Atau gini aja, kita minta email aja semua kerjaan kita biar kita kerjain di rumah, gimana?"
"Emang perusahaan punya Mas? Seenaknya ngambil keputusan," sinis Sandra.
"Gak apa-apa, Hamid juga pasti ngerti ko." Niki lalu menghubungi Hamid untuk meminta izin perpanjangan hari liburnya.
Setelah berbincang cukup lama dengan Hamid, Niki menaruh kembali handphonenya ke dalam saku.
"Gimana Mas?" Sandra penasaran apakah Hamid mengizinkan atau tidak.
"Oke," singkat Niki.
"Apanya yang oke?"
"Ya liburnya. Nanti Hamid kesini bawain berkas kita biar bisa di kerjain, sisanya dia kirim lewat email," jelas Niki.
"Sekarang?" tanya Sandra.
"Iya, malam ini!" sahutnya.
"Harus kebut dong nih beresinnya, kan malu kalo Pak Hamid datang masih berantakan." Sandra yang sedari tadi santai membenahi rumahnya, kini mengeluarkan tenaga dalamnya dan mengerjakan semuanya dengan cepat di bantu oleh Niki. Tak lama pekerjaannya selesai, Hamidpun datang.
"Selamat malam..." Hamid menengok ke dalam ruangan rumah Niki karena memang pintunya tidak di tutup.
Sandra yang sedang merebahkan tubuhnya di atas karpet segera bangun menyadari kedatangan Hamid.
"Eh, Bapak? Masuk Pak!" Sandra mempersilahkan Hamid masuk. "Maaf ya Pak, tempatnya seadanya gini," ujar Sandra.
"Gak apa-apa. Omong-omong, gimana nih malam pertamanya?" goda Hamid.
__ADS_1
"Udah buruan bikin minum, pertanyaan ini cuman buat bapak-bapak," melihat wajah Sandra yang memerah karena pertanyaan Niki, ia akhirnya menyuruhnya untuk membuatkan minuman. Sementara Hamid menggoda Niki dengan memainkan alisnya.
"Parah pertanyaan lo," Niki memukul kaki Hamid dengan gulungan koran yang ia pegang.
"Ah lo kaya pengantin baru aja," ledek Hamid.
"Gue emang bukan pengantin baru, tapi do'i bro!" bola mata Niki menunjuk ke arah Sandra.
"Ya, ya, ya...gimana malam pertamanya, aman kan?" Hamid memainkan alisnya.
"Aman bro, lancar!" Niki membusungkan dadanya.
"Beres lo..semoga langgeng ya! Semoga yang terakhir juga nih," Hamid memberikan ucapan selamat pada Niki.
Tak lama kemudian Sandra datang membawa nampan berisi 3 gelas air teh manis.
"Maaf ya Pak, cuman ada ini," Sandra menyuguhkan satu gelas teh manisnya kepada Hamid.
"Gak apa-apa, gak usah ngerepotin," ujar Hamid.
"Jadi ini nih kerjaan kalian," Hamid membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa map berisi file pekerjaan Sandra dan Niki sambil menjelaskan.
"Segini doang, bro?" tanya Niki.
"Duh, Thank you banget bro..gue gak tau gimana jadinya kalo gak ada lo, pokoknya gue berhutang banyak sama lo," Niki menghambur memeluk Hamid dan menepuk pelan punggung Hamid.
"Santai aja..selama gue bisa bantu, gue pasti bantu ko," sahutnya.
"Iya nih Pak, Terimakasih banyak ya," ulang Sandra.
"Iya, udah ah! jadi terharu nih," jawab Hamid.
Setelah membahas tentang pekerjaan, mereka berbincang tentang kehidupan pribadinya. Terlihat keakraban antara mereka, Hamid menganggap Sandra sama seperti Niki. Sudah di sejajarkan dalam deretan nama saudaranya.
"Ya udah kalo gitu, gue pamit dulu ya! Besok pulang kerja kalo sempet gue mampir lagi kesini," ujar Hamid.
"Buru-buru banget, Pak?" sahut Sandra.
"Udah malem yank, lagian anak istrinya juga di rumah pasti nungguin," celetuk Niki seolah mengusir Hamid secara halus.
__ADS_1
"Bisa aja lu," Hamid segera keluar dan memakai sepatunya.
Selepas kepergian Hamid, mereka celingukan berdua. Tidak ada kegiatan yang di lakukan.
"Sepi ya?" Sandra menyalakan Televisi, namun ternyata antenanya belum dipasang.
"Ya, lupa Mas. Antenanya belum dipasang," ucap Sandra melas.
"Besok aja deh yank, sekarang kan udah malem. Besok kita pasang satelit bulanan aja ya?" jawab Niki.
"Ya udah lah," Sandra akhirnya merebahkan diri di pangkuan Niki.
"Mending kita nonton film action di laptop aja," Niki meraih laptop dan menyetel film action kesukaannya.
Meski awalnya Sandra tidak menyukai film bergenre action, tetapi lama kelamaan ia tetap menikmati. Hingga tak di sadari karena kelelahan, Sandra terlelap di pangkuan Niki.
"Yank," Niki mengusap-usap pipinya, namun tak ada respon.
"Hhmm.. kasian banget, pasti kecapean," ujar Niki.
Iapun mengangkat tubuh Sandra dan memindahkannya ke tempat tidur, memakaikan selimut dan akhirnya Nikipun terlelap dalam tidurnya mendekap Sandra.
Sebulan berlalu setelah pernikahannya, rumah tangga Niki dan Sandra berjalan baik. Semakin hari, rasa cinta semakin tumbuh di hati Sandra karena Niki selalu bisa mengimbangi sikap Sandra yang terkadang masih kekanak-anakan. Niki merasa itu hal yang wajar. Niki juga memperlakukan Sandra dengan sangat baik, ia menjadi suami yang mungkin di idamkan oleh setiap wanita.
Tapi hari ini, hawa panas mulai terasa dalam rumah tangganya. Reni hadir kembali dalam kehidupan Niki, ia mengirimkan pesan pada Niki dan Sandralah yang membaca pesan tersebut karena Niki sedang mandi pada saat itu.
"Selamat pagi Mas..semoga hari Mas selalu bahagia (di tambahkan emot senyum),"
Pesan pertama Sandra abaikan. Ia merasa isi pesan tersebut masih dalam batas wajar. Ia menduga, mungkin itu mantan istrinya. Tetapi sepuluh menit kemudian, Reni kembali mengirimkan pesan yang membuat hati Sandra gemetar dan seketika mukanya merah menahan emosi. Seribu tanya bermunculan di kepalanya karena saat ia memastikan nomor tersebut, Sandra sangat yakin bahwa itu bukan nomor Teny.
"Aku minta maaf Mas, karena ternyata aku gak semudah itu bisa melupakan Mas. Aku mohon..Aku mau kita kayak dulu lagi, Mas. Aku gak apa-apa walaupun hanya dijadikan sebagai simpanan Mas," begitu isi pesan yang di kirim oleh Reni.
Sandra menggenggam handphone Niki dengan erat. Ia tak sabar menunggu Niki selesai mandi dan menunggu penjelasan darinya.
Keluar dari kamar mandi, saat Niki masuk ke dalam kamar, Sandra memberikan handphonenya dengan kasar dan berlalu keluar kamar. Melihat raut wajahnya, Niki yakin bahwa ada sesuatu yang mengundang amarahnya.
Tanpa bicara, Niki mengambil Handphonenya dan melihat layar handphonenya sudah ada tepat di pesan Reni. Menyadari itu, Niki jadi kebingungan bagaimana cara menjelaskannya pada Sandra. Iapun tak menyangka jika Reni akan kembali setelah ia yang memutuskan untuk pulang dan berjanji tidak akan pernah menghubunginya lagi.
Sembari memakai pakaiannya, otak Niki berputar menyusun kata untuk menjelaskan pada Sandra. Ia tak ingin menyakiti hatinya.
__ADS_1
Bersambung ❤
Likenya dulu ya kakak 😘