Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 82


__ADS_3

Dengan nada hati-hati, Sandra mencoba menjelaskan terlebih dahulu duduk permasalahannnya. Teny mendengarkan dengan seksama.


"Hhmm..kamu harus sabar ngadepin Mas Niki. Sebetulnya dia bukan type lelaki yang suka mempermainkan wanita, memang benar apa yang dikatakannya, dia menjadi seperti itu karena saya sebagai istri tidak bisa menjalankan kewajiban saya. Selama kamu sudah menjalankan kewajiban kamu, kamu berhak protes. Saya yakin Mas Niki gak akan berkutik dengan protes kamu. Tentang Reni, saya memang sedikit tahu tentang dia." Jelas Teny secara terperinci.


Teny bahkan menceritakan bahwa Reni pernah datang menemuinya dan menceritakan tentang kehamilan Reni.


Sandra menutup mulutnya, merasa tak percaya jika suaminya sudah berbuat sejauh itu dengan Reni yang jelas-jelas belum terikat pernikahan. Jantungnya berdetak hebat, amarahnya memuncak. Ingin rasanya saat itu juga Sandra meneriaki suaminya, tetapi Sandra berfikir ulang dengan apa yang harus di lakukannya.


Setelah mendapat penjelasan dari Teny, Sandra memilih untuk pamit meninggalkan rumahnya.


"Maaf ya Mbak, kalo kedatangan saya yang tiba-tiba ini mengganggu Mbak. Terimakasih juga atas informasi yang Mbak berikan," ujar Sandra.


"Iya sama-sama. Kamu gak usah sungkan, sekarang kan kamu juga merupakan bagian dari hidup anak saya. Esok atau lusa, Rizal pasti meminta untuk menemui ayahnya dan saya harap kita bisa bekerja sama untuk mendidik Rizal," jelas Teny.


"Iya Mbak. Saya akan menganggap Rizal seperti anak kandung saya sendiri. Kalo gitu saya pamit dulu ya Mbak, assalamualaikum," lirih Sandra.


Mobilnya sudah melaju cepat meninggalkan tempat tinggal Teny.


Amarah yang ia pendam seketika meluap, tangisnya pecah di dalam mobil. Ia menepikan mobilnya di sebuah taman biasa ia menyendiri.


Ia merenungi semua yang sedang menimpanya. Lamunannya buyar seketika saat handohonenya berdering, yang ternyata itu adalah panggilan dari Niki.


Sandra menormalkan nafasnya terlebih dahulu sebelum ia menjawab panggilannya. Ia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


"Hallo Mas, assalamualaikum.." Sandra membuka pembicaraannya.


"Waalaikumsalam, sayang..kamu masih dimana? Belum selesai ya?" tanya Niki mesra seolah tidak ada kesalahan yang ia lakukan.


"Belum Mas, aku baru selesai ketemu sama temen. Ini baru mau belanja, Kenapa? Ada yang mau di pesan?" Sandra mencoba menutupi semua amarahnya. Ia masih ingin memasikan kebenaran ucapan Teny.

__ADS_1


"Nggak ko, kamu cepetan aja. Mas gak enak sendirian di rumah," ujar Niki.


"Iya, ya udah ya. Aku belanja dulu," Sandra lalu mengakhiri panggilannya.


Ia berusaha mencoba mengesampingkan rasa kecewanya, ia kembali ke rumah dan bersikap seolah ia tidak mengetahui apa-apa.


Niki segera menghambur menghampiri Sandra saat mendengar suara mobil terparkir di garasi.


"Biar Mas yang bawain," Niki segera meraih kantong keresek yang akan di bawa oleh Sandra.


Sandra membiarkan Niki membawakan belanjaannya dan ia segera masuk ke dalam rumah.


"Mas udah makan belum?" tanya Sandra.


"Belum, Mas sengaja tungguin kamu biar kita makan bareng." jawab Niki.


Sandra tak banyak bicara kepada Niki, hingga Niki merasa ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.


"Nggak!" singkatnya datar tanpa menoleh sedikitpun.


Niki memegang keningnya dan mengecek suhu tubuh Sandra tapi di tepis oleh Sandra.


"Apaan sih Mas, aku gak kenapa-apa ko," ucapnya sedikit menekan.


"Mas bukan orang lain, sayank. Mas tau banget kalo kamu lagi ngerasain sesuatu, hhmmm?" karena penasaran, Niki terus saja bertanya pada Sandra.


Sandra hanya terdiam, hanya dalam hatinya ia menggerutu mengeluarkan semua kekesalannya.


"Sayank...jangan kaya gitu dong. Cerita sama Mas apa yang kamu rasa, biar Mas tau dimana letak kesalahan Mas," dengan penuh kelembutan Niki membujuk Sandra agar ia mau mengeluarkan kekesalannya.

__ADS_1


"Salah Mas banyak banget Mas. Aku gak nyangka selama ini aku menikah sama laki-laki kaya Mas," Sandra melempar handphonenya ke atas ranjang dan mengangkat kepala menatap dalam wajah suaminya.


Niki sangat terkejut dengan ucapan Sandra, baru kali ini ia mendengar Sandra berani bicara dengan nada membentak.


"Maksud kamu apa? Mas makin gak ngerti aja," meski sudah menduga kemana arah pembicaraan Sandra, tapi Niki tetap ingin mendengar penjelasan dari Sandra.


"Kenapa Mas gak cerita sama aku sejauh apa hubungan Mas sama wanita itu? Dan apa benar wanita itu pernah mengandung lalu menggugurkan kandungannya?" pertanyaan Sandra penuh dengan penekanan membuat wajah Niki pucat pasih. Ia merasa bahwa ini akan menjadi akhir dari kisah indahnya bersama Sandra.


Semua gara-gara kamu, Reni...kesalnya dalam hati.


"Jawab!" mata Sandra semakin membulat dan semakin mendekatkan pandangannya.


"Kamu..??" Niki sangat gugup dan gelagapan.


"Kamu apa? Mas heran kenapa aku bisa tau semuanya? Aku kecewa Mas. Pantas aja wanita itu menghubungi Mas lagi, wanita mana yang rela dengan begitu saja pergi dari lelaki yang sudah dengan tega merusak kesuciannya, aku rasa dia masih waras Mas!" tegas Sandra.


"Apa wanita yang kamu maksud adalah Reni?jika iya, Mas tau Mas salah karena gak pernah jelasin sama kamu sebelumnya tentang hubungan Mas sama dia. Tapi Mas pikir semua udah berakhir, dia sendiri yang minta sama Mas untuk menggugurkan kandungannya, dan dia juga yang mohon Mas untuk gak pernah hubungin dia lagi. Mas juga gak pernah nyangka kalo dia akan kembali. Tapi percayalah sayang..Mas akan pernah berpaling dari kamu. Memang sejak lama Mas sedang mencari cara untuk menyelesaikan hubungan Mas sama dia, dan Mas sangat bersyukur saat dia meminta Mas untuk menjauh," Niki menggenggam tangan Sandra, namun Sandra menghempaskannya.


"Bukankah kamu yang pernah bilang, bahwa masa lalu Mas itu gak penting? Kamu yang pernah bilang yang terpenting itu Mas selalu ada buat kamu?" ucapan Niki membuat dada Sandra gemetar hebat hingga memecah tangisnya.


"Terus apa yang akan Mas lakukan? Sekarang dia kembali. Sedikitnya, kehadirannya membuat rumah tangga kita goyah. Aku yakin dia gak akan tinggal diam Mas. Aku takut kehadirannya membuat Mas berpaling dari aku," lirih Sandra.


Niki memeluk Sandra dan menenangkannya.


"Kamu percaya sama Mas! Mas gak akan pernah tinggalin kamu selama kamu masih menjalankan kewajiban kamu sebagai istri. Masalah Reni, kamu tenang aja. Biar Mas yang selelesaikan," Niki menggenggam tangan Sandra dan menciumnya.


Meski Sandra diam, bukan berarti ia menerima begitu saja ucapan maaf dan janji yang terucap oleh Niki.


Malam ini, Niki mencairkan suasana dengan pertempurannya di atas ranjang. Meski enggan, Sandra tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri untuk melayani suaminya dengan baik.

__ADS_1


Setelah pertempurannya mencapai puncak, Niki lalu tertidur pulas. Sementara Sandra masih terjaga, kekecewaan masih saja menyelimutinya.


Likenya dulu ya ..😘


__ADS_2