
"Pelan-pelan, Bro. Gue masih pengen hidup! istri sama anak gue masih butuh gue!" Hamid memegang sheetbeltnya dengan erat karena Niki mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Gue kesel banget. Gue nyesel pernah gonta-ganti pasangan, dan gue juga nyesel pernah ketemu sama Reni. Semua jadi rumit kaya gini."
Niki sedang berfikir betapa bodohnya ia terus saja membohongi istrinya. Tapi Niki tak ada pilihan lain, ia juga tak ingin Sandra tau dan menimbulkan pertengkaran antara mereka.
Niki menghentikan mobilnya di depan gang. Ya, rumah Reni bertempat di dalam gang kecil yang tidak bisa di lalui oleh kendaraang roda empat.
"Ngapain parkir disini?" Hamid celingukan heran.
"Ya disini rumahnya!" Niki membuka sheetbelt dan turun dari mobil.
"Ayo cepet turun!" seru Niki.
"Gue harus ikut?" Hamid menunjuk dirinya.
"Ya iyalah." Niki menarik tangan Hamid agar keluar dari mobil.
Semua mata menatapnya penuh heran, dua orang pria dengan pakaian rapi di lengkapi jas dan dasi serta sepatu hitam mengkilat, 'kemana arah mereka?' Seperti itu kira-kira yang ada di pikirannya.
"Gue takut sebenernya, Bro!" bisik Niki.
"Kenapa?"
"Gue takut dijebak, tar sampe sana gue di nikahin sama Reni," ujar Niki.
Tedy tertawa seakan merasa puas. Refleks, Niki menutup mulutnya.
"Sory, sory, Bro."
Tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana, dari kejauhan, sudah terlihat seorang ibu yang akan menyambut kedatangan Niki.
"Ini rumahnya?" Hamid bertanya tepat di sebelah telinga Niki.
__ADS_1
Niki hanya mengangguk.
"Itu ibunya?" bisiknya lagi.
"Iya, bawel amat lu. Lu cukup ikutin gue aja, lu bela gue," bisik Niki.
"Kak..ada tamu nih!"
Seorang anak kecil yang sedang bermain di halaman rumahnya berteriak memanggil Reni.
"Masuk, Mas! Reni ada di kamarnya. Udah tiga hari gak mau makan dan minum, dibawa berobat juga gak mau. Kita jadi khawatir, mari ibu tunjukan kamarnya."
Orangtua Reni langsung saja meminta Niki untuk membujuk Reni agar mau makan dan minum obat.
Di dalam kamar, Niki tampak prihatin melihat kondisi Reni yang terbaring lemah.
"Mas..."
Reni meneteskan airmatanya melihat kedatangan Niki.
"Mas kenapa sih? Apa gak bisa Mas bersikap lembut sama aku sedikit aja? Aku tau aku gak ada artinya di hati Mas. Tapi Mas harus tau juga kalo aku gak bisa hidup tanpa Mas."
Reni menyandarkan badannya ke ranjang. Kini air matanya sudah mengalir, seolah memang separuh raganya sudah menjadi milik Niki. Reni rela mempermalukan dirinya sendiri hingga semua orang menganggap ia tak memiliki harga diri harus mengejar pria yang sama sekali tak menginginkannya.
"Harus berapa kali aku bilang, sekarang aku udah menikah! Aku gak bisa tinggalkan ataupun menduakan dia. Seharusnya kamu sadar itu. Sekarang, aku minta kamu lupain aku! Lupain semua tentang kita. Lagipula sekarang aku udah seperti dulu. Jangankan untuk mendua, istri aku aja bekerja untuk bisa membantu ekonomi kita," jelas Niki panjang lebar.
"Sekarang semua udah terlambat Mas. Awalnya aku memang melihat semua dari harta. Tapi setelah Mas melakukan semuanya sama aku, aku udah gak peduli lagi bagaimanapun keadaan Mas. Dan perlu Mas ketahui, Aku gak akan pernah lupain Mas!" tekan Reni.
Hamid hanya diam mematung menyaksikan perdebatan diantara keduanya.
"Tapi aku gak bisa! Tolong mengerti keadaan aku. Jangan samakan aku dengan yang dulu, istriku yang sekarang gak akan tinggal diam mendengar hubungan kita,"
"Silahkan saja Mas hindarin aku dengan cara Mas. Asal Mas tau, aku akan tetap mempertahankan perasaan aku dengan caraku."
__ADS_1
"Terserah kamu! Sekarang, aku mohon kamu makan, kamu minum obat biar cepat sembuh. Supaya kamu bisa melihat lagi dunia yang luas diluar sana. Biar mata kamu terbuka bahwa masih banyak lelaki yang bersedia berlutut di hadapan kamu."
Niki keluar dari kamarnya dan segera berpamitan pada orangtua Reni. Sementara Reni, selepas kepulangan Niki ia sangat merasa kecewa. Semula, ia berharap bahwa Niki akan menyuapinya makan dan mengajaknya berobat. Tapi kenyataannya, ucapan Niki jauh dari yang dibayangkan Reni.
Reni beranjak dari tempat tidurnya, ia duduk di depan meja rias dan menjambak rambutnya sendiri. Tangisnya semakin menjadi, Reni menyeret kasar semua yang ada di meja riasnya hingga berjatuhan dan beberapa pecah. Orangtua yang mendengarnya segera menghampiri Niki.
"Kamu kenapa, Ren?" Ibu memeluk Reni dan mendekapnya.
Hanya rasa kecewa yang ia rasa hingga tak dapat menjelaskan pada ibunya. Namun sebagai orangtua, ibu sangat mengerti perasaan anaknya kini.
"Sudahlah, kamu lupakan lelaki itu. Dia sudah beristri! Tak pantas seorang gadis sepertimu mengejar lelaki yang sudah beristri," tutur ibu menasehati Reni.
"Ibu gak ngerti gimana perasaan aku. Aku udah rela memberikan semua yang aku buat dia, dan sekarang dia malah menikah dengan wanita lain. Sementara aku?" ucapan Reni membuat ibu tak mengerti.
"Maksud kamu apa? Apa yang udah kamu kasih buat dia?" Ibu memegangi kedua pipinya.
"Semuanya, Bu. Aku udah kasih harga diri dan kesucian aku sama dia," jelasnya lirih tersenggal dengan isak tangis.
"Astaga, Reni. Ibu gak nyangka kamu bisa berbuat serendah itu? Pantas saja kamu gak pernah mau pulang dan memilih untuk kost jauh, ternyata itu alasannya?" teriak ibu dalam tangisannya.
Kini suara tangis keduanya memecah suasana kamar Reni. Sebagai orangtua, tentu saja ibu merasa kecewa dengan apa yang telah dilakukan anaknya, ibu merasa telah gagal menjadi orangtua.
"Apa yang kamu pikirkan sampai mau-maunya kamu melakukan itu diluar nikah? Hah? Apa ibu mengajarkan kamu seperti itu? Apa kamu pernah melihat atau mendengar ibu berbuat seperti itu? Jawab Reni!"
Ibu berteriak memegang erat kedua bahu Reni, sementara Reni hanya menangis menyesali semua perbuatannya. Iapun tak menyangka jika mulutnya akan lancang mengucapkan itu kepada ibunya.
"Ampun, Bu. Maafkan Reni! Reni khilaf,"
"Khilaf? Kamu sudah melakukannya berkali-berkali, kamu bilang khilaf? Dimana otak kamu? Dan sekarang kamu bersikeras mempertahankan pria yang bahkan hanya menganggapmu tak lebih sebagai seorang *******? Sadar Reni, Sadar!" teriak Ibu.
"Tapi Reni gak bisa melepaskan Mas Niki gitu aja, Bu. Reni mau Mas Niki menikahi Reni, Reni gak peduli meskipun hanya dijadikan sebagai istri simpanannya," lirih Reni.
"Astagfirulloh, Reni. Sepertinya otak kamu memang sudah tidak waras, maaf jika ibu akan tegas dan akan membentengi diri kamu sejak detik ini, karena kamu masih menjadi tanggung jawab ibu dan ibu akan sangat berdosa jika membiarkan kamu menganggu rumah tangga orang."
__ADS_1
Ibu keluar dari kamar Reni dan meninggalkan Reni seorang diri.