
Sandra iseng meraih handphone Niki yang di simpan di atas nakas lalu membukanya.
Handphonenya memang tidak pernah di kunci karena memang tidak pernah ada yang di rahasiakan darinya.
Namun ketika itu, terdapat banyak sekali pesan dari Reni yang entah lupa atau sengaja, Niki belum menghapusnya.
Sandra membaca pesan itu satu persatu, inti dari pesan yang ia baca, ia dapat melihat bahwa Reni tidak akan begitu saja pergi dari kehidupan Niki. Reni tidak percaya bahwa Niki sudah menikah saat ini.
"Semakin aku mencoba melupakan Mas, rasanya semakin sulit. Semua yang udah kita lakuin bersama gak mudah untuk aku lupakan begiu saja." salah satu isi pesan yang Sandra baca dan berhasil membuat air matanya menetes hingga mengalir dengan derasnya.
Niki terbangun mendengar isak tangis di sampingnya. Seketika ia terperanjak melihat istrinya sedang menangis tersedu tengah malam.
"Sayang..." Niki memeluk dan mengusap punggungnya, tetapi di hempaskan oleh Sandra.
"Kenapa sih? Sakit?" Niki memegang kedua pipi Sandra dan menghapus air matanya.
"Hey..kenapa?" Niki mengulang pernyataannya.
Sandra melempar pelan handphone Niki ke arahnya. Niki melihat isi pesan Reni.
Niki menghembuskan nafasnya kasar, "Hhmm..selalu ini alasannya, sayang.. dua hari ini sikap kamu ke Mas gak jelas, Mas harus gimana lagi? Mas udah coba jelasin ke kamu, semuanya gak ada yang Mas tutupi. Mas jadi bingung," tutur Niki.
"Aku yang bingung Mas. Sekarang mungkin Mas belum tergoda, tapi besok? Lusa? Gak menutup kemungkinan kalo antara kalian menjalin hubungan lagi. Lalu, aku?" ucap Sandra penuh penekanan.
"Kamu tetap menjadi istri Mas dan gak akan tergantikan!" tekan Niki. "Kamu dengar ya, Mas bukan baru kali ini kenal sama Reni. Kalo Mas emang berniat serius sama dia, gak akan sekarang, dari dulu aja Mas gak akan pernah meninggalkan Istri dan anak Mas hanya untuk kamu, kamu tau sendiri, kan. Dia rela di madu oleh Mas. Dan sekali lagi Mas tekankan sama kamu, Mas gak akan pernah mau membagi hati dan hidup Mas selama kamu bersikap baik sebagai istri dan menjalankan semua kewajiban kamu. Ngerti?" jelas Niki geram dengan ucapan Sandra.
Isak tangisnya semakin pecah setelah mendengar penjelasan Niki. Sementara Niki, memilih untuk pergi meninggalkan Sandra sendiri karena ia tak ingin ada pertengkaran, apalagi tengah malam seperti ini.
"Mas mau kemana?" tanya Sandra melihat Niki memakai jaket dan helm serta mengambil kunci motor milik Sandra.
"Cari angin, kamu di rumah aja. Mas akan pulang kalo kamu udah percaya sama Mas dan ragu lagi," jelas Niki.
Esok hari, Sandra datang ke tempat kerja dengan mata sembab. Meski sebenarnya moodnya kurang bagus, ia tetap bekerja karena hari ini adalah akhir bulan. Itu berarti ia harus menyelesaikan laporan bulanannya dan segera menyerahkannya pada Hamid.
"San, Niki mana? ko gak ada di ruangannya?" tanya Hamid. Ia semakin penasaran setelah melihat Sandra dengan matanya yang sembab dna wajah pucat tanpa make up. "Kamu kenapa? berantem sama Niki?"
__ADS_1
"Nggak ko, Pak. Saya cuman sedikit gak enak badan aja," jawab Sandra berbohong.
Saat sedang bersama Sandra, Niki menelpon Hamid, karena Hamid menyangka bahwa mereka sedang ada masalah, Hamid memilih menjauh dari Sandra untuk menjawab panggilannya.
"Sebentar ya," Hamid pergi meninggalkan Sandra dan masuk ke ruangannya.
"Hallo, Bro..kemana lu? Gak izin sama gue kalo lu gak masuk?" ujar Hamid.
"Sory Bro, gue lagi ada sedikit masalah. Ini gue baru mau izin, laporan bulanannya gue kirim lewat email aja ya? Please.." Niki memelas agar Hamid mengizinkannya.
"Ya..ya..ya... Emank lu kenapa sih? Lu berantem ya sama istri lu?" tanya Hamid penasaran.
"Biasa lah, resikonya nikah sama anak kecil," jawab Niki. "Eh, Bro. Sandra masuk kerja kan?"
"Iya, dia masuk ko. Tapi mukanya pucat banget, matanya sembab. Makanya gue ngira kalian berantem. Masalah apaan sih?" Hamid terus saja memberondong Niki dengan rasa penasarannya.
"Nanti gue ceritain, gue mau pulang dulu, mau mandi. Tolong awasin Sandra ya, gue khawatir. Dia kalo lagi banyak pikiran pasti makannya gak ke kontrol," pinta Niki.
"Iya siap. Lu tenang aja." jawab Hamid.
Setelah menyelesaikan panggilannya, Hamid kembali menghampiri Sandra.
"Gak banyak banget sih Pak, lumayan lah..cuma mau ngebut aja biar gak lembur," jawab Sandra.
"Kamu sakit ya? Muka kamu pucat gitu? Niki kemana sih? Ko gak masuk? Kalian berantem ya?" Hamid memberondong Sandra dengan pertanyaan, seolah ia belum mengetahui apa-apa dari Niki.
Sandra tidak menjawab pertanyaan Hamid dan lebih fokus melihat layar komputer di hadapannya.
"Hey.." Hamid menggoyangkan tangannya di depan wajah Sandra.
"Iya, kenapa Pak?" Sandra seolah tak mendengar pertanyaan Hamid.
"Hhmm..Niki kemana?" tanya Hamid.
"Oh, euh..dia..gak tau Pak, kayaknya nginep di rumah temennya." jawab Sandra.
__ADS_1
Sandra tidak bisa membohongi Hamid karena ia berfikir Niki pasti akan mencertitakan semuanya pada Hamid. Kedekatan mereka sudah melebihi saudara kandung.
"Kalian berantem, ya?" dengan hati-hati Hamid mengulik penyebab pertengkarannya dari Sandra.
"Nggak ko, Pak. Cuma ada sedikit masalah aja, ya biasalah..namanya juga rumah tangga. Iya, kan?" Sandra menyilangkan tangannya di atas meja dan menghapkan wajahnya ke hadapan Hamid.
"Terus Niki pergi dari rumah?"
"Heemm.." Sandra mengangguk pelan.
"Masalahnya apa?" Hamid juga menyilangkan tangannya hingga mereka berhadapan seperti seorang sedang menginterogasi.
"Orang ketiga," singkat Sandra.
"Maksudnya? Ada orang ketiga? Ada cewek lain, gitu?" Hamid memperjelas jawaban Sandra.
Sandra hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Hamid.
"Niki selingkuh?" mata Hamid membulat di balik kaca matanya.
"Nggak, bukan. Maksudnya ada cewek yang ngejar-ngejar dia! Masa lalunya sih, dia datang lagi," ujar Sandra.
"Siapa? Bukan Teny, kan?"
"No..no..! Namanya Reni!"
"Reni yang..." Hamid mencoba mengingat nama yang sangat familiar di ingatannya.
"Yang mantan Office girl di kantor Mas Niki dulu. Terus dipacarin tapi gak dinikahin," jelas Sandra.
"Oohh..ya..ya.. Aku tau. Emang kenapa? Bukannya terakhir Niki bilang udah gak ada hubungan lagi sama tuh cewek?"
"Seharusnya begitu. Tapi coba Bapak pikir, wanita mana yang akan dengan mudah melupakan lelaki yang udah mengambil kesuciannya? Terlebih Mas Niki selalu menjanjikan bahwa dia akan menikahinya. Aku yakin, Reni gak akan sekuat itu,"
"Wah..wah..wah..terus Niki gimana?"
__ADS_1
"Ya Mas Niki sih janji gak akan pernah mengulangi kesalahannya. Tapi aku gak bisa percaya gitu aja, Pak," tutur Sandra.
"Kamu tenang aja, yang sabar..Saya yakin Niki gak akan mengecewakan kamu! Saya kenal Niki udah lama dan saya udah paham banget sama wataknya dia, dia bukan type orang yang suka mancla menle sama wanita. Kalopun dulu dia suka ganti-ganti cewek, itu karena mantan istrinya gak bisa ngasih dia kepuasan dan menurut saya, wajar kalo Niki mencari kepuasan di luaran," penjelasan Hamid sama seperti apa yang Sandra dengar dari Teny.