Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 85


__ADS_3

"Berdua aja rame banget?" Sandra bergeleng heran melihat kedua pria di hadapannya yang persis seperti saudara kandung jika sudah bersama.


"Tau nih, Hamid yank..dia ngatain aku jeruk makan jeruk, iihh..." Niki kembali bergidik.


"Kalian pasti belum makan, kan?" tanya Sandra yang di balas cepat oleh keduanya dengan gelengan kepala.


"Hhmm..kompak banget, kalo gitu aku bikinin makanan dulu ya,"


Sandra kembali ke dapur untuk membuat makanan kecil.


"Gue numpang ke toilet dong," seru Hamid.


"Ayo..gue anter," Niki beranjak dari duduknya mengantarkan Hamid ke toilet.


"Bikin apaan, San? Baunya harum banget, bikin perut laper," ujar Hamid.


"Kwetiaw Pak..suka, kan?" jawab Sandra.


"Dia sih cicak yang lagi nempel di dinding juga dimakan." ledek Niki dilanjutkan dengan tawanya, sementara Sandra hanya tertawa kecil dan Hamid masuk ke toilet.


"Kangen banget," Niki berbisik tepat di samping telinga Sandra sambil memeluknya.


"Mas..." Sandra melepaskan tangan Niki di perutnya, Niki mencium kilas bibirnya.


"Ekhem..gak ngehargain tamu banget," Hamid yang baru saja keluar dari kamar mandi tak sengaja melihat pemandangan itu di depannya.


"Lo kecepetan ke toiletnya." Niki menggaruk belakang kepalanya, bukan karena gatal tapi karena malu. Sedangkan Sandra terus melanjutkan masaknya meski dengan wajah yang merona.


Hamid dan Niki kembali ke ruang depan dan melanjutkan perbincangannya.


"Gue salut sama istri lo," celetuk Hamid.


"Salut kenapa?"


"Ya mana ada cewek kaya yang mau sama duda yang kere kaya lo? Udah gitu, dia bisa bersikap dewasa di usianya yang menurut gue belum siap buat nikah. Lo bakal nyesel kalo menyia-nyiakan dia," jelas Hamid.


"Ya makanya..gue sebisa mungkin menjaga dia, selain karena gue emang udah terlanjur janji sama orangtuanya, gue juga emang sayang banget sama dia. Ya lu pikir aja, mana berani gue ngorbanin semuanya tanpa pertimbangan. Yang gue takutin sekarang itu hanya soal Reni aja," wajah Niki memelas ketika menyebutkan nama Reni.


"Gue gak bisa kasih solusi kalo soal itu, yang lebih tau dari awal kan cuma lo. Jadi gue rasa cuma lo yang bisa selesaiin masalahnya. Gue cuma bisa dukung, apapun yang lu lakuin dalam kebaikan." jelas Hamid.


"Taraaa..makanannya udah siap," Sandra datang menyuguhkan nampan dengan 3 piring berisi kwetiaw.

__ADS_1


Tak menunggu lama dan tanpa basa-basi, Hamid langsung menyantap kwetiawnya.


"Ini enak banget, sumpah! Lebih enak dari masakan istri gue. Kali-kali gue harus ajak istri gue kesini biar di ajarin masak," Hamid bicara dengan mulut penuh makanan.


"Dikunyah dulu, terus di telen, baru boleh ngomong! Kayak anak kecil yang kelaparan aja," ledek Niki.


"Gue emang laper, Bro. Lu aja yang gak peka," sahut Hamid.


"Pelan-pelan makannya Pak. Nanti keselek," ujar Sandra.


"Tau nih..kaya sebulan baru nemu makanan aja, heran..malu-maluin gue, lu..!" ucap Niki.


Seketika makanan di piring Hamid habis tak tersisa hingga mengeluarkan sendawa.


"Keluar deh sifat aslinya," Niki tak henti meledek Hamid, sementara Sandra hanya bergeleng kecil.


Melihat jam dinding yang ternyata sudah malam, Hamid pamit untuk pulang.


"SMP lu.." celetuk Niki.


"Bukan gitu, Bro. istri gue udah nelpon nih. Gue gak bilang kalo mau pulang telat," alasan Hamid.


"Gak sekalian nginep aja? Biar jadi wasit," celetuk Niki lagi.


"Udahlah, gak akan bener. Makin malam malah makin panas, gue bisa-bisa jadi obat nyamuk doang." Hamid memakai sepatunya dan berlalu menuju mobilnya.


Niki dan Sandra berdiri memperhatikan hingga mobil Hamid menghilang dalam pandangannya.


"Masuk yuk," tanpa kompromi, Niki menggendong tubuh Sandra dan membawanya ke kamar.


"Aw..gak bisa apa, pelan dikit?" Sandra mengaduh karena Niki melempar pelan tubuh Sandra ke tempat tidur lalu menindihnya.


"Udah gak kuat nahan Yank," lirihnya,


"Pintu depannya belum di tutup Mas," ujar Sandra.


Nikipun membuang kasar nafasnya, beranjak dan menutup pintu.


Setelah menutup pintu, Niki kembali meneruskan aksinya tanpa memberi celah sedikitpun untuk Sandra memberi perlawanan. Hanya erangan dan desahan kecil yang terdengar di malam sepi itu.


"Jangan ngambek-ngambek lagi, ya." Niki mencium kening Sandra saat terbaring lemas setelah mencapai puncaknya.

__ADS_1


"Mas yang jangan cari gara-gara," sahut Sandra lirih.


Niki tak menjawab, hanya menciumi kening dan pipinya seolah lama tak bertemu dengan istrinya.


"Astaga, Mas lupa belum kirim email laporan bulan ini sama Hamid." Niki beranjak dan memungut kembali baju yang tadi ia lempar. Ia mengambil laptopnya dan menyelesaikan pekerjaannya.


"Aku gak bisa bantu, jadi aku temenin Mas aja, Ya." Sandra mendekat, berdiri di belakang Niki dan mengalungkan tangan di lehernya.


"Makasih ya, sayank," Niki menggapai pipi Sandra dan mengangkat pipinya, lalu Sandra menciumnya.


"Banyak banget, ya?" tanya Sandra.


"Iya, tadi Mas buru-buru kerjainnya. Jadi lupa revisi! Seharusnya ini tinggal kirim aja," jelas Niki.


"Emang tadi Mas seharian kemana aja?" pertanyaan yang membuat Niki bingung harus menjawab apa.


"Tadi itu Mas ke rumah temen Mas, ngobrol kesana kemari..ya biasalah, lama gak ketemu. Abis Mas bete pas pulang kamu gak ada di rumah," Niki menjawab dengan nada manja. Ia terpaksa berbohong untuk menghindari pertengkaran, sebenarnya ia menemui Reni siang tadi.


"Oh, ya Mas. Aku mau minta maaf! Kemarin aku nemuin mantan istri Mas tanpa izin," ucap Sandra.


"Gak apa-apa, Mas udah tau ko! Tadi siang Teny udah telpon Mas. Rizal minta di jemput, katanya kemaren dia ngamuk pengen ikut sama kamu, tapi Teny gak kasih izin," ternyata Niki sudah mengetahui pertemuan istri dan mantan istrinya tersebut.


"Mas gak marah, kan?"


"Nggak ko, sayank..Udah ya, jangan bahas yang kemarin lagi. Oke?" Niki memintanya untuk melupakan semua masalah yang terjadi di antara mereka dan di jawab dengan anggukan Sandra.


"Kamu gak keberatan kan kalo kali-kali Rizal nginep di sini?" tanya Niki.


"Nggak ko, justru aku seneng banget. Biar gak sepi di rumah,"


Niki tersenyum dengan jawaban Sandra.


"Kamu pake alat kontrasepsi ya?" pertanyaan itu tiba-tiba membuat Sandra melepaskan tangannya di leher Niki.


"Nggak ko, emang kenapa? Ko Mas nanya gitu?" Sandra merubah posisi hingga kini mereka saling berhadapan.


"Ya biasanya cewek seusia kamu itu lagi masa produktif. Tapi ko kamu belum hamil, ya? Mas pikir kamu sengaja pake alat kontrasepsi," tutur Niki.


"Mas udah pengen punya anak ya?" tanya Sandra memurungkan wajahnya.


"Nggak ko, kamu jangan murung gitu dong. Mas cuman tanya aja, Mas terima aja apa yang dikasih sama Tuhan. Mungkin belum waktunya," Niki memegang kedua pipinya dan menatap matanya.

__ADS_1


Sandra memang berbohong, ia memang memakai alat kontrasepsi karena pada saat akan menikah, ia masih bersemangat untuk meneruskan kuliahnya. Ia pikir kehamilannya akan mengganggu aktifitasnya.


Likenya dulu dongs 😍😘


__ADS_2