
"Udah malem, Mas. Gak dilanjut besok aja kerjaannya?" seru Sandra.
"Kamu tidur duluan aja ya. Mas gak enak sama Hamid kalo di tunda-tunda," matanya masih tertuju pada layar laptopnya.
"Aku bikinin kopi, ya?" tanpa menunggu jawaban, Sandra membuatkan secangkir kopi untuk Niki.
"Makasih ya, sayank," Niki mencium kilas bibis Sandra saat Sandra menyimpan kopi yang ia buat di sampingnya.
"Aku tidur duluan ya, Mas," ujar Sandra di balas dengan senyuman oleh Niki.
Mereka bergantian menciumi kening, pipi dan bibirnya, setelah itu Sandra membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya hingga terlelap dalam mimpi indahnya.
Beberapa menit, Niki menengok ke arah Sandra, ternyata ia sudah terlelap. Ia mengusap rambutnya dan mencium keningnya lagi.
Maafkan Mas sayank..Mas gak bermaksud bohongin kamu, Mas hanya gak mau ada keributan lagi gara-gara hal gak penting. Kamu tenang aja ya, Mas akan secepatnya selesaikan masalah Reni. Gumamnya dalam hati.
Disela kesibukannya, Niki meraih handphonenya bermaksud untuk menghubungi Hamid. Tapi ternyata ia mendapatkan pesan dari Reni, Niki memang sengaja mengaktifkan mode silent di handphonenya agar tak mengganggu kebrsamaannya dengan Sandra.
Dengan rasa panik, ia sedikit bersembunyi dari Sandra untuk membaca pesannya.
"Aku sakit Mas, aku harap Mas mau datang nemuin aku. Aku gak akan makan dan minum sebelum ketemu sama Mas," tulis Reni dalam pesannya.
Niki mengabaikan pesan tersebut dan segera menghapusnya karena tidak ingin Sandra membacanya. Setelah mendapati Reni sering mengirimkan pesan padanya, Sandra menjadi rajin untuk sekedar mengecek handphone suaminya. Niki sempat berfikir untuk mengganti nomor handphonenya, tapi itu tak mungkin dilakukan karena nomornya sudah tersebar ke semua relasi bisnisnya.
Niki segera melanjutkan pekerjaannya, dan segera beristirahat sebelum matahari memaksanya untuk terbangun dan kembali melakukan aktifitasnya.
Dalam tidurnya, Niki bermimpi Reni datang menemuinya ke kontrakan dan memohon pada Sandra untuk mengizinkannya menikah dengan Niki, dalam mimpinya Niki dan Sandra bertengkar hebat. Sehingga saat Sandra membangunkannya ketika matahari mulai naik, Niki malah meracau.
"Maaf yank, Maafin Mas yank..." seperti ia racauannya ketika Sandra menggoyang-goyang badan Niki agar segera terbangun.
"Mas...mimpi ya?" Sandra mencium lembut keningnya.
"Astaga," Niki beranjak dari tidurnya dan seketika memeluk Sandra begitu erat membuat Sandra merasa heran.
"Mas mimpi apa sih?" Sandra mendorong tubuh Niki dan memandangi wajahnya dengan seksama.
"Mimpi buruk," Niki mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
"Ya udah cepetan mandi sana, hari ini kan Mas bilang ada jadwal nemenin Pak Hamid meeting? nih, minum dulu!" ujar Sandra.
Niki meminum air yang diberikan oleh Sandra dan langsung bergegas ke kamar mandi.
Gara-gara mimpinya, Niki jadi banyak melamun.
"Mas kenapa sih? masih soal mimpi?" Sandra melihat Niki hanya melamuni makanan di hadapannya.
Niki menaikan bahunya dan segera menyantap makanannya.
"Emang Mas mimpi apa sih? sampe jadi ngelamun kaya gitu," Sandra merasa penasaran.
"Mas mimpi kamu mau ninggalin Mas, itu berasa nyata banget. Mas takut!" ujar Niki.
"Astaga, Mas. Itukan cuman mimpi! Buktinya aku masih disini," Sandra menertawakan suaminya.
"Tapi tetep aja Mas takut, masa Mas jadi duda lagi," Niki memelas.
"Mas tenang aja, selama Mas gak menyakiti aku dan selama Mas berjanji untuk tetap setia memeprjuangkan aku, aku akan tetap berusaha jadi istri yang baik buat Mas." Sandra merapatkan duduknya dan menyenderkan kepalanya di bahu Niki.
Tanpa menjawab, Niki hanya mencium kepala Sandra.
Di kantor, mereka sangat profesional. Layaknya atasan dan bawahan tanpa membawa status suami-istri mereka.
"Mas nemenin Hamid meetting di luar, Mas usahakan selesai sebelum jam istirahat biar kita bisa makan siang bareng, ya?" ujar Niki saat akan turun dari mobilnya.
"Iya, Mas. Gak apa-apa ko! Selesaikan aja dulu kerjaannya. Kita kan bisa makan bareng kapan aja." jawab Sandra.
Seperti biasa, mereka selalu memberikan sebuah ciuman sebelum turun dari mobil untuk mengawali aktifitasnya di dalam kantor.
Gaya mereka berjalan bergandengan selalu membuat iri semua mata yang memandang. Seolah menjadi pasangan paling serasi di kantor.
Niki mengetuk pintu ruangan Hamid setelah berpisah dengan Sandra di meja kerjanya. Dan ia masuk setelah Hamid mempersilahkannya.
"Pak, kita jadi meetting gak kita hari ini?" tanya Niki.
"Kayanya di cancel deh, soalnya client belum kasih kabar lagi. Ada masalah?"
__ADS_1
"Terus apa ada hal penting hari ini?" Niki.
"Kayaknya gak ada juga," jawab Hamid setelah mencoba mengingat jadwal hari ini.
"Emangnya kenapa sih?" lanjut Hamid.
"Kalo gitu, ini di luar pekerjaan! Lu bisa bantu gue gak?" Niki memohon pada Hamid.
"Bantu apa?"
"Reni sakit! dia gak mau makan dan minum sebelum ketemu gue. Barusan banget orangtuanya nelpon, mohon-mohon supaya gue dateng walau hanya sebentar," jelas Niki.
"Terus, apa yang bisa gue lakuin?" Hamid mengernyitkan dahinya.
"Sandra kan taunya hari ini kita ada meetting, lu mau kan anter gue ke rumah Reni, sebentar aja? Please...! Kalo sama lu gue yakin keluarganya bakal segan," Niki memohon pada Hamid.
"Kalo ketauan sama Sandra, gimana? Gue takut ah..ntar gue disangka sekongkol sama lu?" Hamid mencoba menolak permintaan Niki.
"Gak akan ketauan kalo lu gak ngomong! Ya? Please banget..gue takut dia nyusul ke rumah kalo gue gak dateng. Dia itu orangnya nekat," Niki terus memaksa Hamid hingga akhirnya Hamid bersedia mengantar Niki untuk menemui Reni.
"Tapi kalo lu sama istri lu ribut, jangan bawa-bawa gue, ya!" Hamid menekan pada Niki.
"Siap!" seru Niki sambil memberi hormat padanya.
"Sekarang?" tanya Hamid.
"Iyalah..Biar gak terlalu lama. Gue kan bisa alesan ke keluarga Reni kalo gue mau lanjut meetting," Niki memainkan alisnya.
"Dasar buaya lu!" Hamid menyenggol tangan Niki dengan bahunya.
Mereka melangkahkan kakinya bersamaan menuju parkiran. Niki sengaja menghindari meja kerja Sandra agar tak menambah kebohongannya.
"Mas ko lewat tangga sih?" Sandra mengirimkan pesan pada Niki.
Karena meja kerjanya tak jauh dari ruangan Hamid dan Niki, sehingga ia dapat melihat dengan jelas jika ada orang yang keluar atau masuk ke dalam ruangan keduanya.
"Iya, Mas mau sekalian ke toilet. Mas juga pake mobil Hamid, mobilnya di parkir deket tangga jadi Mas lewat sini. Biar gak muter! Mas pamit ya sayank," balas Niki di akhiri dengan emot kiss.
__ADS_1
Sandra selalu berfikir positive pada siapapun. Tak pernah ia berprasangka buruk sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jadi, ia percaya saja pada apa yang dikatakan oleh suaminya.
Dengan ragu, Niki menginjak gas mobilnya dan berlalu menuju rumah Reni.