Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 64


__ADS_3

Usai menyelesaikan kontrak kerjasamanya, Niki dan Hamid menghampiri Sandra dan mereka pergi bersama dalam satu mobil menggunakan mobil Niki.


Sandra duduk di samping jok kemudi, dan Hamid duduk di jok belakang. Niki sengaja memilih Resto yang dekat untuk menghindari macet.


Suasana dalam perjalanan begitu hening sebelum akhirnya Hamid memecah keheningan.


"Eh, Saya jadi penasaran nih. Kalo boleh tau alasan kamu keluar dari perusahaan Niki kenapa,San?" tanya Hamid.


Sandra yang sedang melihat ke jendela depan seketika gugup melirik ke arah Niki dan tertunduk saat Niki membalas lirikannya.


"Gajinya kurang gede Bro," jawab Niki setelah mengembalikan pandangannya ke arah kemudi.


"Oh,ya?" antara percaya dan tidak, Hamid memilih diam tak melanjutkan pertanyaannya.


Ia hanya sesekali melihat ke arah Sandra dan Niki,seperti menemukan keanehan dari sikap keduanya.


Sepertinya ada yang gak beres nih, kata Hamid dalam hati.


Hamid memilih mengganti topik pembicaraan, "Lo sama istri gimana? Masih?"


Mendengar pertanyaan itu, Niki gelagapan melirik ke arah Sandra, "Ehm, Masih.." jawabnya singkat.


"Syukur deh. Belum ada rencana nambah anak?" tanya Hamid semakin membuat Niki kebingungan untuk menjawabnya


"Belum lah .. Kayaknya satu aja cukup" jawab Niki.


Satu dari Teny, lanjutnya dalam hati.


Mereka telah sampai di resto yang dituju, Niki membukakan pintu untuk Sandra dan berjalan di depan.


"Gue curiga sama lo, Bro," bisik Hamid pada Niki.


"Berisik lo! nanti gue jelasin" jawab Niki.


Niki mencoba mengiringi langkah kaki Sandra. Mereka memesan makanan setelah mendapatkan tempat duduk.


Namun tanpa disangka, ternyata Indra ada di resto yang sama dengan Sandra dan melihat dengan jelas saat Sandra berjalan beriringan dengan Niki.


Meetingnya seketika buyar setelah melihat Sandra.


"Pak, apa bisa dilanjut?" tanya pria yang bersama Indra.


"Maaf pak, silahkan!" Indra mencoba sportif. Ia tetap menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu sebelum menyelesaikan urusannya dengan Sandra. Meskipun hatinya sudah tak tenang dan amarahnya sudah memuncak.


Dari jauh Indra terus mengamati Sandra dan Sandra sedikitpun tidak menyadarinya. Amarahnya semakin memuncak ketika Indra menyaksikan dengan jelas bahwa Niki memandangi Sandra begitu dalam.


"Saya rasa cukup sampai disini,Pak" ucap client Indra.

__ADS_1


"Baik Pak, Terimakasih," jawab Indra.


Meskipun meettingnya sudah selesai, Indra memilih tetap di tempatnya untuk mengamati kekasihnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetikan pesan pada Sandra.


"Jadi kamu ke tempat kerja Niki?" isi pesan yang dikirim oleh Indra.


Drrttt....


Handphone Sandra bergetar, ia membuka pesannya. Raut wajahnya berubah setelah membacanya.


"Maksud Mas apa?" balas Sandra.


"Kamu lagi dimana sekarang?" Indra.


"Lagi di resto sama atasan baru aku," Sandra.


"Sama Niki juga?" Indra.


Loh, ko tau sih? tanya Sandra dalam hati.


Seketika Sandra melihat sekeliling cafe. Benar saja, matanya menemukan Indra sedang melihat ke arahnya dan tersenyum dalam raut wajah penuh amarah.


"Maaf Pak, saya permisi dulu," kata Sandra pada Niki dan Hamid.


Niki menarik tangan Sandra, "Mau kemana?" tanyanya.


Niki langsung melepaskan pegangan tangannya tanpa ingin melihat ke arah Indra.


Sandra mengahampiri Indra, meraih dan menggenggam tangannya karena merasa bersalah dan ia tau Indra pasti sangat marah padanya.


"Mas, aku minta maaf! Semua gak kaya yang Mas lihat. Aku gak sengaja ketemu sama Pak Niki," Sandra mencoba menjelaskan.


Indra menepis tangan Sandra melepaskannya. Berganti ia yang menarik tangannya dan membawanya keluar resto.


"Aw, sakit Mas" rintih Sandra.


"Masuk!" perintah Indra setelah membukakan pintu mobil dan melepaskan tangannya.


Tanpa membantah, Sandra masuk ke dalam mobil.


"Aku udah duga, kamu pasti ada rasa sama Niki, kan?" ujar Indra.


"Nggak Mas, Mas salah paham! Tadi tuh aku gak sengaja ketemu sama dia di tempat kerja baru aku," jelas Sandra dengan hati-hati.


"Maaf, untuk kali ini aku gak percaya sama kamu," tegas Indra, "Aku cukup sabar selama ini nungguin kamu. Tapi kalo kamu kaya gitu aku rasa aku hanya akan buang-buang waktu aja" jelasnya.


"Terus aku harus gimana, Mas?" tanya Sandra sendu.

__ADS_1


"Kalo kamu anggap hubungan kita serius, aku mau kita cepet-cepet nikah. Aku gak akan larang kamu kuliah ataupun kerja, itu hak kamu selama kamu bisa membagi waktu," ucap Indra yang membuat Sandra bingung harus menjawab apa.


"Tapi Mas.." sahut Sandra terhenti oleh ucapan Indra.


"Aku udah tau jawabannya. Kamu pasti gak mau,kan?" potong Indra.


"Bukan gitu Mas, aku rasa kecepetan kalo kita harus nikah dalam waktu dekat," Sandra menyangkal.


"Halah, Udahlah .. Aku tau, kamu emang hanya anggap hubungan kita main-main, kan?" emosi Indra semakin meluap ketika Sandra menolak ajakannya untuk menikah.


Indra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga mobil yang dibawanya menabrak motor dan pengendaranya luka berat.


Sandra syok dengan kejadian ini. Dalam mobil, ia sudah meminta Indra agar menurunkan kecepatannya. Tapi Indra menghiraukannya.


Sandra hanya mengalami luka kecil di bagian kepala, sementara Indra mengalami luka kecil dan sedikit memar di bagian dada karena terbentur setir.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Indra cemas.


"Kamu urus dulu pengendara motor itu, aku gak apa-apa," jawab Sandra.


Indra di bantu warga yang melihat memapah pengendara motor dan membawanya ke rumah sakit terdekat dan Indra segera menelpon asistennya di resto untuk segera mengurus sepeda motor yang rusak karena ditabrak olehnya.


"Maafin saya ya Mas. Mas jangan khawatir, saya akan bertanggung jawab" ucap Indra yang tak dihiraukan oleh korban.


Mereka sampai di Rumah Sakit dan Indra segera memanggil suster untuk menanganinya.


Setelah perawat menangani Sandra dan Indra, mereka duduk menunggu pengendara motor yang belum selesai ditangani.


"Maafin aku ya," Indra memohon pada Sandra.


"Udahlah Mas, ini pelajaran bahwa tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan emosi. Aku harap kedepannya kamu bisa belajar untuk lebih dewasa sebelum kamu meminta untuk menikahiku," tegas Sandra.


Indra tertegun malu atas apa yang di ucapkan Sandra. Ia berfikir kalau perkataan Sandra seperti sebuah sindiran.


Sejak itu, Sandra jarang menghubungi Indra. Begitupun Indra, ia membiarkan semua berjalan seperti seharusnya. Ia berfikir keras tentang perasaannya.


Apa ini cinta? atau nafsu?..


Aku bahkan gak bisa hanya sekedar mengendalikan emosi di depannya agar terlihat dewasa. Pantas saja kalau Sandra gak mau aku nikahi karena sifat aku seperti ini.


Lihat aja, kamu bahkan gak menghubungi aku untuk sekedar say hay atau menanyakan kabar, aku seperti sudah tidak ada artinya dimatamu.


Begitu besarkah cinta kamu sama Niki? Kenapa harus Niki? Kenapa harus pria yang udah beristri? Apa karena dia lebih dewasa dibanding aku?


Hatinya terus berprasangka pada Sandra.


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2