
Sandra tahu jika orangtuanya tidak akan setuju dengan hubungannya bersama Niki karena statusnya sebagai seorang duda. Terlebih saat ini sudah tidak ada lagi yang ia miliki, semua harta yang ia punya sudah diberikan kepada mantan istri dan anaknya.
Namun seiring berjalannya waktu, mau tak mau Sandra harus jujur tentang semuanya karena Irwan dan Neni terus saja mendesak.
"Ada hubungan apa sebenarnya kamu sama Niki itu?" tegas Irwan,
Sandra yang baru saja pulang di antar oleh Niki tidak bisa mengelak, ia berfikir mungkin ini saatnya untuk bicara pada orangtuanya.
"Gak ada hubungan apa-apa Pa," jawab Sandra tertunduk dan gugup.
"Jangan bohong, kamu kira kamu lagi ngomong sama anak kecil?" desak Irwan.
"Ng..Nggak Pa, kita emang belum ada hubungan apa-apa," jawab Sandra terbata-bata, rasa gugupnya semakin melanda.
"Belum? Berarti kalian akan menjalani hubungan, begitu maksud kamu?" Irwan masih mendesak dengan tegas.
Sandra diam dan masih tertunduk.
"Kamu gak sadar apa? Dia itu punya keluarga, apa yang akan orang bilang kalau kamu berhubungan sama Niki?" tutur Irwan.
"Tapi Pa, Pak Niki udah bercerai sama istrinya," Sandra mencoba menjelaskan.
"Dan itu artinya sekarang dia seorang duda, iya?" tanya Irwan.
Sandra hanya menjawab dengan anggukan, sementara Irwan menggeleng tak habis fikir.
"Sandra,Sandra..Apa gak ada lagi bujangan di muka bumi ini? Apa kamu cacat sampe kamu harus mau sama duda? Kamu udah di kasih apa sama Niki?" Lantang Irwan.
"Apa salahnya sama duda? Justru aku ngerasa Pak Niki yang selalu ada selama ini, Indra dimana? Yang katanya mau mati-matian memperjuangkan aku, Mana? Gak ada Pa! Aku sakit, aku sedih, aku salah jalan, siapa yang selalu ada? Pak Niki! bahkan kalianpun sebagai orangtua terlalu sibuk ngurusin dunia." Dengan gemetar Sandra akhirnya membuka suara, ia memberanikan diri mengeluarkan semua kata yang tanpa ia rangkai lebih dulu. Semua kata yang terlontar dari mulutnya keluar begitu saja, hingga tanpa terasa matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ya, Papa sadar Papa memang terlalu sibuk. Tapi ini semua untuk kalian, untuk anak cucu Papa kelak agar gak kelaparan," bantah Irwan.
"Tapi mana? Apa Sandra menikmati semua harta yang kalian punya? Bahkan Sandra berusaha sebisa mungkin untuk bisa mengejar impian Sandra dengan kaki dan tangan Sandra sendiri,"
"Impian apa? Kamu pikir menikah dengan duda itu bagaimana? Pernikahan kamu gak akan bahagia! Itu hanya alasan kamu aja, lagian siapa suruh menyiksa diri dengan kerja di perusahaan orang lain? Kamu gak perlu sebodoh itu seandainya kamu menuruti semua perkataan orangtua," jelas Irwan.
Sandra mulai terisak. Memang benar, seandainya ia tidak bersikap keras kepala dan mau lebih merendah diri dengan menerima semua tawaran orangtuanya, Sandra tidak akan bersusah payah bekerja di perusahaan milik orang lain dan mungkin cerita cintanyapun tidak akan serumit ini.
"Tapi udah terlanjur Pa, Sandra mohon..Status duda gak begitu buruk buat Sandra," isak tangis mengiringi setiap kata yang terucap dari mulutnya.
"Gak terlalu buruk karena kamu memang sudah dibutakan oleh cinta! Gimana dengan keluarga kamu? Dengan image Papa dan Mama yang akan jelek di mata semua orang karena memiliki dua anak wanita yang pembangkang," lantang Irwan. "Sampai kapanpun, jangan harap Papa akan menyetujui hubungan kalian! Kalau kamu bersikeras ingin mempertahankan hubungan kamu dengan Niki, silahkan kamu pergi dari rumah ini!" seru Irwan.
Sandra tak mampu berkata-kata karena isak tangis menghalangi setiap kata yang ingin ia lontarkan. Irwan meninggalkan Sandra di ruang Tv dengan isak tangisnya.
Bukannya berfikir untuk meninggalkan Niki, Sandra justru malah berfikir untuk nekad pergi meninggalkan rumah hanya demi mempertahankan hati untuk seorang duda.
Sebelumnya, ia menghubungi Niki dan menjelaskan pertikaiannya dengan Irwan. Meski bukan ini yang Niki harapkan, Tapi Niki tetap mendampingi Sandra dan mencoba menenangkan fikirannya, berharap Sandra akan berubah fikiran dan kembali ke rumahnya.
"Kamu yakin mau ninggalin rumah? Ninggalin Orangtua kamu yang lebih segalanya daripada aku?" tanya Niki meyakinkan.
"Aku yakin," jawab Sandra. "Terus gimana sama Mas Niki? Apa Mas juga yakin untuk memperjuangkan hubungan kita?" tanya Sandra balik meyakinkan perasaan Niki.
"Ya, tentu saja sejak awal aku sudah yakin untuk memperjuangkan perasaan aku sama kamu. Makanya aku rela meninggalkan keluarga dan semua yang aku punya" ujar Niki dengan penuh keyakinan. "Terus sekarang kamu mau kemana?" lanjutnya.
"Aku juga gak tau Mas, makanya aku hubungin Mas," ucap Sandra sendu.
"Ya udah, kamu sekarang aku jemput ke tempat kost aku aja ya, sambil kita nyari tempat buat kamu. Biar bisa simpan perlengkapan kamu dulu di sini, gimana?" Niki.
"Iya, aku tunggu ya Mas, mumpung di rumah gak ada orang,"
__ADS_1
Sandra kembali mengemas barangnya dan bersiap-siap menunggu Niki datang menjemputnya.
Tak lama, terdengar suara mobil masuk ke dalam rumahnya. Sandra mengintip dari kamar dan memastikan bahwa mobil itu milik Niki.
Dan benar saja, Niki sudah berada di teras rumahnya.
Saat menuruni tangga, Bi Kokom yang melihat Sandra membawa Tas besar merasa heran dan bertanya.
"Mau kemana Non?" tanya Bi Kokom
"Ini bi,mau pergi! Kalo Papa atau Mama tanya, jangan bilang aku pergi bawa tas besar ya. Bilang aja aku pergi keluar, gak tau kemana! Oke Bi?" Sandra meminta Bi Kokom tidak menceritakan kepergiannya dengan Niki kepada orangtuanya.
"Sama Pak Niki atau sama Mas Indra, Non?" tanya Bi Kokom.
"Sama Pak Niki, Bi.Tapi kalau Papa atau Mama nanya bilang Bi Kokom gak tau aku pergi sama siapa ya," perintah Sandra.
"Iya Non, hati-hati ya," kata Bi Kokom.
Di luar, Mang Asep pun menanyakan hal yang sama seperti yang di tanyakan oleh Bi Kokom. Dan Sandrapun menjawab sama seperti jawabannya kepad Bi Kokom. Sandra meminta Mang Asep untuk tidak memberitahukan kepada orangtuanya bahwa ia pergi bersama Niki, Mang Asep mengiyakan permintaan Sandra.
Sandra bergegas pergi bersama Indra menuju tempat kost Indra yang sudah di setujui sebelumnya oleh keduanya. Karena tempat kostnya tidak jauh dari rumah komplek tempat Sandra tinggal, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai ke sana.
Sepanjang perjalanan, Sandra memikirkan langkah yang telah ia ambil untuk pergi dari rumah. Sebenarnya ia merasa takut jika apa yang dikatakan oleh Irwan tidak main-main, tetapi bukan Sandra namanya jika ia hanya diam tanpa bukti.
Sandra ingin membuktikan bahwa tanpa orangtuanya ia bisa hidup. Dan hubungannya dengan Niki yang berstatus duda dapat berjalan bahagia.
Bersambung 💕
Jangan lupa tap dulu lovenya sebelum lanjut ya 😘
__ADS_1