
Hari yang ditunggu akan segera tiba. Sore ini Niki dan Sandra sudah diskusi dengan keluarganya bahwa mereka akan datang ke kediaman Sandra untuk mempersiapkan acara pernikahan besok.
Sejak rencana pernikahannya, Sandra memang lebih banyak diam tak seperti biasanya.
"Kamu kenapa sih? Kalo kamu gak suka dengan pernikahan kita, kamu masih bisa batalin. Mumpung semua belum terjadi," ujar Niki yang melihat Sandra sedang melamun di depan pintu melihat orang-orang yang berlalu lalang.
"Percuma Mas, kita udah gak bisa batalin. Gak apa-apa, kita nikah aja! Kalo kita jodoh, pernikahan kita akan langgeng sampe kakek nenek. Kalo kita gak jodoh, aku gak jadi masalah kalo kita harus bercerai. Kita jalanin dulu aja, kita gak bisa menentang kemauan orangtua aku," tutur Sandra dengan nada sendu.
"Kamu ko gitu sih? Kalo kamu gak suka kenapa gak dari awal aja kamu nolak untuk nikah sama aku? Aku juga gak mau kalo nikah dengan terpaksa. Pernikahan itu bukan untuk main-main! aku gak mau gagal untuk kedua kalinya!" jawab Niki dengan nada tegas.
"Tapi percuma kita nolak. Aku pikir orangtua aku gak akan secepat ini menikahkan kita," jawab Sandra.
"Lalu apa yang membuat kamu ragu?" tanya Niki.
"Ini sangat jauh dari rencana aku Mas. Gak pernah sedikitpun terbersit dalam hatiku untuk menikah muda. Gimana sama kuliah aku? Gimana sama karir yang selama ini aku cita-citakan dan aku impikan?" mata Sandra mulai berkaca-kaca membayangkan kegagalannya.
"Kalo soal itu, kamu gak usah khawatir. Meskipun status kamu sudah menjadi istri, kamu masih bisa mengejar semua cita-cita kamu. Aku gak akan sedikitpun mengekang kamu. Aku akan selalu dukung apapun yang kamu lakuin dalam kebaikan," Niki meyakinkan bahwa ia akan selalu ada di belakangnya memberikan dukungan padanya.
"Ya udah, kita jalanin aja," singkat Sandra.
Merekapun pergi ke rumah Sandra menggunakan mobil Niki. Tiba disana, sudah ada beberapa keluarga Sandra dari Neni yang datang untuk membantu menyiapkan semuanya meski tidak terlalu sibuk karena tidak akan ada acara yang mewah, hanya syukuran antara keluarga kedua belah pihak. Neni memilih masakan dari restonya dan busana dari butik miliknya. Ia sengaja tidak ingin mendekor rumahnya atas permintaan Sandra.
Saat sedang membantu menggeser furniture, terdengar beberapa celetukan keluarga yang sangat tidak ingin ia dengar.
"Emang dasar ya kamu, mau di sekolahin tinggi-tinggi malah milih nikah, sama duda, kere lagi," celetuk Tantenya.
"Iya, tau gitu dulu kamu kenapa nolak Tante jodohin sama si Rehan. Meskipun duda anak 2, dia kaya raya! Restonya dimana-mana, rumahnya dimana-mana!" tambah Tante yang lain dengan nada meledek.
Meski sebenarnya hatinya kesal, tapi dengan santainya Sandra menjawab, "Jodoh itu ditangan Tuhan, Tante!" lalu pergi meninggalkannya ke kamar.
Niki yang sedari tadi mendengar dan memperhatikan celetukan keluarganya, segera menyusul Sandra.
"Kamu kuat dengan ledekan mereka?" tanya Niki.
__ADS_1
"Ini yang aku mau, kan? Ini semua yang aku pilih! mau gak mau aku harus kuat dan gak boleh mundur," jawab Sandra.
Melihat sikap Sandra yang seolah terpaksa menikah dengannya, Niki merasa kecewa. Ia berpikir bahwa pernikahannya hanya main-main. Ia sudah pasrah saja seandainnya rumah tangganya akan sama seperti yang ia alami dengan Teny, dan ia sudah siap menerima seandainya esok atau lusa ia harus bercerai dan menjadi duda untuk kedua kalinya.
Seolah menikah karena terpaksa, baik Sandra maupun Niki tidak menyiratkan raut bahagia di wajahnya padahal esok adalah hari dimana keduanya akan menikah.
############
Tidak ada keluarga Niki yang datang di hari pernikahannya. Padahal mereka sudah diberitahukan bahwa hari ini adalah hari pernikahannya. Karena semua keluarga dan pihak KUA sudah siap, Niki yang panik segera menelpon Hamid untuk menjadi wali menggantikan keluarganya.
Semua keluarga Sandra berbisik membicarakan Niki, seolah tidak ada satu halpun yang bisa mengangkat nama baik Niki di mata keluarga Sandra.
Pernikahan segera dimulai setelah Hamid datang menghampirinya hingga akhirnya kini mereka sah menjadi suami istri.
Rasa haru menyelimuti hati Sandra. Ia tak menyangka jika kekeras kepalaannya akan menjadi petaka untuknya. Sedikitpun tak pernah terpikir olehnya bahwa ia akan menikah secepat ini.
"Kalian tinggal disini aja, rumah ini juga kan kosong," Irwan menghampiri Sandra dan Niki yang sedang duduk di ruang TV.
"Nggak Pa, kita tinggal di kontrakan aja," tolak Sandra.
"Ya sudah, Papa gak akan maksa. Kalo kamu lelah, kalo kamu merasa sudah tidak sanggup memikul beban hidupmu, pulanglah! Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk anak-anak Papa!" ucap Irwan membuat perasaan haru Sandra semakin menjadi.
"Iya Pa, Papa gak usah khawatir. Insya alloh Niki akan berusaha sekuat tenaga Niki membangun kembali semuanya," ujar Niki.
Untuk pertama kalinya Irwan tersenyum tulus pada Niki, seolah memberi dukungan padanya.
"Udah malem, kalian istirahat sana!" perintah Neni.
"Iya Ma, Mama tidur duluan aja," jawab Sandra.
"Ya udah kalo.gitu Mama sama Papa tidur duluan ya," kata Irwan.
Tak lama setelah Irwan dan Neni masuk ke dalam kamar, Niki dan Sandrapun menyusul ke dalam kamar.
__ADS_1
Meskipun ini bukan yang pertama kali mereka tinggal dalam satu atap, tapi ini kali pertama mereka harus tidur dalam satu ranjang yang sama. Sandra merasa gugup tak tahu apa yang harus ia lakukan. Cukup lama ia duduk di depan meja rias meski sudah selesai membersihkan sisa riasan, sesekali Sandra melirik ke arah Niki yang sedang memainkan handphonenya di atas ranjang.
Niki yang menyadari hal itu lalu menghampirinya.
"Kamu kenapa sih?" untuk pertama kali Niki memeluknya.
Jantung Sandra berdetak kencang, keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Hhmm..??" Niki mencium kepalanya menghisap aroma harum rambutnya.
Dengan begitu Sandra semakin tak bisa menjawab setiap perkataan Niki.
Sandra menepis tangan Niki.
"Aku mau ke toilet dulu," ujar Sandra.
Niki melepaskan tangannya dan memperhatikan Sandra dari belakang.
Karena ini bukan pernikahan pertamanya, Niki sangat memahami apa yang membuat Sandra gugup seperti itu. Niki menunggunya hingga Sandra keluar dari kamar mandi.
Sandra tertunduk, enggan melihat wajah Niki.
"Hey, kenapa sih?" Niki mengangkat lembut dagunya berpura-pura mencari tau penyebabnya gugup.
Sandra masih tak menjawab, Niki membiarkannya dan meninggalkannya kembali ke atas ranjang.
"Sini!" Niki menepuk bagian kosong di sampingnya.
Meski Sandra gugup, tapi ia tahu mau tak mau ia harus melakukannya. Akhirnya Sandra menghampirinya.
Niki memeluknya, ia merasakan detak jantung dan nafas Sandra yang tak beraturan.
Meski sudah dilanda nafsu, Niki tetap menjaga perasaan Sandra.
__ADS_1
Akhirnya Sandra terlelap dalam dekapan Niki.
Bersambung ❤