Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 73


__ADS_3

Irwan menepis tangan Niki yang memegang lututnya "Cih, rumah saja kamu ngontrak! Bahagia seperti apa yang akan kamu berikan sama anak saya?" ucap Irwan dengan nada tinggi.


"Pa..sudah berapa kali Sandra bilang kalau bahagia itu tidak bisa di ukur oleh materi," Sandra menjawab ucapan Irwan membela Niki dengan nada bicara yang tak kalah tinggi.


"Tapi tanpa materi semua tidak akan berjalan lancar," sahut Irwan.


"Saya akan berusaha memulai semuanya dari nol Om, saya memang tidak bisa menjanjikan, saya hanya minta do'a restunya," Niki terus menyembah kepada Irwan.


Sedangkan Irwan hanya diam menahan emosi, dalam hatinya ingin sekali ia menampar Irwan dan meneriakinya sekencang mungkin. Namun Neni sedari tadi menahan tangannya karena ia tahu, Irwan pasti akan melakukan hal tersebut.


Melihat muka Irwan yang merah meredam amarah, Sandra ikut menyembahnya "Pa, Sandra mohon Pa! Izinkan Sandra nikah sama Mas Niki," kata Sandra sendu.


Meski Sandra juga tidak benar-benar yakin dengan pernikahannya, tapi dalam pikirnya ia tetap harus melakukannya. Hanya ini jalan satu-satunya untuknya bisa hidup bebas tanpa ada pengekangan dari kedua orangtuanya.


Tanpa menjawab, Irwan pergi keluar dari kontrakan di susul oleh Neni. Ia tahu betapa tulusnya Sandra meminta, tapi di lain sisi dalam hatinya, orangtua mana yang akan tega membiarkan anaknya menikah dengan lelaki yang tidak sebanding derajatnya dengan keluarganya. Irwan takut Sandra kelaparan, ia sangat takut jika Niki tidak bisa memenuhi kebutuhan Sandra seperti apa yang selama ini berikan kepada anak-anaknya.


"Pa..Biarkan mereka menikah! Kita akan sangat berdosa jika membiarkan mereka tinggal serumah tanpa ikatan. Sudah terlalu banyak dosa-dosa kita Pa. Mungkin dengan menikahkan mereka, beban kita tidak akan terlalu berat," ujar Neni dengan nada memelas, masih membujuk Irwan agar luluh.


"Apa kata keluarga besar kita jika mereka tahu anak kita menikah dengan laki-laki seperti dia dan tinggal di kontrakan yang tidak lebih besar dari kamarnya di rumah kita?" jawab Irwan.


"Stop memikirkan apa kata orang Pa, baik buruknya kita pasti akan menjadi bahan pertimbangan. Kalo Papa gak mau mereka tau, kita bisa suruh mereka tinggal di rumah kita yang kosong, kalo Papa keberatan Niki turut serta terjun ke perusahaan Papa, Mama akan biarkan mereka turun langsung di salah satu perusahaan Mama," jelas Neni.


Tanpa berfikir, Irwan menyangkal ucapan Neni. "Enak banget kalo gitu, udah kita kasih anak kita, terus dia dapet juga semua fasilitas dari kita?" Irwan tersenyum sinis.


"Pa, anggap aja semua buat Sandra! Jangan lihat Niki. Lagipula selama ini dia gak pernah banyak menuntut dan meminta sama kita. Anggap aja ini hadiah pernikahan," jelas Neni.


Irwan akhirnya luluh dan mulai memikirkan setiap ucapan Neni. Memang ada benarnya juga, selama ini Sandra tidak pernah meminta lebih, tidak pernah menuntut lain dan selalu menolak semua fasilitas berlebihan yang di berikan oleh orangtuanya. Sandra hanya menggunakan semua seperlunya.


"Hmm..??" tanya Neni.


Irwan menaikan bahu dan alisnya, tanda ia menyetujui permintaan Neni.


"Makasih Pa" Neni mengusap bahu Irwan.

__ADS_1


Kemudian mereka turun dari mobil dan kembali ke kontrakan Niki.


Dari jauh terlihat Sandra sedang duduk dan Niki mengusap pucuk kepalanya. Melihat kedatangan Irwan, Niki bangkit dari duduknya.


"Om.." Niki membungkukkan badannya.


Tanpa disuruh, Niki duduk di sebelah Sandra, ia mengusap pucuk kepalanya. Sandra mengangkat kepalanya dan melihat wajah Irwan.


"Apa kamu akan bahagia jika Papa mengijinkan kamu menikah dengan Niki?" tanya Irwan.


"Tentu aja Pa, Ini jalan yang Sandra pilih. Pahit ataupun manis, akan Sandra hadapi," jawab Sandra dengan mata berkaca-kaca.


"Papa izinkan kalian menikah!" seru Irwan.


Mata Sandra berbinar bahagia mendengar ucapan Irwan.


"Papa serius?" tanya Sandra.


"Ya, Papa serius!" ucap Irwan. Ia lalu melirik ke arah Niki, "Tapi kamu harus berjanji gak akan menyakiti dan membiarkan anak saya menderita," tambah Irwan pada Niki.


Nikipun merasa bahagia, ia mencium tangan Neni dan Irwan bergantian. Neni mengusap pucuk kepalanya.


"Mama sudah menentukan kalo kalian harus menikah minggu depan," ucap Neni membuat semua terperanjak kaget.


"Apa?" kaget Niki.


"Iya, Kalian diam aja, Mama akan siapkan semuanya. Kalian menikah tanpa keramaian, hanya dihadiri oleh keluarga saja," tutur Neni.


"Tapi Ma, apa gak kecepetan?" ujar Sandra.


"Loh.. Bukannya kamu yang mau cepet-cepet Nikah?" kata Neni.


"Pokoknya gak boleh ada penolakan! kalian tenang aja, biar semua Mama yang siapin!" ujar Neni.

__ADS_1


Setelah membahas pernikahan, Neni dan Irwan pulang meninggalkan keduanya di kontrakan. Irwan sudah menawarkan mereka untuk meninggali salah satu rumahnya yang kosong, tapi mereka menolaknya dan lebih memilih tinggal di kontrakan.


Entah harus bahagia atau bersedih, baik Sandra maupun Niki terdiam memandang langit-langit dalam satu atap di ruangan yang berbeda. Jantung keduanya berdegup tak beraturan, membayangkan tak lama lagi mereka akan menjadi suami istri. Tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Sandra bahwa ia akan menikah muda dengan seorang duda. Semua yang ia cita-citakan seolah kandas setelah rencana pernikahannya. Sudah tak terpikir lagi tentang rencana kuliah dan pencapaian karirnya.


Sementara Nikipun tak pernah membayangkan jika semua akan terjadi dengan perjalanan serumit ini. Ia harus bercerai dan menikah kembali dengan gadis yang bisa di bilang masih anak-anak. Usianya terpaut 10 tahun lebih tua dari Sandra. Namun karena sifat dewasanya, Sandra mampu mengimbangi Niki.


Sandra keluar dari kamar untuk mengambil air minum, tapi saat menoleh ke ruangan depan ia mendapati Niki masih terjaga.


"Euh, belum tidur Mas?" tanya Sandra.


"Belum," singkatnya. Niki bangun dari posisi tidurnya menjadi setengah duduk melihat Sandra menghampirinya.


"Gak nyangka ya," celetuk Niki.


"Kenapa?" Sandra duduk di samping Niki.


"Ya gak nyangka aja kita bakal nikah," Niki menggenggam tangan Sandra membuat Sandra tersipu.


"Kamu seneng gak?" tanya Niki.


Sandra menggelengkan kepalanya.


"Loh kok?" tanya Niki heran dengan jawaban Sandra.


"Aku gak tau harus seneng atau sedih Mas," kata Sandra.


"Emangnya kenapa?" tanya Niki.


"Entahlah..semoga aja ini jalan terbaik buat kita ya," jawab Sandra ragu menyimpan sejuta tanya di benak Niki.


Sandra lalu meninggalkan Niki dan kembali ke kamarnya.


Bersambung ❤

__ADS_1


----------------------------------------


Guys..Maaf ya kalo author gak teratur updatenya karena waktunya di dunia nyata padet banget. Jadi author sulit membagi waktunya 😘 please jangan kabur ya 😘 terimakasih masih setia baca karya aku 🤗 jangan lupa selalu like di setiap bab dan tambahkan juga ke favorite ya .. votenya juga dong 🙏


__ADS_2