
Sore hari Sandra terbangun karena merasa cacing di perutnya sudah demo. Melihat jam dinding menunjukan pukul 16. 00 WIB, Sandra segera membangunkan Niki. Sandra sudah menggoyang-goyang badan Niki, tetapi Niki enggan untuk membuka matanya. Akhirnya ia mengeluarkan jurus terakhirnya mencium bibir Niki. Saat bibirnya mendarat, Niki langsung merespon dan menahan kepala Sandra, mata Sandra seketika membulat.
"Nakal ya, aku kira belum bangun," Sandra memukul pelan dada Niki.
"Kan Mas udah bilang, kalo mau bangunin tinggal cium.aja," manja Niki.
"Udah sore, perut aku laper," ujar Sandra memelas.
"Terus?" sahut Niki santai dengan mata masih terpejam di atas pangkuan Sandra.
"Ya kita cari makan!" ajak Sandra.
"Tapi sekali lagi ya?" goda Niki membuat wajah Sandra merah matang seperti udang rebus.
"Iya gak?" Niki mengangkat kepalanya melihat ke arah Sandra karena tak menjawab.
"Ih.." Sandra menutup wajah Niki dengan tangannya.
"Aduh.."
"Makan dulu lah Mas, gak cape apa?" ujar Sandra.
"Gak lah, malah enak," Niki terus saja menggoda Sandra.
Wajah Sandra semakin merah karena Niki terus saja menggodanya. Sandra mengangkat kepala Niki dan memindahkannya ke atas ranjang, kemudian ia berlari masuk ke kamar mandi tanpa sehelai pakaian dan segera mengunci pintu kamar mandinya.
Niki tersenyum melihat kelakuan istrinya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Sandra masih melihat Niki dengan mata yang masih terpejam.
"Mas..kalo masih gak mau bangun aku pergi cari makan sendiri ya?" ujar Sandra.
Niki akhirnya bangkit dari tidurnya dan menggoda Sandra sebelum masuk ke kamar mandi.
"Ehm..wangi banget sih? Jadi pengen tidur lagi," godanya.
"Geli ah, mandi sana! Hak akan kelar-kelar kalo nurutin nafsu Mas," Sandra mendorong tubuh Niki hingga hampir terjatuh, namun Niki malah tersenyum dan segera mandi.
Setelah selesai berpakaian, Sandra menyiapkan pakaian suaminya.
Meskipun hatinya masih ragu dengan pernikahannya, tetapi Sandra berusaha menjalani rumah tangga seperti seharusnya. Ia tak melewatkan sedikitpun kewajibannya sebagai seorang istri, terlebih dalam urusan ranjang. Ia tahu, yang menjadi awal penyebab kehancuran rumah tangganya dengan Teny adalah urusan ranjang.
"Cepetan! udah laper banget nih," Sandra memegang perutnya setelah melihat Niki keluar dari kamar mandi.
"Iya bentar, kasian banget sih," sahut Niki.
"Kenapa gak di pesen aja kesini makanannya sih?" lanjut Niki sambil memakai pakaiannya.
"Pengen cari suasana Mas, seharian di villa terus, emang Mas gak bosen apa?" ujar Sandra.
__ADS_1
"Nggak dong, kan ada kamu! Jadi Mas gak pernah bosen," lagi-lagi Niki menggodanya dan membuat Sandra salah tingkah.
"Yuk!" ajak Niki setelah usai memakai pakaiannya dengan kilat.
"Rambutnya gak di keringin dulu?" tanya Sandra.
"Kelamaan, udah gak apa-apa. Ayo! Nanti kamu keburu pingsan," Niki menarik tangan Sandra membawanya ke luar villa mencari tempat untuk memesan makan siang menjelang malamnya.
"Makan disini aja yuk? Viewnya kayanya bagus deh," Sandra menunjuk salah satu restoran di pinggir pantai dengan ruangan nuansa garden.
"Mau makan aja ribet pake milih viewnya segala," Niki mengacak rambut Sandra.
Sandra menarik tangannya masuk ke dalam restoran tanpa menunggu persetujuan Niki.
"Kalo kaya gini kan bisa naikin mood booster aku," celetuk Sandra setelah mendapatkan tempat duduk.
"Mau pesan apa?" tanya Niki.
"Aku seafood aja!" jawab Sandra setelah melihat daftar menu di atas mejanya.
Karena belum ada pelayan yang menghampiri, Niki berinisiatif untuk mmemesan langsung makanannya.
Mereka sangat menikmati makanannya hingga tak terasa matahari sudah sepenuhnya terbenam.
"Lah..udah malem lagi aja? Berarti barusan kita makan siang kemaleman ya?" celetuk Niki saat melihat jam di layar handphonenya.
"Iya, gara-gara Mas sih," sahut Niki.
"Ya Masnya ngajakin tidur mulu," celetuk Sandra.
"Hhmm..tapi suka,kan?" Niki menaik turunkan alisnya lalu mengedipkan sebelah matanya membuat Sandra bergidik.
"Lanjut kemana kita setelah ini?" tanya Niki.
"pantai aja yuk?" ajak Sandra antusias.
"Kalo cuma mau nikmatin desir ombak, di villa juga kan keliatan?" ujar Niki menolak halus. "Kita kapan pulang? aku cuma izin 3 hari aja sama Hamid loh," lanjutnya.
"Ya udah kita pulang besok aja, yuk? Biar bisa istirahar dulu di rumah, gimana?" usul Sandra.
"Terserah," Niki menaikan bahunya.
"Oh ya Mas, apa gak mau pindah cari kontrakan yang satu rumah gitu? Biar agak leluasa?" tanya Sandra.
"Buat apa? Kontrakan satu rumah itu mahal, sayang...lagian juga kan kita belum punya perabotan apa-apa. Sayang uangnya kalo dipake buat kontrak 1 rumah, mending kita tabung biar bisa beli rumah, ya?" jelas Niki.
Sandra diam sejenak, memikirkan ucapan Niki yang memang ada benarnya. Saat ini memang mereka tidak memerlukan rumah yang luas, secara mereka hanya tinggal berdua dan merekapun lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja.
"Ya bener juga sih," kata Sandra.
__ADS_1
"Malah Mas lagi mikir kalo kita cari kontrakan yang satu kamar aja, biar kita makin lengket," ujar Niki tak henti menggoda Sandra.
"Hufftt..terserah Mas aja deh," sahut Sandra melas. "Kalo gitu, kita sekarang ke villa Mama dulu buat pamit,ya?" ajak Sandra.
"Boleh, ya udah Mas bayar dulu." Niki bangun dari duduknya menuju kasir untuk membayar makanannya di ikuti oleh Sandra.
Setelah selesai, mereka segera berangkat menuju villa yang di tempati oleh Neni dan keluarga untuk berpamitan bahwa mereka akan pulang lebih awal.
Tiba di villa Neni, semua anggota keluarganya langsung membullynya.
"Nah tuh, pengantin barunya baru nongol," celetuk sepupunya.
"Dari mana aja Mbak? Dari jam makan siang susah amat di bangunin? Jam segini baru bangun?" tambah lainnya.
"Nggak ko, tadi udah makan siang, udah jalan-jalan juga, meskipun makan siangnya kesorean," jawab Sandra polos.
"Dasar ya lu, ngapain aja sih di dalem villa?" tanyanya tanpa menghiraukan ada Niki di sebelahnya.
"Gue? Ya bobo lah, peluk-peluk manja sama suami! bikin ogah bangun," ujarnya polos menggoda semua anggota keluarganya.
"Parah lu," sepupunya menggelengkan kepala mendengar jawaban Sandra.
"Ya lu pikir gue ngapain di dalem villa sama suami gue? Main catur?" celetuknya.
"Udah ah, berisik!" bantah Sandra.
"Ma, Sandra mau pamit. Besok Sandra harus pulang duluan, kita cuman izin 3 hari aja. Jadi lusa udah mulai kerja. Kita berangkat pagi dari sini," ucap Sandra pada Neni.
"Gak asik lu! Udah di villa berduaan aja, eh tau-tau mau pulang. Kalo gitu lu liburan sendiri aja," celetuk sepupunya.
"Emang niatnya gue gak bakal ikut, tapi Mama maksa. Lagian lu diem aja deh, nyamber mulu," sahut Sandra.
"Ya udah kalo memang kalian mau pulang duluan. Ke rumah kan?" tanya Neni memastikan dan berharap Sandra merubah keputusan tinggal di kontrakan.
"Nggak Ma, kita pulang ke kontrakan," lirih Sandra.
"Ya gak apa-apa, sering-sering jenguk Mama sama Papa ke rumah ya?" sahut Irwan.
"Iya Pa," singkat Sandra.
"Cepet-cepet kasih kita ponakan baru, biar rame," celetuk sepupunya.
"Iya, ponakan cewek ya?" lanjut lainnya.
Sandra tak menghiraukan ucapan sepupunya dan segera pamit kembali ke villa untuk membereskan barang bawaannya agar tak terlalu repot jaga-jaga ia bangun kesiangan seperti biasanya.
Bersambung ❤
**Tap jempolnya dulu kakak 😘
__ADS_1
vote juga boleh banget ya 😍😘**