Cinta Yang Kelam

Cinta Yang Kelam
BAB 68


__ADS_3

Sebelum lanjut baca, jangan lupa kasih lovenya di setiap Bab ya 😘


Biar author semakin semangat lanjutin ceritanya ❤


"Apa Bapak sungguh-sungguh dengan semua yang Bapak katakan?" dengan ragu Sandra mengeluarkan semua pertanyaan dari dalam hatinya.


"Sudah berapa kali saya bilang, saya bersungguh-sungguh!" tegas Niki. "Kamu pikir, saya akan rela meninggalkan semuanya? bukan cuma anak dan istri, tapi juga aset yang udah saya bangun dari nol hanya untuk sebuah permainan?" jelasnya.


Sandra berpikir sejenak atas jawaban yang Niki berikan. Memang benar, mana mungkin Niki rela meninggalkan semuanya yang sudah susah payah ia bangun dari nol hanya untuk wanita yang tidak ia cintai.


"Kalo gitu saya pulang dulu ya! Kamu pasti mau istirahat, kan?" pamit Niki.


"Pulang kemana Pak? Bukannya sekarang Bapak udah gak tinggal di rumah?" tanya Sandra.


"Sekarang saya kost di belakang kantor," ujar Niki.


"Oh, ya udah kalo gitu. Hati-hati ya Pak." Sandra mengantarkan Niki ke garasi dan menunggunya hingga mobil yang dikendarai Niki menghilang dari pandangannya sebelum akhirnya ia masuk ke dalam rumah.


"Udah pulang?" cegah Irwan tak menghentikan langkah kaki Sandra.


"Iya, udah. Sandra mau bersih-bersih dulu ya Pa," Sandra tetap melangkah ke arah kamarnya karena ia tahu, Irwan pasti akan menanyakan tentang Niki.


Setelah masuk ke dalam kamar, Sandra mandi membersihkan diri melepas penat setelah seharian beraktifitas.


Usai mandi, Sandra merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan handphonenya. Ia melihat akun sosial media yang sudah lama tidak ia buka, ternyata banyak sekali pesan dari Indra. Sandra memang sengaja mengganti nomor handphonenya untuk menenangkan diri menghindari kedua lelaki yang selalu ada dalam benaknya, hanya orangtua dan rekan kerjanya saja yang mengetahui nomor barunya sekarang. Meskipun pada akhirnya, Sandra selalu gagal menghindari Niki.


Sandra mengabaikan semua pesan itu, ia keluar lagi dari akunnya dan lebih memilih mendengarkan musik santai hingga mengantarkan dirinya pada mimpi indah.


Saat pagi tiba, sudah menjadi rutinitas setiap harinya, ia membawa bekal yang sudah di siapkan oleh Bi Kokom untuk di bawa ke tempat kerja. Sandra lebih memilih sarapan di kantor daripada di rumah, karena takut terlambat.


Setibanya di kantor, Niki datang lebih awal darinya. Niki menunggunya di meja kerja.


"Pak, ngapain pagi-pagi udah ada di meja saya?" heran Sandra.


"Saya sengaja nungguin kamu, abis di tempat kost juga bete. Malem gak nyenyak tidurnya, mungkin karena belum terbiasa aja," kata Niki.

__ADS_1


Niki bangkit dari tempat duduk Sandra dan pindah menarik kursi yang ada di sebrang meja kerja Sandra.


Sandra mengeluarkan kotak nasi yang berisi bekal dari rumah.


"Bapak udah sarapan?" tanya Sandra.


Niki hanya menggeleng.


"Kalo gitu kita sarapan bareng aja, ini juga bekelnya kebanyakan ko" ajak Sandra, "Bentar ya, saya bawain dulu sendoknya ke pantry," lanjutnya.


"Gak usah, kamu sarapan aja. Aku gampang, lagian juga emang gak terbiasa sarapan," tolak Niki.


"Gak enak dong Pak, masa saya makan sementara Bapak cuman liatin aja," Sandra sedikit memaksanya.


"Tapi beneran, saya suka gak enak perut kalo pagi-pagi udah makan nasi," Niki tetap menolak.


"Ya udah kalo gitu, Bapak makan sandwich sama susunya, saya makan nasinya, gimana? Jadi kita sama-sama sarapan kan?" Sandra.


"Hhmm .. Ya udah kalo kamu maksa," akhirnya Niki menyerah, sudah tak ada lagi alasan untuk menolak.


"Ekhem,," tiba-tiba Hamid datang mengejutkan Sandra dan Niki yang sedang membereskan kotak bekas sarapan.


"Eh, Pak," Sandra tertunduk malu karena kedatangan Hamid.


"Pagi banget lo Ki?" tanya Hamid.


"Iya, semalem tidur gue gak nyenyak, subuh bangun, bingung gue mau ngapain. Ya udah gue berangkat ngantor," jelasnya dengan wajah datar.


"Oh, gue kira sengaja karena mau nungguin ayang mbeb," goda Hamid.


"Ya sekalian sih, hehe," jawab Niki cengengesan membuat Sandra salah tingkah.


"Ya udah lanjut deh, gue ke ruangan dulu," Hamid pergi meninggalkan mereka.


"Ya udah kalo gitu. Bentar lagi jam kerja, aku juga masuk ruangan dulu ya, Makasih sarapannya," kata Niki.

__ADS_1


"Iya, sama-sama," jawab Sandra datar.


Tak ada seorangpun yang berani menggosipkan mereka di kantor, karena mereka tahu bahwa Niki adalah rekan kerja atasannya. Mereka tahu, jika membicarakan Niki sama saja dengan membicarakan atasannya. Mereka tahu imbas yang akan mereka dapat jika ketahuan menggunjing adalah harus rela dikeluarkan dari perusahaan tanpa pesangon.


###########


Hubungan Niki dengan Teny sudah resmi bercerai. Setiap harinya, Niki dan Sandra semakin dekat. Meskipun Sandra tidak langsung mengatakan perasaannya kepada Niki, tetapi Niki sudah merasakan jika ia mendapat respon yang baik dari Sandra. Dan Sandrapun seperti sudah melupakan semua tentang Indra.


Beberapa kali Niki mengantar dan menjemputnya pulang pergi kerja. Orangtua Sandra bukan tak curiga, namun Sandra selalu berhasil mengalihkan pembicaraan jika ditanya tentang Niki.


Tiga bulan berlalu sejak Sandra dan Niki bekerja di perusahaan Hamid.


Sore ini Niki mengantarkan Sandra pulang, tetapi ia hanya mengantarkannya sampai depan gerbang karena Niki masih harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Neni yang melihat dari jendela Sandra di antarkan oleh Niki bertanya tentang hubungannya.


"Sandra, siapa sebenarnya Niki itu? Apa kamu ada hubungan special sama dia? Bukannya kamu pernah bilang kalo dia itu udah punya anak istri?" Neni memberondongnya dengan pertanyaan yang sudah lama ingin ia lontarkan. Neni selalu mencari waktu yang tepat, namun Sandra selalu berhasil menghindar darinya.


"I..Iya Ma, Pak Niki itu atasan aku di kantor Ma, dia udah cerai sama istrinya dan sekarang kerja di tempat yang sama dengan tempat aku kerja." ucap Sandra terbata-bata mencoba menjelaskan kepada Neni berharap agar orangtuanya dapat mengerti.


"Lalu?"


"Ya udah Ma, gak gimana-gimana," singkat Sandra.


"Hubungan kamu sama Indra gimana?" tanya Neni seperti sedang mengintrogasi terdakwa.


"Mungkin Indra gak serius sama aku Ma, buktinya kan dia gak dateng untuk sekedar minta maaf atau ngejelasin. Kalau emang dia serius harusnya kan dia datang Ma," nada bicara Sandra berubah seperti sedang meredam amarah ketika ia mendengar Neni menyebutkan Nama Indra.


"Emang kalian ada masalah apa?" tanya Neni kembali.


"Entahlah Ma, aku udah gak tertarik sama dia. Kalaupun dia datang untuk saat ini, aku udah gak resfect," tegas Sandra. "Ya udah ya Ma, aku mau mandi dulu," tambahnya.


Sambil berjalan, Sandra mengusap dada merasa lega karena ia berhasil untuk yang kesekian kalinya menghindari orangtuanya dari pembahasan Niki.


Bersambung ❤

__ADS_1


Sebelum lanjut, tap lovenya dulu ya 😍


__ADS_2