
Sandra dan Niki keluar dari villa menggunakan pakaian santainya. Di luar, semua keluarganya sudah berkumpul untuk menunggu sunrise.
"Perasaan udah bangun lebih awal, tapi tetep aja keduluan ya?" Sandra cengengesan menghampiri semua sepupunya yang sedang berkumpul di sebuah meja panjang untuk menunggu menu sarapan sekaligus menunggu sunrise.
"Lebih awal pala lu peyang! mana bisa lu bangun lebih awal, kalopun bangun lebih awal pasti laki lu ngajakin tidur lagi, jadi kesiangan terus," ledek Lia sepupunya yang juga baru saja menikah. Ia mengarahkan bola matanya pada Niki sebagai isyarat menunjuknya.
"Hehe.." Sandra menggaruk kecil kepalanya.
Memang benar apa yang dikatakan Lia, ia sudah bangun sejak subuh, tetapi Niki mengajaknya bermain di atas ranjang hingga tetap saja mereka keluar villa lebih akhir.
"Karena kalian datang terlambat, jadi kalian makan yang kita pesan ya! Kalo gak suka, kalian boleh pesen lagi aja." kata Neni saat seorang pelayan datang membawakan menu yang telah mereka pesan.
"Kita makan yang ada aja Ma," sahut Sandra.
Sambil makan, mereka berfoto ria dengan pemandangan sunrise yang sangat indah.
Ketika matahari mulai naik, mereka kembali ke villa.
"Karaoke yuk?" ajak sepupu Sandra.
"Nanti aja ya, udah terlanjur panggil tukang urut, badan aku pada pegel nih," kata Sandra sambil memijit kecil leher dan kakinya.
"Yah, gak asik lu!" ledek sepupu kemudian berlalu meninggalkannya.
"Emang kamu beneran udah panggil tukang urut?" tanya Niki penasaran.
Sandra tersenyum sambil menggelengkan kecil kepalanya, di balas Niki menyunggingkan bibirnya.
"Kamu beneran pegel-pegel ya?" tanya Niki.
"Iya nih," manja Sandra.
"Ya udah Mas pijitin yuk, tapi gantian ya?" Niki memainkan alisnya genit dibalas cubitan kecil mendarat di pinggangnya.
"Genit," ujar Sandra.
"Biarin dong, biar romantis," celetuk Niki.
Sandra berlari menuju villa di kejar oleh Niki. Tiba di villa, Sandra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Melihat Sandra terlentang, Niki tak menyia-nyiakan kesempatan, ia menindih tubuh Sandra menggodanya.
"Aduh, berat!" Sandra mendorong badan Niki.
Niki memeluknya dan membawa Sandra berguling hingga berganti posisi Sandra yang menindih Niki.
"Makasih ya!" lirih Niki.
"Iya sama-sama," jawab Sandra.
__ADS_1
"Kamu gak tanya, makasih buat apa, gitu?" tanya Niki.
"Gak usah, nantinya lebay Mas kumat," celetuk Niki.
Niki menggelitiki Sandra tanpa melepaskan posisinya hingga tawa memecah kamar.
"Gak nyangka ya, ternyata kamu orangnya suka becanda. Jauh banget sama Sandra yang aku kenal," ucap Niki sambil memainkan rambutnya.
"Emang Mas kenal aku kayak gimana?" penasaran Sandra.
"Jutek banget. Gak nyangka Mas bisa secepat ini dapetin kamu, tanpa modal lagi, hehehe.." Niki tertawa membayangkan betapa konyolnya perjalanan pernikahan mereka yang tanpa persiapan dan Niki tak sepeserpun mengeluarkan uang. Semua biaya pernikahan di tanggung oleh orangtua Sandra.
"Iya ya, aku juga gak nyangka, ko aku mau-maunya nikah sama Mas yang kere," ledek Sandra.
"Belum, sayang..semua akan indah pada waktunya, asal kamu selalu ada di samping Mas buat dukung Mas, semua yang pernah Mas punya pasti kembali lagi," jelas Niki.
"Semoga ya Mas," jawab Sandra.
"Kenapa sih kamu mau Nikah sama Mas?" tanya Niki tiba-tiba mengorek tentang perasaannya.
"Kan udah aku bilang, terpaksa! Aku udah terlanjur ngikutin Mas. Seandainya saat aku pergi dari rumah itu ngikutin cowok lain, aku pasti nikahnya sama dia. Gak lucu kan kita udah tinggal serumah tiba-tiba pas di suruh nikah gak mau?" jawab Sandra dengan polos.
"Terus, apa kamu punya niat buat pergi tinggalin Mas?"
"Ya tergantung," singkatnya.
"Tergantung jodoh! Aku ngikutin aja. Kalo jodoh ya aku jalanin, kalo gak jodoh ya tetep aku jalanin,hehehe..." jawabnya cengengesan membuat Niki gereget.
"Orang nanya serius juga," Niki mencubit manja hidungnya.
"Ya lagian, pokoknya yang terpenting sekarang kan kita udah sah jadi suami istri. Aku akan berusaha patuh dan nurut sama Mas dan ngejalanin semua kewajiban aku selama Mas juga memenuhi kewajiban Mas sama aku dan...." ucapannya terhenti membuat Niki penasaran.
"Dan apa?" tanya Niki.
"Dan Mas gak pernah mengulangi kesalahan Mas di masa lalu main-main sama wanita lain!" tegas Sandra.
"Kalo khilaf gimana?" canda Niki.
"Gak ada khilaf, dan gak ada Maaf!" tegasnya lagi.
"Oke," Niki mengangkat kelingkingnya sebagai tanda ia berjanji tidak akan pernah bermain dengan wanita lain.
"Jadi gimana nih? Katanya mau mijitin aku?" goda Sandra.
"Pijit plus-plus ya?" Niki memainkan alisnya balik menggoda Sandra.
"Hhmm..maunya," Sandra melempar Niki dengan bantal dan membalikan tubuhnya membelakangi Niki.
Niki memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Mau gak?" tanya Niki.
"Mau apa?" sahut Sandra.
"Katanya mau dipijit? Ayo dong.." ajak Niki.
"Gak ah, bukannya mijit ntar malah geranyangin," tolak Sandra.
"Nggak ko, aku pijitin. Beneran deh, serius!" ucap Niki meyakinkan.
"Janji? Gak akan gerayangin?" Sandra mengangkat kelingkingnya.
"Iya janji. Nanti gerayanginnya kalo pijitnya udah selesai," Niki mengedipkan sebelah matanya.
"Ih, nggak usah deh. Mau tidur aja," Sandra menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Tak lama, Niki menyusup dalam selimut dan meraba-raba punggungnya hingga memeluknya dan memegang bagian dadanya.
"Geli tau Mas," Sandra menepis tangannya.
"Cuman pegang aja ko," tangan Niki kembali berada di dada Sandra hingga Sandra tak bisa lagi menolaknya.
Mereka melakukan aktivitas ranjangnya sebelum tidur siang.
"Pijitnya nggak, plus-plusnya udah duluan," celetuk Sandra setelah selesai berperang dengan gairahnya.
"Ya salah siapa? Tadi Mas kan udah nawarin, kamunya yang gak mau," jawab Niki.
"Ya udah sekarang pijitin aku," tanpa diminta, Sandra langsung tengkurap seakan menyuruh Niki untuk segera memijatnya.
Nikipun langsung memijatnya. Selesai memijat, Niki menggodanya lagi hingga gairahnya kembali memuncak dan mereka melakukannya untuk kedua kalinya di siang hari sebelum akhirnya benar-benar tertidur pulas karena kelelahan.
Siang hari, keluarganya berkali-kali mengetuk-ngetuk pintu villanya tetapi karena tidurnya yang sangat pulas, sehingga Sandra tak mendengar suara apapun.
Sepupunyapun berkali-kali menelponnya, tetapi tak ada respon dari Sandra karena ia sengaja mengaktifkan mode silent di handphonenya. Sandra sudah menduga jika sepupu-sepupunya akan terus menelponnya untuk sekedar menggodanya. Oleh karena itu Sandra membisukan handphonenya.
"Kayaknya nih, kalo ada bom meledakpun dia gak bakalan tau," celetuk sepupunya.
"Tau nih anak, gak biasanya susah bangun. Kalo ada kebakaran kayaknya dia paling dulu kebakar kalo kaya gini," sahut Irwan.
"Maklum lah, pengantin baru," ujar Tantenya dengan nada meledek.
"Gue aja dulu pengantin baru gak gitu-gitu amat," sahut Tante lainnya.
"Ya udah lah, tinggal aja! kita makan duluan aja deh. Nungguin mereka kelamaan," ujar Neni.
Mereka menyantap makan siang tanpa Niki dan Sandra.
Bersambung ❤
__ADS_1