
"Jangan percaya cowok kalem. Karena terkadang, cowok kalem itu lebih menghanyutkan "
-----
Nino Mahendra itu tipe cowok kalem yang gak neko-neko. Gak pernah nyebat dimana pun. Gak pernah tawuran. Dan bahkan gak pernah punya catatan kejahatan anak sekolah hingga bisa dipanggil BK. Intinya, Nino ini cowok baik-baik.
Nino itu ikut ekskul basket. Gak perlu heran kalau dia punya banyak penggemar cewek yang rela berpanas-panasan cuma buat nonton dia main basket.
Meskipun anak basket itu dikenal dengan gombalannya yang bisa buat anak cewek klepek-klepek, nyatanya Nino belum pernah sekalipun goda cewek. Yang ada, pasti ceweknya yang lebih dulu bilang suka ke Nino, trus Nino bakalan nolak pengakuan cinta itu langsung ditempat. Bukan karena Nino merasa cowok yang harus ngungkapin perasaannya lebih dulu. Tentu bukan. Tapi, karena Nino emang gak punya rasa sama cewek yang nembak dia. Tidak sedikitpun.
"Tembak!"
Suara teriakan terdengar keras dari arah belakang Nino.
Nino yang memang sedang memegang bola langsung melompat dengan kedua kakinya. Tangannya mantap memegang bola. Dengan satu ayunan lembut, bola basket masuk ke ring dengan mulus. 3 poin.
Anak basket yang satu tim dengan Nino bersorak senang, mengepalkan tangan ke atas seakan sudah menang. Sementara anak basket yang kali ini menjadi lawan tim Nino berseru kecewa, harus terima ring mereka kemasukan bola lagi.
Nino sendiri sedang mendongakkan kepalanya ke langit-langit, mencoba meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Nafasnya terengah-engah. Setelah bermain sekitar tiga puluh menit tetap saja sangat melelahkan untuk terus berlari kesana-kemari meskipun diselingi istirahat beberapa saat.
Yah, sebenarnya pertandingan ini hanya untuk latihan, tapi tetap saja para anak basket tidak boleh bermain-main saat bertanding. Karena bisa-bisa Dion, si kapten basket, akan marah-marah dan menghukum anak basket lainnya untuk berlari mengelilingi sekolah tujuh kali putaran. Itu akan lebih menguras tenaga.
"Kyaa!!!!" "Keren bat!!!" "Pacar gue tuh!!!"
Suara itu lagi. Suara murid cewek yang histeris menonton anak basket latihan.
Sungguh sebenarnya Nino sama sekali tidak mengerti dengan cewek-cewek disana. Mereka itu adik kelas. Tapi, kok gak punya malu?
Nino melambaikan tangannya sekilas pada Dion di pojok lapangan. Dion yang melihat itu langsung mengangguk paham. Sepertinya sekarang saatnya istirahat.
Nino segera melangkahkan kakinya, ke pojok lapangan dimana memang ada tempat duduk panjang yang khusus disediakan untuk istirahat anak basket.
"Halo, semuanya!!! Halo!!!"
Beda dengan Nino yang seakan jengah dengan para adik kelas yang bersorak-sorai, cowok kurus yang sekarang ada di depan Nino itu malah melambaikan tangannya dengan riang ke para cewek.
Nino mendecih. Dasar cowok yang suka tebar pesona.
Nama cowok kurus itu Lucas. Dia melambaikan tangannya lagi, kini dengan disertai senyuman paling lebar yang ia bisa. Nino bahkan khawatir jika senyuman Lucas bisa sampai telinga karena saking lebarnya.
"Kalian cantik deh!! Tapi jangan panas-panasan ya. Nanti item lho!" Lucas berseru lagi, membuat para adik kelas menjerit kesenangan dan segera ke tempat yang agak teduh, menuruti saran Lucas.
Nino yang melihat itu langsung melengos panjang. Dengan cepat, telapak tangan Nino sudah mendarat di mata Lucas membuat Lucas meronta-ronta tak terima.
Nino menolehkan wajahnya sekilas. "Kalian gak masuk ekstra? Kenapa malah sekarang ada disini?" Tanya Nino singkat pada deretan adik kelas yang langsung saling sikut.
Nino menghela nafas singkat. "Bisa-bisa nilai ekstra kalian C kalo kalian terus-terusan gak ikut ekstra tau gak?" Lanjut Nino dengan nada lebih tajam.
"No! Lepasin tangan lo, woi!" Lucas berteriak parau sambil terus mencoba melepaskan telapak tangan Nino dari matanya. Kenapa harus mata yang Nino tutupi?
Nino mendecak kecil, kemudian segera berbalik sambil menyeret leher Lucas dengan paksa. Lucas yang mengikuti langkah Nino harus rela tersandung-sandung dengan naasnya.
Lucas merunduk dan segera lepas dari cengkeraman Nino yang memang sudah mengendur.
"Lo apa-apaan sih?" Tanya Lucas dengan nada ketus dan alis berkerut. "Gak liat tadi gue lagi nyapa fans gue?!"
Nino mendecak. Cowok itu melirik Lucas dari sudut matanya dengan tatapan tajam.
"Serah lo, dah!" Balas Nino tak ambil pusing dan segera mempercepat langkahnya untuk ke tempat duduk yang hampir penuh.
Lucas mengerjap-ngerjapkan matanya, tapi kemudian dengan segera langsung menyusul langkah Nino yang menjauh.
"No, lo masih jutek aja sama adik kelas itu," kata Dion begitu Nino sudah duduk. Dion mengambil botol air minum dan kemudian melemparkannya pada Nino.
__ADS_1
Nino menerima botol air minum itu dan meneguknya hingga menyisakan setengah bagian. "Biasa aja kali," katanya sambil meluruskan kaki dengan tak peduli.
Lucas mendecih mendengar itu. Biasa aja darimana? Jelas-jelas tadi Nino mengusir cewek-cewek itu!
Wowon yang sedang meneguk air minumnya tiba-tiba langsung berhenti dan mengacungkan telunjuknya ke depan dengan semangat.
"No, cewek itu kayaknya suka sama lo deh. Daritadi ngeliatin ke elo terus," kaya Wowon dengan wajah sumringah sambil menatap Nino.
"Ngeliatin Nino? Bukan ngeliatin gue?" Tanya Mingyu sudah kepedean dan langsung terkena pukulan Dion di kepalanya.
"Diem aja lo, dasar item!" Ancam Dion pada Mingyu yang langsung melotot lebar.
"Gue tu gak item, oi!" Seru Mingyu tak terima. "Gue tu cuma sedikit lebih coklat dari kalian!"
Demi mendengar pembelaan Mingyu, Jaemin langsung maju dan mengulurkan tangannya.
"Sedikit lebih coklat darimana? Liat sama tangan gue nih! Tangan lo tu item bangettt," tuduh Jaemin sambil menunjuk-nunjuk tangan Mingyu dengan gaya berlebihan. Dan dengan kurang ajarnya, anak basket lain langsung ikut mendekat dan menjulurkan tangan mereka masing-masing, memperlihatkan perbedaan warna kulit yang memang terlihat jelas.
Mingyu memajukan bibirnya dengan sebal. "Minggir kalian semua! Jangan deket-deket! Najis tau!" Katanya ketus dan langsung menoyor kening Jaemin supaya menjauh.
Memang kalo dibandingkan dengan anak basket lainnya, kulit Mingyu lah yang paling hitam. Bukan karena terlalu lama terpapar matahari, tapi memang karena gen Mingyu yang membuat kulitnya agak gelap.
Nino yang melihat kerusuhan itu hanya diam di tempatnya, sibuk menghabiskan isi botol air minum di tangan. Nino sama sekali tidak tertarik untuk membandingkan warna kulitnya dengan Mingyu. Karena Nino tahu, Mingyu memang lebih hitam darinya.
"Emang lo gak mau nyoba deketin salah satu cewek?" Nino yang tadinya sedang diam saja langsung tersentak kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari Dion. "Gue liat wajah lo tu suram, mungkin karena lo gak ada gandengan," lanjut Dion dengan santainya tanpa merasa bersalah.
"Ho' gue juga mikir lo mending nyari cewek," kata Hoshi ikut mendukung Dion.
"Yang gak punya pacar, gak usah sok nyaranin orang lain buat pacaran," sindir Bobi tajam yang kemudian langsung terkekeh nyaring hingga memperlihatkan dua gigi kelincinya yang besar.
Hoshi menggeram mendengar itu. Ia mengangkat botol air mineral yang kosong dan langsunh melemparkannya pada Bobi dengan sebal.
Bobi tertawa keras ketika botol itu lewat begitu saja tanpa mengenainya semili pun. Hoshi yang melihat botolnya salah sasaran hanya bisa mengeluh tertahan karena dia sudah ditahan tangan Dion sehingga ia tidak bisa memukul Bobi dengan tangannya sendiri.
Nino yang mendengar itu jadi berjingkat menjauh. Siapa pula yang mau dicarikan pacar oleh Jaemin?!
"Gak usah ribut soal Nino yang belum pacaran," kata June kalem di tempatnya. Ia melirik Nino sekilas lalu melanjutkan kalimatnya. "Udah ada cewek yang dia suka," lanjutnya tenang.
"HA?!" "HE?!" "HAAA?!"
Semua anak basket langsung melongo mendengar perkataan June. Antara kaget dan tidak percaya kalo Nino suka dengan seorang cewek.
Nino? Suka? Cewek? Jelas semua anak basket langsung berseru-seru tak karuan mengetahui fakta itu. Setidaknya, Nino memang masih normal karena masih menyukai cewek.
"Oh! Pantes aja sama cewek lainnya sinis, udah ada yang ditaksir ternyata," ejek Lucas sengaja dengan nada suara yang ia keraskan diikuti anggukan dari Wowon.
"Ceweknya secantik apa ya? Sampai bisa meluluhkan hati seorang Nino Mahendra!" Kata Wowon dengan dramatisnya sambil mengangkat tangannya ke atas entah untuk apa.
"Apakah ceweknya merupakan bidadari?" Jaemin ikut mengangkat tangannya dengan dramatis mengikuti Wowon. Ia menatap Nino penuh pertanyaan dan mendesak Nino untuk segera menjawabnya
Nino memalingkan wajahnya, tidak mau menjawab. Dan sebagai gantinya, Nino malah memberikan tatapan tajam pada June yang dengan teganya telah membeberkan rahasia Nino.
June itu teman sekelas Nino dan bisa dibilang jadi teman yang lumayan dekat. Jadi, ketika June tahu rahasianya, Nino pikir tidak akan masalah untuk mengakuinya. Tapi, ternyata June itu ember, tidak bisa menjaga rahasia.
"Ceweknya cantik banget. Makanya Nino suka," jelas June tenang tanpa mempedulikan ancaman Nino.
Jaemin bertepuk tangan dengan riang diikuti Wowon. Entah untuk apa.
"Id line ada?" Mingyu akhirnya bertanya setelah daritadi hanya diam.
"Nino gak punya," jawab June masih sama tenangnya seperti tadi.
Mingyu yang mendengar itu jadi mengernyitkan keningnya. Id line tak punya, lalu pdkt macam apa yang dipakai Nino?
__ADS_1
"Pernah ngasih coklat?" Wowon ikut bertanya penasaran.
June menggeleng. "Sama sekali gak pernah."
"Pernah ngajak makan bareng?" Lucas kali ini yang bertanya dengan wajah yang bisa dibilang sangat berlebihan.
June menggeleng pelan.
"Pernah ngajak jalan?"
June menggeleng lagi.
"Pernah nembak ceweknya?"
Jawaban dari pertanyaan itu hanyalah gelengan pelan dari June.
Bobi langsung menolehkan kepalanya dengan geram pada Nino.
"Suka dari mananya lo? Masa belum pernah deketin!" Seru Bobi dengan ketus sekaligus geram menatap Nino.
"Masa ngajak makan aja belum pernah!" Jaemin ikut berseru protes sambil menunjuk Nino seakan menghakimi.
"Id line juga gak punya lagi!" Hoshi ikut-ikutan berseru-seru dengan ketusnya diikuti anak basket lainnya yang juga geram.
Nino menolehkan kepalanya demi mendengar semua komentar netizen maha benar di sekelilingnya itu.
"Yang suka gue, kenapa kalian yang ribet?" Tanyanya menantang dengan dagu terangkat sedikit.
Lucas langsung membungkam mulutnya begitu juga dengan yang lainnya. Lucas hendak berseru protes mendengar pembelaan Nino. Memang yang suka tu Nino, tapi kan kalau Ninonya lembek kaya gitu, gimana gak pada geram coba?
"Ceweknya sekelas sama lo?" Tanya Mingyu penasaran sambil memajukan dirinya supaya lebih dekat dengan Nino.
Nino mengangguk saja, sedang tidak mau menjelaskan panjang lebar.
"Namanya siapa?" Tanya Wowon kembali kalem dan tak ngegas seperti tadi.
Nino yang mendengar itu jadi melotot sebal. Apa maksudnya Wowon menanyakan nama cewek itu? Jangan bilang kalo Wowon ingin mencari tahu tentang cewek itu?!
"Lo!" Nino mengacungkan telunjuknya pada Wowon sambil memicingkan matanya. "Jangan coba-coba BUAT......"
Nino tiba-tiba tertegun, kalimatnya menggantung begitu saja di udara. Mulutnya menganga kecil seakan sedang mem-pause ucapan Nino.
Anak basket lainnya yang sedang mendengarkan jadi mengernyit tak paham dengan kalimat Nino yang tiba-tiba berhenti.
Tanpa aba-aba, Nino tiba-tiba berdiri dengan wajah yang berubah sumringah.
"Latihan basket lagi yuk!" Ajaknya tiba-tiba dengan semangat dan senyum mengembang.
"Ayo Dion! Latihan lagi!"
"Jaemin, Wowon sama Lucas jangan duduk mulu. Ayo!"
"Hoshi sama Mingyu jangan bengong gitu dong! Ayo latihan!"
"June my best friend, lets go!!"
Nino terus berseru-seru semangat sambil melompat-lompat dengan tidak sabaran.
Anak basket lainnya langsung melongo tak paham dengan tindakan Nino. Perasaan, cowok itu tadi sedang sebal. Apa-apaan dengan tingkahnya yang sekarang?!
"Ayo semuanya! Semangat latihan!"
Nino berseru lagi. Maka demi mendengar seruan Nino, semua anak basket langsung beranjak berdiri meskipun masih diselimuti rasa penasaran yang tinggi karena tingkah Nino yang aneh.
__ADS_1
Para anak basket itu sama sekali tidak tahu. Kalo sebenarnya Nino seperti itu karena dia melihat cewek yang dia suka sedang melewati lapangan basket.