Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Pencarian


__ADS_3

Dalam perjalanan, Zion bersenandung ria. Ia tak sabar untuk bertemu dengan Anna. Hatinya meledak-ledak, seperti bom atom. Senyumannya tak pernah lepas dari bibirnya. Ia terlalu bersemangat. Mobilnya berhenti tepat didepan gerbang kediaman Anna. Saat Zion turun, ia disambut ramah oleh dua Asisten Rumah Tangga.


"Selamat datang, Tuan Zion." Mira dan Lisa menyambut Zion sambil menundukkan kepala. Senyuman tersungging dibalik bibir mereka.


"Silahkan masuk, Tuan! Kami sudah menyiapkan perjamuan malam Anda." Ujar Mira.


"Wah, sambutan yang bagus. Tetapi, sayangnya aku tak butuh itu. Aku kemari untuk bertemu dengan kekasihku, Anna." Senyuman melekat dari bibir Zion.


"Kalau begitu, saya akan mengantarkan Anda ke kamar nona Anna." Ucap Mira. Ia bersikap sopan.


"Baiklah." Ucap Zion sambil berjalan.


"Tetapi, Tuan Zion, Anda dari perjalanan kemari, pasti cukup lelah. Alangkah baiknya, jika Anda menikmati pijatan refleksi yang telah kami sediakan untuk Anda." Ujar Lisa.


"Pijat refleksi? Hmm... Aku rasa tidak perlu. Kulitku ini sangat tebal, jadi takkan mudah lelah."


"Baiklah, kalau begitu, kami akan mengantarkan Anda." Ujar Lisa. Zion mengangguk. Pria itu menarik nafas, saat ia berada didepan kamar Anna. Berapa lama mereka tak bertemu, membuatnya sangat merindukan sosok gadis yang ia cintai. Mira dan Lisa membiarkan Zion termenung sesaat.


"Sayang, aku datang kepadamu." Batinnya. Saat ia membuka pintu kamar Anna, aroma kamarnya menusuk hidung Zion. Ia sangat mengenali aroma itu. Zion tersenyum. Ia tak sabar untuk memeluknya. Tetapi saat ia melihat Anna, gadis itu tak ada disana. Lalu, Zion mencari Anna didalam kamar mandi. Kamar mandi tersebut tak jauh dari pandangan Zion. Ia berjalan untuk membuka pintu kamar mandi yang tertutup. Namun, ketika ia membukanya, ia tak menemukan Anna.


"Mana dia? Kenapa dia gak ada disini?" Zion merasa cemas pada gadis itu. Lalu, ia melihat jendela kamar Anna yang tertutup. Ia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan.


"Tidak mungkin. Seharusnya, nona Anna masih berada ditempat ini." Ucap Mira.


"Dengan kondisi nona Anna saat ini, rasanya tidak mungkin untuk bisa meninggalkan kamarnya." Ujar Lisa.


"Aaah!" Zion tampak kesal. Ia mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa kalian diam saja? Cepat cari! Dan coba periksa CCTV nya!" Teriak Zion.


"Di Rumah ini tidak ada CCTV, Tuan." Ujar Lisa.


"Apa? Rumah sebesar ini tidak ada CCTV? Lelucon macam apa itu?" Zion kesal, lalu ia membanting pintu kamar Anna. Mereka berkeliling untuk mencari Anna di setiap ruangan. Tetapi, mereka tak menemukan petunjuk apapun. Kemudian, Zion menghubungi seseorang.


"Halo, ada apa?"


"Kakek, aku butuh bantuan Kakek. Kerahkan semua anak buah Kakek untuk mencari keberadaan Anna!"


"Memangnya ada apa dengan gadis kecil itu?"


"Dia hilang. Aku sudah mencari keseluruhannya. Te..tapi.. Anna gak ada." Zion terlihat frustasi. Wilson bisa merasakan ketakutan cucunya.


"Baiklah. Baik. Tetapi, kamu harus tenang. Jangan bertindak gegabah! Aku tidak mau sampai kehilanganmu juga." Ujar Wilson. Setelah komunikasi mereka terputus, Wilson menghubungi seseorang, nama itu tertulis Darion.

__ADS_1


"Halo, Tuan Wilson! Bisa saya bantu?"


"Cari seseorang untukku! Dan kerahkan sisanya untuk melindungi cucuku. Aku akan mengirim foto mereka padamu."


"Siap, Tuan."


Sementara itu, Zion keluar dari Rumah Anna. Ia tak bisa diam, tanpa melakukan apapun. Saat ia, membuka pintu mobil, seseorang menahannya. Zion melihat sosok itu adalah Jay.


"Minggir!" Seru Zion. Ia tak ingin diganggu.


"Aku tidak ingin membiarkanmu mengambil Anna dariku. Dia adalah milikku."


"Milikmu? Anna adalah kekasihku. Dia bukan milikmu, tetapi milikku." Tegas Zion.


"Kamu tidak akan bisa memilikinya. Hanya aku satu-satunya yang pantas untuknya.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu."


"Aku tidak akan menyerah. Aku yakin bisa membahagiakan Anna." Ucap Jay, ia tak mau kalah dari Zion.


"Kamu datang bukan waktu yang tepat. Minggirlah, sebelum kesabaranku habis!" Seru Zion.


"Kamu terlalu buru-buru. Aku hanya ingin memastikannya saja." Jay mengintip dibalik jendela mobil Zion. Tetapi, ia tak menemukan apa yang ia cari.


"Anna? Ada apa dengannya?"


"Dia menghilang."


"Apa kau bilang? Kenapa tidak bilang daritadi?"


"Kamu yang terus menghalangi jalanku." Ujar Zion. Tiba-tiba ponsel Zion berdering. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengangkat telepon.


"Halo, Kakek! Apa Kakek sudah menemukan keberadaan Anna?" Jantung Zion berdetak tak stabil. Ia sangat mencemaskan keadaan gadisnya.


"Aku sudah menemukannya. Tenanglah, dulu. Kalau kamu tidak tenang, Kakek tidak bisa memberitahumu."


"Apa menurut Kakek, aku bisa setenang ini? Kek, cepat katakan padaku, dimana dia sekarang?" Ucapnya memohon.


"Aku akan membagikan lokasinya padamu sekarang. Ingat, jangan bertindak gegabah!"


"Aku mengerti." Zion memutuskan sambungan teleponnya.


"Dasar, Anak tidak sopan! Seharusnya, anak ini berterimakasih padaku." Batin Wilson menggerutu.

__ADS_1


Dibalik itu, Zion hendak masuk kedalam mobilnya, tetapi terhalang lagi oleh Jay. Zion jengah dengan tingkah pria tersebut yang menghalanginya.


"Ada apa denganmu?"


"Jadi, kamu sudah menemukan posisi Anna?"


"Sudah. Tetapi itu bukan urusanmu. Sekarang, singkirkan tanganmu itu!"


"Mari kita pergi bersama!" Jay menarik Zion kedalam mobilnya.


"Apa-apaan ini?"


"Aku sangat mahir dalam mengendarai mobil. Aku takutnya, kelambatanmu bisa menghambat untuk menyelamatkan Anna.


"Huh? Baiklah." Zion duduk disebelah Jay. Ia tak punya pilihan lain.


"Ini semua demi menyelamatkan Anna." Batin Zion.


"Kencangkan sabuk pengamanmu! Mari kita menggila sejenak!" Zion menyeringai. Seringai Jay terlihat mengerikan.


*******************************


"Sekarang, aku yakin tidak ada satu orang pun yang bisa mengambilmu dariku." Ucap Jonathan menatap Anna dengan senyumannya.


"Anna, aku adalah pria satu-satunya yang bisa bersamamu. Tidak ada satu orangpun yang boleh memilikimu." Senyuman tak lepas dari bibir Jonathan. Ia mengusap kepala Anna. Lalu mencium kening gadis tersebut. Tak berlangsung lama, ia mendapat kode dari anak buahnya, jika lebih dari satu orang yang mencoba masuk. Jonathan menyeringai. Ia mengambil satu dari dua senapan yang telah ia sediakan. Ia memilih senapan berkaliber 9 mm yang telah terisi peluru. Sudah saatnya ia bereaksi.


Sementara itu, Jay menyiapkan sebuah senapan yang ia sembunyikan di mobilnya. Ia selalu menyimpan senjata tersebut, sewaktu-waktu untuk berjaga-jaga. Zion tak peduli apa yang dilakukan oleh Jay. Ia hanya menghajar beberapa orang yang menghalanginya. Aksinya dibantu oleh beberapa orang yang merupakan suruhan dari Darion, anak buah Wilson.


"Kau terlalu lambat!" Seru Jay. Ia mengarahkan senjata kearah mereka. Dalam hitungan detik, ia mampu melumpuhkan orang-orang yang belum tersentuh oleh mereka.


"Jangan khawatir, aku tidak membunuh mereka! Aku hanya melumpuhkan mereka saja." Ucap Jay menyeringai.


"Aku tak peduli. Membunuh atau tidak, bagiku tidak penting."


"Wah, kau terdengar sangat kejam!" Ujar Jay.


Prok prok prok.. Sesosok pria datang dengan seringainya yang khas. Ia berjalan menghampiri mereka.


"Pemandangan yang indah. Aku tak tahu kalian menjadi tim yang hebat." Ujar Jonathan.


"Jonathan! Kau!" Seru Zion. Merasa tak terima akan kehadirannya, ia mendekati Jonathan. Akan tetapi, Jay menahannya.


"Jangan gegabah dulu! Dia pasti memegang senjata." Bisik Jay. Jonathan yang mengerti isyarat dari Jay, seringai tajam ia tunjukkan pada mereka.

__ADS_1


"Kamu terlalu buruk sebagai seorang Kakak. Tidak pantas untuk mengekangnya seperti itu." Ucap Jay. Sedangkan, Zion berbeda dari Jay. Ia tak ingin berbasa-basi. Ia tak peduli kalau Jonathan membawa senjata. Ia hanya ingin menyelamatkan Anna. Tatapannya penuh amarah, ia ingin menghabisi pria tersebut. Sesaat, Zion merebut pistol dari tangan Jay. Lalu, ia mengarahkan senjata tersebut kearah Jonathan. Ia tak peduli jika harus membunuh pria itu. Siapa diantara mereka yang akan lenyap?


__ADS_2