Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 50 Kepingan yang hilang


__ADS_3

Tetesan darah tak menghentikan geraman  pria berahang tegas. Pria itu berdiri, tak mempedulikan rasa sakit pada punggung tangannya. Kaca tak berdosa menjadi pelampiasan sesaat. Lantai putih bercampur darah tak membuatnya sedikit merasa lega. Segelintir kekecewaan terbenam dalam hatinya. Tak tahu harus berbuat apa, ia melakukan hal yang sama lagi agar membuat tangannya berdarah.


"Darion! Hentikan!" seru Zion. Ia tak tega melihat Darion menyakiti dirinya sendiri. Darion berlutut, Zion tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan, maafkan saya," sesal Darion. Wajahnya lesu, ia tak bersemangat.


"Memangnya aku ini dukun bisa tahu apa yang terjadi kalau kamu tidak bilang ke aku?" Zion menghela nafas.


"Saya mengirim banyak orang untuk membantu Jay ke Luar Negeri."


"Lalu? Kamu gagal?" tanya Zion.


"Mereka semua menghilang tanpa jejak."


"Tanpa jejak?"


"Benar. Saya sudah memeriksa posisi mereka, namun saya tak menemukan jejaknya."


"Wah, Jonathan benar-benar sesuatu ya..." Zion bertepuk tangan, ia heran dengan kemampuan yang dimiliki iblis tersebut.


"Saya sudah meminta bantuan pada FBI, mungkin membutuhkan sedikit lebih lama."


"Sebenarnya apa yang ia rencanakan? Dan siapa dulu yang ia lawan?" tanya Zion. "Jangan jangan..."


"Ada apa, Tuan Muda? Apa Tuan mencurigai sesuatu?"


"Aku rasa dia menargetkan kita semua. Dia akan membuat semua orang bingung. Dan disaat kita lengah, dia mencari celah untuk menghancurkan kita sekaligus," ucap Zion.


"Dia benar-benar monster," sahut Darion.


"Aaaagh! Kalau memang itu rencananya, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Zion mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Ada satu cara," timpal Wilson yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


"Kakek!"


"Ketahuilah tujuan utamanya," ujar Wilson.


"Tujuan utama Jonathan?"


"Dia ingin membalaskan dendam pada keluarga Anna. Aku sudah mencari tahu tentang masalah yang terjadi, tetapi hingga saat ini masih belum tahu."


"Bentar. Bukankah Jonathan menargetkanku dan juga Jay?"


"Apa kamu ingat bermain catur?"


"Apa hubungannya rencana Jonathan dengan catur Kakek?" Zion mendengus kesal.


"Dasar bodoh! Jangan remehkan permainan catur! Catur itu jalan pintas untuk menyerang lawan."

__ADS_1


"Hah? Maksud Kakek apa? Kalau catur, pasti ada raja, ada..." Zion teringat sesuatu seketika.


"Sekarang kamu ingat bagaimana bermain catur?" Wilson menyeringai.


"Jadi dia..."


"Untuk menangkap raja harus menyingkirkan apapun disekitarnya, lalu saat ada celah, bisa menyerang mereka sekaligus bahkan Raja tak bisa berkutik," terang Wilson.


"Raja disini maksud Kakek adalah keluarga Anna. Aku dan Jay adalah orang-orang yang disekitar mereka dan mengganggu Jonathan secara tidak langsung. Jadi, Jonathan mencoba memberikan peringatan waktu itu agar membuat kita lengah. Saat kita lengah dan memikirkan Jay, saat itulah Jonathan menyingkirkan kita satu-persatu dengan memanfaatkan kondisi Jay saat ini. Tetapi..."


"Tetapi ia tak punya pilihan lain karena dia semakin hari, semakin didesak oleh dendamnya," timpal Wilson.


"Jadi, sekarang... Anna! Aku harus melakukan sesuatu."


"Jangan bodoh! Kalau kamu salah langkah sedikit saja, Anna akan terluka."


"Aku tahu. Tetapi kita tidak punya rencana lain."


"Lalu, apa rencanamu?"


"Mulai sekarang, aku akan menunjukkan taringku ke iblis itu," sorotan mata Zion tajam. Tak ada rasa takut dibalik wajah tampannya.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Nathan berjalan sambil mengibaskan ekornya yang lucu, ia melompat ke pangkuan Anna yang duduk melamun. Gadis itu kaget, namun ia tersenyum seketika. Anna membelai Nathan dengan lembut. Nathan menutup mata merasakan sensasi hangat dari tangan Anna. Akan tetapi, sesuatu mengusiknya kembali. Gadis itu menarik nafas untuk menenangkan diri.


Robert tak sengaja melihat puterinya duduk seorang diri. Sekilas, ia menatap Anna dalam diam. Pria itu tampak ragu menghampiri Anna. Sejak kejadian heboh yang terjadi pada pernikahan Anna, mereka tak saling bicara dan lebih memilih untuk menjadi orang asing. Padahal, banyak hal yang ingin ia bicarakan pada gadis itu. Keraguannya membuat Anna menyadari kehadiran Robert.


"Aku tahu ada yang ingin Ayah sampaikan. Katakanlah."


"Bukan apa-apa," ucap Robert. Ia mempunyai ego yang besar. Anna menghela nafas, seraya tersenyum geli.


"Ayah, inilah kenapa hubungan kita tidak pernah membaik, jika salah satu diantara kita tidak mencoba jujur satu sama lain, ujar Anna. Robert sedikit tegang.


"Semua sudah terjadi. Tak ada yang ingin aku bicarakan lagi."


"Kalau begitu, biarkan Anna yang berbicara."


"Apa itu?"


"Apa Ayah mempercayai kak Joe terlepas dia adalah anak angkat Ayah dan Ibu?" tanya Anna. Robert sedikit menegang.


"Kenapa kamu tanyakan itu? Kamu tidak mempercayai kakakmu?"


"Ayah, daridulu aku sangat percaya dengan kak Joe, tetapi sekarang aku..," ucapan Anna terhenti. Ia melihat sekitar untuk memastikan aman. Gadis itu menghela nafas sesaat.


"Ada apa? Jangan berkata yang berbelit-belit! Aku tak suka orang berbicara seperti itu."


"Anna hanya ingin mengatakan mulai sekarang tolong perhatikan setiap langkah kak Joe. Anna tidak ingin Ayah menyesal nantinya," bisik Anna. "Dia bukan kak Joe yang kita kenal selama ini," ucapnya membuat Robert berpikir.

__ADS_1


"Kamu mencurigai kakakmu sendiri?"


"Dia bukan kakakku! Ingatlah, Ayah, siapa dia dan bagaimana dia masuk ke keluarga kita. Anna harap, Ayah tak melupakan itu."


"Apa kamu iri dengan kakakmu? Selama ini, dia selalu memperlakukanmu dengan baik. Dan sekarang, kamu mencoba meracuniku untuk mengatakan hal yang sesuatu yang buruk tentangnya."


"Ayah, ingatlah aku anak kandungmu! Sudah seharusnya, seorang Ayah lebih mempercayai anak kandungnya sendiri," Anna menarik nafas. "Aku tahu Ayah berbeda dengan Ibu dari cara berpikir. Karena itu, aku mengatakan ini pada Ayah. Tolong pikirkan lagi!"


"Baiklah. Aku akan menurutimu kali ini. Tetapi kalau kecurigaanmu tak membuktikan apa-apa, Ayah tidak akan tinggal diam, meskipun kamu adalah anakku."


"Aku tahu. Anna hanya tidak ingin Ayah menyesal suatu saat nanti mempercayai seseorang yang akan menghancurkan keluarga kita," tegas Anna.


"Ceritakan, aku akan mendengarnya!" seru Robert.


"Apa Ayah ingat bagaimana Kak Joe masuk ke keluarga kita?" tanya Anna. Robert tak menjawab. Ia diam sejenak.


"Saat itu, aku dan ibumu tak tak sengaja ingin menabrak Jonathan kecil yang tengah menangis. Setelah itu, dia memohon agar menolongnya. Dia bilang tak punya tempat tinggal."


"Jadi, Ayah dan Ibu membesarkan kak Joe karena itu?"


"Tidak. Aku menolaknya dan membiarkan dia sendirian," jawab Robert. Anna mengulas senyuman tipis, tak menyangka Ayahnya juga pernah berbuat seperti itu pada Jonathan.


"Lalu, kenapa Kak Joe tinggal disini?"


"Apa kamu lupa kalau dia yang telah menyelamatkanmu?" tanya Robert.


"Kak Joe menyelamatkanku? Karena apa?" kepala Anna pusing untuk mengingat kembali. Entah kenapa, ia merasa ada kepingan hilang yang tak dia ketahui.


"Kamu lupa kalau sebenarnya yang mengajaknya untuk tinggal disini adalah kemauanmu sendiri?" ucap Robert.


"Hah? Aku yang menyuruh Ayah untuk melakukan itu?" Anna tak percaya. Dari awal, ia membiarkan iblis kecil masuk yang mencoba menghancurkan keluarganya. "Itu tak mungkin aku," batin nya.


"Sepertinya kamu harus ke suatu tempat agar kamu ingat," ucap Robert.


"Dimana itu, Ayah?"


"Taman anak-anak."


"Baiklah, ayo kita pergi!" seru Anna.


"Kalian mau pergi kemana?" tanya Jonathan yang tiba-tiba datang.


"Ka..Kak Joe!" wajah Anna pucat. Ia tak tahu apa Jonathan mendengar pembicaran mereka atau tidak. Tetapi seketika, ia memikirkan ide konyol.


"Ada apa ini?" tanya Jonathan dengan kening berkerut.


"Apa kakak mau berjalan-jalan denganku?"


"Kemana?"

__ADS_1


"Taman anak-anak. Tiba-tiba aku ingin kesana," ujar Anna sambil menyeringai.


"Taman anak-anak? Kenapa tiba-tiba?" batin Jonathan.


__ADS_2