
Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas dengan senyuman yang merekah dibibir. Cucuran keringat tak terasa ketika semangat didalam diri tak memudar.
Terra tak lelah melatih dirinya tiap hari. Disamping itu, Jay datang sambil tersenyum melihat gadis itu. Terra tak peduli tatapan mata Jay, ia terus menggerakkan tubuhnya.
"Kamu masih ingat aku?" tanya Jay.
"Ingat," ucap Terra yang masih tetap fokus apa yang ia lakukan saat ini.
"Kamu ingin tetap berada disini selamanya?"
"Maksudmu?"
"Menjadi nyonya di rumah ini," ucapan Jay menghentikan Terra seketika. Gadis itu tersenyum.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Namun, aku bukan perempuan matre yang memanfaatkan segalanya."
"Aku tahu. Aku hanya ingin menawarkan sesuatu yang sangat menguntungkan kita berdua," ujar Jay, seraya menatap Terra dengan serius. "Aku tau perasaanmu dengan Zion."
"Aku..."
"Jangan membohongi perasaanmu! Sangat sakit kan melihat orang yang kamu cintai bersama orang lain? Kita bisa..."
"Jay!" potong Terra. Ia menghela nafas sesaat.
"Aku tahu kamu ingin bersama dengan Zion. Sama seperti aku yang ingin bersama dengan Anna. Kerjasama ini..."
"Apa kamu tahu arti cinta?" tanya Terra memotong perkataan Jay.
"Tentu saja. Cinta itu sesuatu hal indah yang bisa dimiliki oleh tiap orang. Setiap orang membutuhkan cinta. Tanpa cinta, tak ada artinya didunia ini. Menurutmu aku tidak tahu arti cinta?"
"Tetapi cinta tidak memaksa, meski hati kita terluka."
"Jadi, kamu ingin tetap mengalah meski hatimu menangis tidak bisa bersamanya? Itu namanya bodoh."
"Cinta memang bodoh. Asal melihat dia bisa tersenyum dan bahagia, itu akan..."
"Terra, pikirkan baik-baik kata-kataku! Apa kamu tidak ingin Zion menggenggam tanganmu, memelukmu, menciummu, melamarmu, serta membangun rumah tangga yang harmonis bersamamu? Kamu tidak ingin itu semua?"
"Munafik kalau aku mengatakan tidak. Aku selalu memimpikan hidup bersama orang yang aku cintai, hidup sederhana, menanam bersama, merawat anak, dan banyak hal lainnya yang ingin aku lakukan. Rasanya indah untuk memikirkan hal itu. Namun, aku tidak ingin kehilangan momen bahagiaku kalau dia juga tidak bahagia bersamaku. Kalau takdir aku bukan dia, aku tidak bisa melawan takdir."
"Justru pemikiran kita berbeda. Karena aku mencintai Anna, aku ingin mendapatkan dia, tak peduli bagaimana caranya."
__ADS_1
"Menurutmu apa itu cinta?"
"Tentu saja. Aku selalu cemburu melihat Anna bersama Zion. Aku tidak rela melihat mereka bahagia. Karena Anna hanyalah untukku. Bukan karena..."
"Kalau begitu, aku akan mencegahmu untuk melakukan hal itu," Terra melesat dengan cepat. Ia menggerakkan kakinya untuk menendang Jay.
Jay berhasil menghindar dalam hitungan detik. Kali ini, Terra melayangkan kembali tendangan yang bertumpu pada kaki kiri. Jay menghindar, lalu dia mengapit leher gadis itu menggunakan lengannya.
Terra menendang lutut Jay, sekali lagi Jay menghindar, membuatnya melepaskan Terra. Pria itu tersenyum menemukan titik lemah Terra.
Gadis itu sedikit kewalahan melawan Jay karena Jay belum menyerangnya sama sekali. Hanya menahan serangannya atau menhindar.
"Kamu tidak melawanku?" tanya Terra.
"Aku tidak suka melawan perempuan."
"Huh? Kamu meremehkanku?"
"Seharusnya kamu yang lebih hati-hati ketika melawan pria sepertiku," ujar Jay.
Terra kaget, ketika Jay berada dibelakang gadis itu, lalu menggunakan teknik kuncian. Terra tak bisa berkutik. Padahal ia merasa menendang titik vital Jay, namun Jay malah memilih jalan belakang untuk mengecoh Terra.
"Kau..."
"Bagaimana mungkin?" Terra masih tak percaya. Ia berusaha melepaskan diri dari Jay, namun Jay bisa membuatnya tak berkutik dengan memanfaatkan setiap gerakan Terra.
"Kamu ingin tahu jawabannya?"
"Hmm."
"Itu karena kamu adalah perempuan."
"Apa? Alasan konyol apa itu?"
"Tenaga pria lebih besar dari perempuan. Sehebat-hebatnya kemampuanmu Terra, kamu tidak bisa mengalahkan pria apalagi pria itu lebih kuat darimu."
"Gender bagiku tidak penting karena..."
"Satu lagi kelemahanmu."
"Apa itu? Katakan padaku!"
__ADS_1
"Kamu selalu melakukan teknik mu sesuai yang kamu pikirkan, tetapi kamu tidak membaca situasi bagaimana kalau lawanmu lebih kuat untuk bisa kamu kecoh?"
"Benar juga. Selama ini, aku selalu berpikir semua teknik yang aku lakukan, karena aku tidak pernah kalah dan selalu tepat sasaran. Tanpa kusadari itu seperti kebiasaanku."
"Itu dia maksudku. Untuk melawan pria yang tenaganya lebih kuat darimu, jangan hanya menggunakan instingmu, tetapi kamu harus tahu tentang seberapa hebat kemampuan lawanmu," ujar Jay.
"Ternyata Jay tidak buruk seperti yang kupikirkan," pikir Terra.
°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°
Sembilang belas derajat suhu Ac menyala dengan cukup dingin. Menjadi kebiasaan tak membuat tubuh mengigil. Jonathan duduk sambil membolak-balikkan dokumen tanpa pedulikan suhu Ac yang melingkupi kulit-kulitnya.
Jonathan tersenyum, memikirkan setiap rencana licik yang akan membuatnya mengambil alih Ax group. Ia tak sabar. Besok adalah hasil akhir dari rencananya. Dalam semalam ia akan menjungkirbalikkan dunia yang ia buat sendiri.
"Halo!" jawab Jonathan ketika ia mendapatkan panggilan untuk ponselnya.
"Semuanya sudah siap, Tuan."
"Bagus. Setelah aku berhasil memenangkan proyek itu, jalankan rencana b."
"Baik, Tuan."
"Aku sungguh tak sabar menunggu besok. Aku sudah menyiapkan hadiah yang besar," batin Jonathan sambil menutup panggilannya.
Jonathan tak peduli seberapa besarnya resiko yang ia ambil, ia hanya ingin menuntaskan keinginannya selama ini. Sosok iblis dalam dirinya berkoar-koar, menguasai pikiran dan hatinya.
Andai saja, Jonathan tak memiliki ambisi yang besar untuk menghancurkan keluarga Anna, mungkinkah ia menjadi sosok yang baik?
Tak ada sejatinya manusia memiliki impian menjadi orang jahat. Hanya saja, ada alasan dibalik itu semua. Dan alasan itu mengubah sifat seseorang dalam sekejab.
Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Akan tetapi, semua tergantung pilihan ditangan tiap orang, mau menjadi orang yang lebih kejam atau belajar untuk memaafkan.
Memaafkan bukan hal yang memalukan, bukan suatu yang harus diributkan. Belajar memanfaatkan adalah awal dari kesabaran dalam menghadapi situasi yang tak memungkinkan.
Namun, tidak setiap orang berpikir demikian. Terlebih lagi jika kehilangan orang yang dicintai. Seperti halnya Jonathan yang selalu mengalami nasib buruk, ketika kehilangan orang yang paling ia sayangi.
Tiap kenangan indah hilang dalam sekejab saja hanya karena ulah seseorang yang ia yakini itu ada hubungannya dengan Robert.
Tiap tahun Jonathan menaruh pikiran serta rencana jahat yang ia susun rapi. Mengambil hati Robert dan Eveline bukanlah hal yang sulit. Hanya menunjukkan bakat yang ia miliki dan membuat mereka terkesan.
Kasih sayang yang mereka terima hanyalah bualan Jonathan. Pria itu tak pernah menyanyangi mereka berdua. Dia hanya menunggu waktu yang pas untuk membalaskan dendam.
__ADS_1
Disamping itu, sesosok pria misterius berada dibelakang Jonathan. Ia bukan berasal dari kalangan rendah. Pria itu setara dengan Wilson yang memiliki segalanya. Siapakah dia?