Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Bimbang


__ADS_3

Anna menyesap secangkir green tea yang berisi boba didalam nya. Ia duduk di salah satu kursi yang berada didekat jendela. Anna tersenyum, tak sabar menunggu kedatangan Zion. Sesekali, ia mendengar suara ponselnya. Namun, ternyata bukan pesan WhatsApp dari Zion. Itu hanyalah notifikasi yang lain. Anna sengaja mempercepat kedatangannya, karena ingin memberikan kejutan pada Zion. Senyuman tersungging dibibirnya yang cantik.


Waktu tlah berlalu, namun Anna tak melihat Zion datang. Ia tak menyerah. Ia mengira, Zion terlambat karena pekerjaan di Kantornya yang menumpuk. Tak terasa tiga jam tlah berlalu, Anna masih sabar menunggu Zion. Karena bosan, ia mengetuk meja menggunakan jemari. Tak lama, Anna melihat ponsel. Waktu menunjukkan pukul 21:15. Waktu berjalan begitu cepat.


"Apa pekerjaannya begitu banyak, sehingga ia tidak memiliki waktu senggang?" Gerutu Anna dalam hati. Ia mulai lelah. Kesabarannya hampir habis.


"Maaf, nona, sebentar lagi kami akan tutup." Ujar seorang pelayan disana.


"Tunggu setengah jam lagi, ya."


"Baiklah." Ucap pelayan tersebut dengan sabar. Anna semakin gusar. Ia tak tenang. Ia tak berhenti memikirkan pria itu. Tetapi, dia ingat beberapa bulan yang lalu, Zion pernah bertemu dengannya ditempat ini. Karena pekerjaan sebagai Asisten Manager, membuat Zion sibuk dan menemuinya pada jam 22:00. Karena itu, Anna belajar untuk bersabar kesekian kalinya.


Setengah jam tlah berlalu, seorang pelayan kembali mengingatnya. Anna memberikan sejumlah uang satu juta pada pelayan tersebut. Pelayan itu bimbang untuk menerima uang pemberian Anna. Ia takut boss nya mengetahui apa yang ia terima.


"Ada apa? Aku tidak menyogokmu. Aku memberimu uang karena aku sudah terlalu lama disini. Aku rasa, tak pantas berada ditempat ini berjam-jam, namun hanya membeli satu minuman saja." Terang Anna. Sang pelayan tersenyum malu.


"Kamu bisa membaginya dengan yang lain." Ujar Anna lembut.


"Baiklah. Terima kasih, nona." Pelayan itu pergi. Ia membagikan uang yang ia peroleh dari anna secara merata.


Anna cukup lelah untuk menunggu Zion. Zion tak menunjukkan batang hidungnya. Anna juga tidak menelepon Zion, karena takut ia mengganggu waktu pria itu dan membuat pekerjaannya terganggu. Setelah setengah jam kemudian, Anna masih tak melihat kehadiran pria tersebut. Raut wajah Anna kecewa. Berkali-kali ia melihat ponselnya, tak ada satu pesan WhatsApp atau panggilan telepon untuknya. Tak tahu apa yang harus dilakukan, Anna pulang dengan raut wajah yang kesal. Sewaktu di perjalanan, ia mengirim pesan pada Zion.


Hari ini


'Hei, Zion bodoh, kau ingin menipuku?'


'Zion! Aku lelah....'


'Zion.....!'


'Kita putus, aja yaa..'

__ADS_1


Anna melempar ponsel karena kesal. Ia bahkan tak peduli, jika ia sudah sampai ke Rumahnya. Badan Anna terasa remuk. Rasa sakit di dada nya terus bergulir. Dia ingin mengambil obat, namun tidak ia lakukan. Anna berpikir, jika ia pingsan, ia dapat melihat Zion. Dia terlalu nekat hanya untuk seorang Zion. Dia tak peduli dengan yang lainnya. Anna hanya merindukan sosok itu. Dan tiba-tiba pandangannya mulai menggelap. Ia tak bisa mendengar suara Parta yang memanggilnya.


******************************


Anna terbangun dari pingsannya. Ia mencium aroma Lavender. Aroma yang tak terasa asing, tapi aroma tersebut bukan berasal dari Rumah Sakit. Pandangannya agak kabur, namun ia mendengar suara Jonathan dengan seseorang. Ia terlalu lemah memaksakan diri untuk melihat siapa yang bersama dengan kakaknya.


"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" Tanya Jonathan. Dokter muda bernama Steven itu hanya bisa menggeleng.


"Keadaannya lebih buruk. Ia semakin melemah. Sebaiknya, Anda harus bersiap-siap untuk kemungkinan yang terburuk." Terang dr. Steven. Jonathan menarik nafas panjang. Anna mendengar sesuatu yang tak ingin ia dengar. Ia begitu sedih. Anna tak mengira akan seburuk itu. Ia bertahan agar tak mengeluarkan air mata.


"Anna, kamu tidak boleh mati dulu. Jika, kau mati, semua rencanaku akan berantakan." Batin Jonathan. Ia mengepal kedua tangannya. Sementara itu, dokter Steven hanya bisa memberikan resep obat yang lebih tinggi dari obat yang biasa ia minum, namun efek samping dari obat tersebut juga jauh lebih berbahaya.


Keesokan harinya....


Anna terbangun dengan perasaan sedih. Ia berpikir sebelum ia mati, ia harus bertemu dengan Zion. Setidaknya, ia ingin menyatakan perasaannya bahwa ia mencintai pria tersebut. Ia mengumpulkan segala kekuatan yang ia miliki untuk Zion. Rasa cinta nya terhadap Zion mampu mengembalikan tenaganya yang hilang. Namun, saat ia bergegas turun dari ranjang, Jonathan masuk kedalam kamar Anna.


"Kak Joe!"


"Aku ingin mencari hp ku, Kak."


"Kau lupa, jika kamu sendiri yang membanting hp mu, sehingga hp mu rusak."


"Hp ku benar-benar rusak? Itu tidak mungkin." Raut kesedihan terpancar pada wajah cantik nya. Ia mengingat isi dari WhatsApp yang ia kirim untuk Zion kemarin. Saat itu, Anna hanya marah, namun ia tidak bersungguh-sungguh ingin mengakhiri hubungan dengannya.


"Ada apa? Kau terlihat panik." Tanya Jonathan.


"Kak, biarkan aku mengecek hp ku."


"Aku suruh Pak Parta untuk membawa hp mu ke Service hp."


"Apa? Kak, aku mohon biarkan aku melihatnya. Berikan padaku, hp itu." Tutur Anna.

__ADS_1


"Hmm... Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan menyuruh Pak Parta mengambil kembali hp mu!"


"Terima kasih, Kak." Anna tak sabar melihat balasan dari Zion. Ia menunggu Jonathan untuk memberikan informasi mengenai handphone nya saat ini. Tak lama, Jonathan kembali.


"Gimana, Kak?"


"Jangan khawatir! Aku sudah menyuruh Pak Parta untuk mengambil hpmu. Mungkin, membutuhkan waktu sekitar 20 menit."


"Terima kasih, Kak Joe." Ucap Anna terharu. Berselang waktu kurang lebih 20 menit, sama seperti yang dikatakan oleh Jonathan, Parta memberikan hp Anna pada Jonathan di Kamar Anna. Anna terlihat senang, saat ia menyentuh handphone nya, akan tetapi raut wajahnya kecewa. Ia melihat layar ponsel nya pecah. Ia tak menyangka akan separah itu. Anna mengutak-atik ponselnya. Namun, itu tak menyala. Ia hampir putus asa. Tak tahu harus berbuat apa. Ia menatap Jonathan sambil memikirkan ide.


"Kak, ijinkan aku untuk meminjam hp kakak."


"Sebenarnya siapa yang ingin kamu hubungi? Mungkin, aku bisa membantumu.


"Tidak, kak. Aku akan melakukan nya sendiri."


"Bukankah kamu harus banyak istirahat Anna, tolong dengarkan kakakmu ini!"


"Tidak, Kak. Aku hanya ingin menghubungi sendiri. Aku... Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya." Semua pertahanan yang ia lakukan, akhirnya runtuh. Air mata nya keluar begitu saja. Ia tak kuasa menahan lagi. Ia tak sanggup. Hatinya begitu rapuh. Sungguh tersiksa perasaan yang ia miliki untuk Zion. Selama ini, Anna kuat dan bisa menahan segala penderitaan yang ia alami, namun hatinya terlalu rapuh untuk kehilangan cinta.


"Baiklah. Jangan menangis, Anna! Aku tidak sanggup melihatmu menangis." Ujar Jonathan.


"Tunggu sebentar, ya! Aku akan mengambil hp ku dikamar." Ujar Jonathan. Anna mengangguk lemah. Lima menit kemudian, Jonathan datang dengan membawa ponsel.


"Ini."


"Terima kasih, Kak." Anna menekan nomor Zion. Ia sangat hafal pada nomor tersebut. Anna berpikir, sebentar lagi bisa mendengar suara yang ia rindukan. Akan tetapi, Anna kecewa karena nomor tersebut tak dapat dihubungi. Ia berkali-kali menghubungi nomor Zion, tapi tidak ada perubahan. Pikiran nya kacau bersamaan dengan jalan hatinya. Hanya ada satu cara untuk mengetahui segalanya, ia harus bertemu dengannya. Tak butuh waktu lama, ia berusaha bangun untuk mengumpulkan segala kekuatan yang ia miliki. Ia melepas selang infus.


"Mau kemana, Anna? Kamu masih perlu banyak istirahat. Tubuhmu masih lemah."


"Aku ingin menemuinya. Aku bahkan tak peduli, walau ini adalah terakhir kali. Setidaknya, sebelum aku mati, aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Jadi, tolong jangan halangi aku!" Ujar Anna. Jonathan curiga, jika Anna mendengar pembicaraannya dengan dr. Steven. Akan tetapi, tubuh Anna terlalu lemah. Kepalanya pusing dan pandangannya menghilang.

__ADS_1


__ADS_2