Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 64 Racun


__ADS_3

Zion mengepalkan tangan ia tak menyangka kalau hingga saat ini Anna tak sadarkan diri. Sudah dua jam ia tunggu, namun dokter belum keluar dari ruangan Anna.


Jay datang dengan hati yang kacau. Ia juga kesal apa yang terjadi pada Anna. Pria itu menunggu, berusaha tenang. Sementara itu, Wilson menepuk pundak Zion untuk menenangkan cucunya.


"Tuan!" panggil Darion seketika. Ia datang dengan sejumlah informasi.


"Gimana? Kamu sudah menemukan jejak Jonathan?" tanya Wilson.


"Maaf, tuan. Saya tidak bisa menemukannya."


"Kerjaanmu sama sekali tidak becus!" seru Zion sambil mencengkeram kerah baju Darion. Pria itu hanya menunduk, ia tahu dirinya bersalah.


"Hei, hentikan bocah nakal!" ujar Wilson sembari melepaskan cengkeraman Zion.


"Apa kamu menemukan sesuatu yang lain?" tanya Wilson.


"Iya, tuan."


"Apa yang kamu temukan?" tanya Wilson.


"Saya menemukan benda ini, tuan," ucap Darion sambil memberikan benda yang ia temukan pada Wilson.


"Bukankah itu bros baju?" timpal Jay.


"Apa ini punya Jonathan?" tanya Wilson, seraya memperhatikan bros itu.


"Aku rasa bukan, kakek. Aku tidak pernah melihat Jonathan memakai bros," celetuk Zion.


"Mungkinkah Jonathan sengaja menjatuhkan benda itu agar memberikan kita umpan untuk menangkap kita?" ujar Jay.


"Pikiranmu terlalu jauh. Aku rasa Jonathan tidak mungkin melakukan hal itu," timpal Zion.


"Apa yang dikatakan Jay masuk akal. Mungkin orang itu sengaja menjatuhkan, tetapi orang itu bukan Jay," ucap Wilson.


"Tetapi dengan benda ini, kita tidak akan menemukan sesuatu. Untuk melacak benda, tidaklah mudah," ujar Jay.


"Ah, sial!" ucap Zion kesal. Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan Anna. "Gimana dokter dengan keadaannya?" tanya Zion cemas.


"Ini kasus yang aneh. Saya tidak pernah menjumpai yang seperti ini,"


"Dokter, kalau ngomong itu yang jelas!" seru Zion.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, dokter?" tanya Jay. Pria itu mencoba menahan Zion. Ia tahu emosi Zion tidak stabil. Ia takut jika Zion melukai dokter tersebut.


"Setelah kami periksa, kondisi tubuhnya tidak bisa di pastikan dengan jelas. Tidak ada sejenis penyakit seperti apa yang dialami nona Anna. Kami sudah memeriksa kesekian kalinya, hasilnya tetap sama."


"Lalu, kamu tidak tahu apa yang terjadi dengannya?" tanya Zion, mengerutkan kening.

__ADS_1


"Saya menemukan sesuatu ditubuhnya. Dan kemungkinan itu disebabkan oleh racun."


"Racun?" ucap Jay memastikan apa yang didengarnya.


"Apa dokter yakin itu racun?" tanya Wilson.


"Saya sangat yakin, tuan."


"Didunia ini masih ada ya yang menggunakan metode racun?" ujar Jay.


"Mungkinkah racun itu?" gumam Wilson.


"Apa kakek tahu sesuatu?" tanya Zion yang mendengar perkataan Wilson, walau suaranya pelan.


"Kalau tidak salah, ada satu orang yang menggunakan racun untuk melemahkan atau membunuh seseorang."


"Mungkin yang dimaksud tuan adalah dia?" tanya Darion ragu.


"Ternyata kamu ingat dia. Dia bukan orang yang mudah untuk ditangani," ucap Wilson.


"Kakek katakan padaku, siapa sebenarnya orang itu!" seru Zion, ia tak sabar.


"Namanya Zeus."


"Zeus? Siapa dia? Aku tidak pernah mendengarnya," celetuk Zion.


"Kalau memang itu Zeus, mungkin orang yang menyuruhnya adalah dia?"


"Dia siapa, kakek?" tanya Zion.


"Nakashima Rieyu. Dia adalah orang yang paling berpengaruh di Jepang. Kemungkinan, orang itu yang menyuruh Zeus untuk menyuntikkan racun kedalam tubuh Anna," terang Wilson.


"Lalu apa hubungannya dia dengan Anna? Kenapa orang semacam itu bisa menargetkannya?" tanya Jay tak mengerti. Banyak hal yang sulit ia cerna didalam pikirannya.


"Mungkinkah orang yang dibelakang Jonathan selama ini adalah pria itu?" terka Zion.


"Itu yang kakek pikirkan. Kalau memang itu dia, pantas saja selama ini aku merasa kesulitan untuk mencari tahu latar belakang Jonathan."


"Aaagh!" Zion mengacak-acak rambutnya.


"Bagaimana mungkin mereka saling mengenal?" tanya Jay.


"Mencari tahu itu tidak penting. Yang terpenting saat ini harus menemukan penawar racun untuk Anna," timpal Zion.


"Penawarnya ada pada Zeus, tuan muda," ujar Darion.


"Kenapa ada pada.. Tunggu! Maksudmu dia sendiri yang membuat racunnya?"

__ADS_1


"Benar, tuan muda. Semua racun yang dimiliki Zeus itu adalah buatannya sendiri. Dia adalah ahli racun."


"Itu artinya, penawar racunnya hanya ada pada dia," celetuk Jay.


"Kalau begitu, kita harus berpencar untuk mencari keberadaan Zeus," ucap Zion.


"Sepertinya, ada satu orang yang tahu dimana dia berada, tuan."


°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°


Hari ini karyawan J group pulang lebih awal, dikarenakan Marinka membuat peraturan seperti itu. Tiap hari jumat dan sabtu jam bekerjanya menjadi setengah hari. Peraturan yang konyol untuk perusahaan, terlebih lagi J group salah satu perusahaan besar.


Marinka tak mau ambil pusing. Ia ingin meniru kehidupan wanita kaya lainnya, yang menghabiskan uang untuk berbelanja. Dan semua uang belanjaannya ia ambil dari uang perusahaan. Bagaimana perusahaan bisa maju dengan pemimpin seperti itu?


Hari ini ia tidak ingin waktunya diganggu. Wanita itu memanfaatkan waktu para karyawan pulang bekerja bukan hanya untuk berbelanja saja. Tetapi ia juga ingin menikmati kuliner, pemandangan, dan semua keindahan yang belum ia rasakan.


"Ini seperti mimpi. Kenapa gak daridulu saja hidupku begini? Jadi, aku gak perlu memakai tanganku untuk mengotori hal yang lainnya," batin Marinka.


"Hidupmu luarbiasa ya?" sindir Darion yang mengikuti Marinka. Pria itu tersenyum sinis.


"Wah, aku punya stalker sejati ya? Mau foto denganku? Aku kasih gratis. Mumpung aku lagi memakai pakaian bagus,"


"Hebat ya kamu, hidup sesenang itu di atas penderitaan orang lain. Seseorang sedang berjuang untuk bertahan hidup, tidak seperti kamu, seakan tidak pernah memikirkan nasib burukmu," ujar Darion, ekspresi wajahnya berubah datar.


"Haruskah aku memikirkan orang lain? Aku suka kehidupanku dengan sekarang. Dibandingkan harus membunuh orang, inilah yang kuimpikan dari dulu," ucapnya enteng. Darion mengepalkan kedua tangan.


"Kalau begitu, bagaimana dengan ini?" Darion menunjukkan pistol yang ia sembunyikan dari balik bajunya. Ia tidak mungkin langsung menekan pistolnya karena banyak orang di sekitarnya.


"Kamu sudah mempersiapkannya, ya? Aku yakin kamu kesini bukan untuk membunuhku. Kamu memiliki tujuan lain, kan?"


"Ikutlah denganku atau aku akan membuat mulutmu sama kayak waktu itu!" ancam Darion.


"Hari ini aku lagi baik hati. Aku akan ikut bersamamu dengan damai," ucap Marinka, wanita itu sedang merencanakan sesuatu. Darion curiga karena Marinka tidak bersikap seperti biasanya.


Ketika Darion lengah, disaat itulah Marinka mengeluarkan bubuk cabe yang ia bawa. Namun, langkahnya terhenti, saat seseorang membuang bubuk cabek itu. Darion kaget ketika melihat Terra yang berada dibelakangnya.


"Mau berbuat curang?" Terra memelintir tangan Marinka dengan kuat. Wanita itu menatap Terra tajam.


"Siapa perempuan ini? Apa dia dikirim diam-diam untuk membantu Darion?" batin Marinka.


Marinka berusaha melawan, namun Terra memegang kedua tangan Marinka, lalu menguncinya. Beberapa orang menyaksikan mereka. Darion tak bisa tinggal diam.


"Sepertinya dia memakai barang-barangmu lagi, ya?" ucap Darion memberi kode pada Terra.


"Benar. Dia sudah memakai baju dan tasku. Harusnya aku tidak mengeluarkannya dari rumah sakit jiwa," celetuk Terra yang mengerti situasinya. Orang-orang yang tadi melihatnya tidak mempedulikan lagi. Mereka mengira Marinka itu wanita gila yang keluar dari rumah sakit jiwa.


"Ayo, kita bawa ke rumah sakit jiwa lagi!" ujar Darion.

__ADS_1


"Sial! Awas kalian ya, berani mengataiku gila!" batin Marinka.


__ADS_2